http://kontaktokoh.multiply.com/journal/item/87
| M. Al Khaththath : Fitnah kepada Islam dan Umatnya |
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “fitnah” berarti perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan beberapa makna seperti daya tarik, wibawa, guna-guna, sihir, godaan, kegaduhan, huru-hara, cobaan, dan ujian. Al Quran menggunakan kata “fitnah” (nakiroh) dalam 21 ayat, dan kata “al fitnah” (ma’rifat) pada 6 ayat dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteks ayat. Salah satu di antaranya kata “al fitnah” yang disebut sebagai “lebih besar daripada pembunuhan” sebagaimana disebut dalam QS. Al Baqarah 217 (al fitnah akbaru minal qatl). Allah SWT berfirman:
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh… (QS . Al Baqarah 217).
Penulis Fathul Qadir memberikan makna kata “al fitnah” dalam ayat tersebut antara lain: kekufuran, pengusiran penduduk (Rasulullah da kaum muslimin) al haram, fitnah yang dialami kaum dluafa di antara orang-orang mukmin di Mekkah yang dibinasakan karena mempertahankan agamanya.
Ayat di atas turun setelah pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy yang diutus Rasulullah saw. untuk mengintai pergerakan orang-orang Quraisy di antara Thaif dan Mekkah telah menyerang rombongan Quraisy, menewaskan sebagian orang Quraisy itu dan menawan sebagian yang lain. Itu terjadi pada akhir bulan Rajab, salah satu bulan haram.
Kejadian tersebut dijadikan bahan propaganda hitam (black campaign) oleh orang-orang Quraisy dan didukung kekuatan Yahudi untuk memojokkan kaum muslimin. Namun turunnya ayat tersebut justru memberikan klarifikasi kepada mereka bahwa tindakan pasukan Abdullah bin Jahsy dibenarkan oleh Allah SWT. Penulis tafsir Fathul Qadir mengatakan seolah Allah SWT berfirman: “Wahai kaum kafir Quraisy, kalian sungguh membesar-besarkan perang di bulan haram, padahal apa yang kalian lakukan berupa menghalang-halangi orang yang ingin masuk Islam; kalian kufur kepada Allah; dan kalian menghalang-halangi ornag masuk masjidil Haram; maupun kalian mengusir para penduduk al haram dari kota tersebut; semua itu lebih besar haramnya di sisi Allah”.
Dengan demikian fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin karena agama mereka dan dimaksudkan untuk memutuskan hubungan mereka dengan agama mereka. Fitnah inilah yang akan terus dilancarkan oleh orang-orang kafir hingga kaum muslimin murtad, yakni meninggalkan Islam dan kembali kepada kekufuran (QS. Al Baqarah 217).
Fitnah inilah yang kini dilancarkan dalam bentuk terror dan serangan militer oleh Israel, Amerika, Rusia, dan negara-negara kafir lainnya atas kaum muslimin di Palestina, Irak, Afghanistan, Checnya, Rohingya, Pattani, Moro, Kashmir, dan bagian dunia Islam lainnya.
Fitnah inilah yang dilancarkan oleh antek-antek AS dan sekutu baratnya di seluruh dunia Islam, termasuk di Indonesia, kepada para pejuang Islam yang bergerak dengan berbagai macam bentuk organisasi dakwah dan harakahnya. Cap-cap fitnah untuk menghancurkan perjuangan penegakan syariat Islam dan para pejuangnya telah dibuat dan disebarkan: ekstrimis, fundamentalis, radikalis, anarkis, teroris, preman berjubah, dan berbagai cap buruk lainnya.
Upaya pembubaran dan pemberangusan dengan berbagai alasan pun mereka lakukan. Dalam kasus terror opini dan politik untuk membubarkan FPI baru-baru ini mereka mempropagandakan kasus Banyuwangi sebagai kekerasan FPI yang layak dibubarkan. Tentu tujuannya adalah agar tidak ada umat lagi yang punya kekuatan untuk menggerakkan amar makruf nahi mungkar dan tidak ada lagi yang berani berjuang untuk mengembalikan kedaulatan syariat Allah di bumi pertiwi ini.
Kiranya Allah mengingatkan kepada kita terhadap QS. Al Baqarah ayat 217 di atas. Dengan memahami konteks ayat di atas, kita bisa menyatakan bahwa: “Segala makar yang mereka buat untuk menghapus gerakan Islam dan perjuangan untuk menegakkan syariat Allah di bumi pertiwi ini jauh lebih besar dosanya daripada berbagai tindakan “anarkis” yang dilakukan oleh anggota FPI dan ormas-ormas Islam lainnya yang selalu mereka besar-besarkan sambil melupakan anarkisme yang extra ordinary yang dilakukan oleh para pendukung calon pilkada yang kalah sebagaimana kasus Tuban dan Mojokerto maupun berbagai anarkisme yang dilakukan berbagai kelompok lainnya”.
Kiranya FPI dan berbagai ormas Islam lainnya, para ulama, habaib, pimpinan pondok pesantren, majelis-majelis taklim, dan berbagai simpul umat Islam wajib mencatat siapa-siapa yang terlibat di dalam membuat fitnah kepada Islam dan umat Islam di negeri ini untuk disikapi secara bersama dan proporsional. Agar tidak ada lagi fitnah-fitnah keji tersebut dan umat Islam bisa menjalankan syariat agamanya dengan tenang. Wallahua’lam!
| http://www.facebook.com/notes/dakwah-semua-umat/fitnah-dan-ciri-ciri-dajjaal/128733634558 | |||||
Fitnah dan Ciri-ciri Dajjaalby Dakwah Semua Umat on Monday, 07 September 2009 at 02:52 Kita sekarang berada di akhir zaman. Kiamat sudah dekat. Salah satu tanda kiamat adalah munculnya Dajjaal. Ada Dajjaal yang sebenarnya sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dan ada pula anak buah Dajjaal atau orang-orang yang memiliki karakter seperti Dajjaal. Keduanya senantiasa menimbulkan fitnah, kerusakan, dan penyesatan. Proyek perusakan dan penyesatan mereka, kadang begitu gamblang menyolok mata. Kadang dibungkus dengan berbagai macam alasan yang masuk akal. Bagi umat Islam yang memahami Islam atau belajar tentang Islam, pasti mendengar berita tentang Dajjaal. Karena hadits yang membicarakan tentang Dajjaal sangat banyak dan kebenaran beritanya sampai ke tingkat mutawattir (periwayatan hadits yang disampaikan oleh orang banyak dari satu generasi ke generasi berikutnya). Dan hadits mutawwatir dipastikan kebenarannya dan tidak ada yang mengingkarinya dari kalangan ulama. Datangnya Dajjaal yang kemudian berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa a.s., merupakan salah satu tanda-tanda dari hari kiamat. Bahkan Nabi Isa a.s. bukan hanya membunuh Dajjaal, tetapi menghancurkan salib dan memerangi orang-orang kafir. Nabi Isa a.s. pada saat itu menjadi pemimpin yang adil dan mengikuti syariat Nabi Muhammad saw. Berita tentang turunnya Dajjaal dan Nabi Isa a.s. adalah aqidah yang harus diyakini oleh umat Islam secara keseluruhan, karena bersumber dari hadits shahih dari Rasulullah saw. Begitu besarnya bahaya fitnah Dajjaal, sampai Rasulullah saw. memerintahkan kepada umatnya untuk senatiasa berdoa dalam setiap shalat agar terbebas dari fitnah tersebut. Beliau bersabda, “Jika kalian membaca tasyahud, maka berlindunglah dari empat hal, yaitu berkata: ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah al-Masih ad-Dajjaal.’” (HR Muslim) Arti Dajjaal Dajjaal menurut bahasa berasal dari kata dajala, berarti berdusta dan menutup. Dajala haq bil batil artinya menutupi atau mencampuradukkan yang hak dengan yang batil. Disebut dajjaal karena menutupi kebenaran dengan kata-kata dustanya. Dajjaal berarti seorang yang sangat pendusta dan menutupi kebenaran. Sedangkan Dajjaal yang disebutkan dalam hadits adalah satu mahluk khusus sebangsa manusia yang akan muncul di hari-hari menjelang kiamat, memfitnah manusia, dan mempunyai karakteristik khusus. Hadits-hadits tentang Dajjaal Disebutkan dalam hadits- hadits Rasulullah saw.: “Selain Dajjaal lebih aku takuti atasmu dari dajjaal. Jika Dajjaal keluar dan aku berada di hadapan kalian, maka aku melawannya membela kalian. Tetapi jika ia keluar dan aku tidak di antara kalian, maka setiap orang membela diri sendiri. Allah akan melindungi setiap muslim. Dajjaal adalah pemuda berambut keriting, mata (kirinya) menonjol, seperti saya umpamakan dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Siapa yang menjumpainya, maka bacalah awal surat al-Kahfi. Dajjaal akan keluar di antara jalan Syam dan Irak. Berjalan membuat kerusakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah, tetap teguhlah (pada ajaran Islam).” (HR Muslim) “Setiap negeri pasti didatangi Dajjaal, kecuali Mekkah dan Madinah.” (HR Muslim). “Mengikuti Dajjaal 70 ribu orang-orang Yahudi dari Asbahan yang memakai topi.” (HR Muslim). “Setiap Nabi pasti memperingatkan kaumnya dengan si buta pendusta. Ingatlah bahwa Dajjaal adalah buta, dan Rabb kalian Azza wa Jalla tidak buta. Dajjaal ditulis di antara dua matanya k f r (kafir).” (Muttafaqun alaihi). “Maukah aku ceritakan berita tentang Dajjaal, sesuatu yang pernah diceritakan setiap nabi pada kaumnya. Dajjaal adalah buta, dia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Apa yang dikatakan surga adalah neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi). “Dajjaal akan muncul pada umatku, maka ia hidup selama 40 (saya tidak tahu apakah 40 hari, atau bulan atau tahun). Kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam, ia seperti Urwah bin Mas’ud. Maka Isa as. mencari Dajjaal dan menghancurkannya. Kemudian Isa tinggal bersama manusia 7 tahun, tidak akan terjadi permusuhan di antara dua kelompok.” (HR Muslim). “Perang besar, pembukaan kota Konstantinopel dan keluarnya Dajjaal (terjadi) dalam 7 bulan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) Ciri-Ciri Dajjaal Banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik Dajjaal yang akan datang di akhir zaman. Dan dari beberapa hadits di atas dapat disimpulkan tentang sifat dan karakteristik Dajjaal adalah: ¨ Mahluk dari bangsa manusia keturunan Yahudi. ¨ Ciri khas fisiknya: berambut keriting, mata kanannya buta, mata kirinya menonjol, di antaranya tertulis kafir. ¨ Senantiasa berdusta dan menipu manusia agar menjadi kafir dan menjadi pengikutnya. ¨ Aktivitasnya membuat kerusakan di bumi. ¨ Pengikut setianya orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir. ¨ Senantiasa keliling dunia, kecuali Mekkah dan Madinah. ¨ Datang membawa keajaiban yang dapat menyihir dan menipu manusia, dengan harta, kekuasaan, dan wanita. ¨ Dajjaal akan berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa a.s. Namun, di samping Dajjaal yang sebenarnya, Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya akan bahaya orang-orang yang memiliki sifat Dajjaal. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. bersabda : “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai munculnya Dajjaal-Dajjaal pendusta sekitar 30 orang, semuanya mengaku utusan Allah.” (HR Muslim). “Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajjaal, yaitu para pemimpin yang sesat.” (HR Ahmad). Fitnah Dajjaal Dajjaal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang beriman menjadi sesat dan kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjaal yang sebenarnya, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjaal. Oleh karena itu umat Islam juga harus mewaspadainya. Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat berbahaya karena datang pada setiap tempat dan waktu. Sedangkan Dajjaal akan datang hanya menjelang hari kiamat. Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjaal tingkat bahayanya lebih kuat dari Dajjaal yang sebenarnya. Namun keduanya adalah fitnah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim. Para pemimpin di sepanjang masa selalu ada yang menjadi musuh para nabi dan para dai yang mengajarkan kebenaran. Dari mulai Raja Namrud, Fira’aun, dan Abu Jahal, sampai pemimipin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang membantai dan menghancurkan negeri muslim, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang menimbulkan fitnah, menebar kesesatan, dan membuat kerusakan di dunia. Fitnah Dajjaal, baik yang sebenarnya maupun para pemimpin yang memiliki sifat Dajjaal, adalah bahaya laten yang harus dihadapai umat Islam. Fitnah Dajjaal membuat umat Islam menjadi sesat dan kafir. Dan umat Islam dapat saling bunuh karena fitnah Dajjaal tersebut. Dajjaal memutarbalikan fakta, sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram. Fitnah tersebut didukung dengan dana, media masa, dan oknum-oknum yang memang telah sesat. Lebih dahsyat lagi Dajjaal didukung lembaga internasional dan negara-negara adidaya. Fitnah yang paling bahaya dari Dajjaal adalah yang keluar dari mulutnya. Dan fitnah ini didukung media masa dan disebarkan keseluruh penduduk dunia. Masuk ke rumah-rumah keluarga muslim dan menyesatkan mereka. Dajjaal –baik yang sebenarnya atau yang mirip-mirip– senantiasa mengucapkan kata-kata yang membuat manusia sesat dari agama Allah. Dajjaal senantiasa memproduk ungkapan sesat, batil, dan kontroversial. Sehingga kebenaran menjadi kabur dan tidak jelas, sedangkan kebatilan seolah-olah indah dan menarik. Kebenaran selalu ditutup-tutupi dan dibungkus dengan dusta. Syariat Islam dianggap kejam dan tidak manusiawi, sedangkan nilai-nilai sekular dianggap baik, adil, dan paling cocok untuk kehidupan di era modern. Nilai-nilai agama dijauhkan dan direduksi dari kehidupan sosial dan kenegaraan. Bid’ah dianggap sunnah dan sunnah dianggap bid’ah. Umat Islam dicap fundamentalis, ekstrem, dan teroris; sedangkan non-muslim dianggap humanis, baik, dan demokratis. Apakah Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal? Disebutkan dalam hadits: Dari Abdullah berkata, kami bersama Rasulullah saw. maka kami melewati anak-anak, di antaranya Ibnu Shayyaad. Anak-anak lari, sedangkan Ibnu Shayyaad tetap duduk. Seolah-olah Rasulullah saw. tidak suka padanya. Rasuullahl saw. berkata padanya: ”Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw.?” Ibnu Shayyaad berkata: ”Tidak, tapi apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw.“ Berkata Umar, ”Wahai Rasulullah saw., biarkanlah aku membunuhnya.” Rasulullah saw. berkata: ”Jika benar yang engkau lihat (adalah Dajjaal), maka engkau tidak akan bisa membunuhnya.” (HR Muslim) Rasulullah saw. tidak memastikan bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal yang dimaksud itu, walaupun demikian beliau juga membiarkan dan tidak menafikan ketika sebagian sahabat bersumpah bahwa dia adalah Dajjaal. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah Ibnu Shayaad adalah Dajjaal? Memang ketika Rasulullah saw. menyebutkan sifat-sifat Dajjaal yang akan muncul menjelang hari kiamat, di antaranya bahwa Dajjaal adalah kafir dari keturunan Yahudi, tidak akan memasuki Mekkah dan Madinah, dan tidak punya anak. Sedangkan Ibnu Shayaad mengaku muslim, walaupun dari keturunan Yahudi. Dia lahir di Madinah, mempunyai orang tua, dan punya anak. Dan Ibnu Shayyaad sempat berangkat haji menuju Mekkah bersama Abu Said al-Khudri. Ilmu secara pasti tentang Ibnu Shayyaad Dajjaal atau bukan, hanyalah Allah yang tahu. Tetapi dari isyarat Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya, maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa Ibnu Shayyaad salah seorang yang memiliki sifat Dajjaal. Dia ahli sihir, dukun, dan mengaku banyak tahu tentang masalah ghaib. Sehingga, ketika sebagian sahabat bersumpah, diantaranya Umar bin Khattab bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal, Rasulullah saw. tidak menafikannya. Wallahu Alam. Kiat-kiat Menghadapi Fitnah Dajjaal Untuk menghadapi fitnah Dajjaal, maka umat Islam harus berjihad melawan kebatilan. Ulama harus menjelaskan kepada umat antara yang hak dengan yang batil agar mereka tidak menjadi bingung dan tidak tersesat. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya jihad adalah perkataan yang benar pada penguasa yang sesat.” (HR Ahmad). Seluruh bentuk fitnah harus dilawan oleh umat Islam. Fitnah kemusyrikan, fitnah pelecehan terhadap kehormatan Nabi saw., fitnah pembunuhan, fitnah pornografi dan pornoaksi, fitnah pelecehan terhadap Islam dan umat Islam, dan fitnah lainnya. Dan fitnah itu harus dilawan dengan semua bentuk kekuatan yang dimiliki dan bisa dimiliki umat Islam sehingga Islam menjadi ajaran yang eksis di muka bumi ini. Allah swt. berfirman: ”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39). Sedangkan kiat praktis yang harus dilakukan oleh umat Islam, yaitu senantiasa membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya. Khususnya surat Al-Kahfi. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang hapal 10 ayat pertama surat al-Kahfi, maka dia selamat dari Dajjaal” (HR Muslim). |
Dipetik daripada :
http://sejarahstpm.blogspot.com
Sunday, 24 April 2011
Fitnah dan Hasutan Dalam Sejarah Pemerintahan Empayar Islam : Satu Tinjauan Ringkas
Dipetik daripada :
http://mutiaraislam.wordpress.com/
“….. dan perbuatan fitnah itu lebih dasyat kesannya dari perbuatan membunuh …..”
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjauhkan buruk sangka, kerana buruk sangka itu setengah daripada dosa besar, janganlah kamu mengintai dan janganlah kamu mencerca serta mengumpat, setengah kamu akan setengah lain. Apakan kamu suka memakan dangging saudara kamu yang telah mati? Nescaya kamu takut kepada Allah bahawasanya Allah itu Penerima taubat”.
(Surah “al-Hujurat: Ayat 12)
“Wahai orang yang beriman dengan lisannya shaja dan meimanannya itu meresap kedalam hatinya, janganlah kamu mengumpat kaum Muslimin, janganlah pula menjejaki keburukan mereka, sesiapa yang menjejaki keburukan mereka maka Allah SWT akan menjejaki keburukannya dan barangsiapa yang dijejaki kerburukannya oleh Allah SWT maka Allah SWT akan menyingkap keaibannya sekalipun ia berada di dalam rumah”.
(Riwayat: Abi Barzah al-Aslami R.A.)
“Bahawasanya Allah SWT tidak suka kepada orang yang bersifat takbur”.
Dipetik daripada :
http://bengkelrohani.blogspot.com/2010/11/budaya-fitnah-menghancurkan-umat-islam.html
Wednesday, November 17, 2010
Budaya Fitnah Menghancurkan Umat Islam
Kita tak tahu andaikata di akhir hayat seorg pencuri atau pelacur itu entah-entah dia sudahpun insaf sedang menuju ke arah masjid utk bertaubat tp mati kemalangan di dlm perjalanan. Di mulut kita pantas meluncur kata "Tengok tu, di dunia buat dosa, mati pun Tuhan hina!" sedangkan di waktu itu kita tidak tahu entah2 sang malaikat sedang mengukur jarak drp tempat mati beliau ke masjid lebih dkt berbanding tempat maksiat yang ditinggalkannya itu. Kita ambil iktibar juga kisah pelacur memberi minum air kpd anjing (yg telah diabadikan dlm video klip maher zain the chosen one (2:13), yg saya rasakan sbg video klip terbaik utk kurun ini).
Sila ambil perhatian... Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu. Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.
Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri penyebar fitnah dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah menjadi muflis di akhirat nanti. MAKA SIA-SIALAH SEGALA AMAL IBADAT SEMBAHYANG, PUASA, BERZAKAT, HAJI dll.
Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui
Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12). Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu laporan palso dan berita yang berunsur fitnah.

Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu. Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah Saidina Uthman bin Affan yang berpunca daripada FITNAH.
Penyebaran fitnah turut menjadi faktor kehancuran dan penyebab kepada perselisihan malah telah mencetuskan peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali. Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Ibn katsir di dalam Bidayah wan Nihayah, jumlah korban Perang Jamal ialah 10,000 orang manakala Perang Siffin ialah 60,000 orang. Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah.
Bagi yang diuji dengan fenomena hebah dan fitnah ini, antara cara yang turut dicadangkan oleh nabi Muhammad SAW ialah duduk diam sahaja. Ini berdasarkan sepotong hadith sahih riwayat Bukhari dan Muslim seperti berikut:
انها ستكون فتنة القاعد فيها خير من القائم و القائم خير من الماشي و الماشي خير من الساعي
Sesungguhnya akan terjadi fitnah, orang yang duduk (diam) adalah lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri adalah lebih baik daripada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan adalah lebih baik daripada orang yang berlari.
Bayangkan berapa puluh tahun fitnah drpd zaman Saidina Uthman berpanjangan sehingga membawa terbunuhnya Saidina Hasan cucu kesayangan Nabi. Betapa maha besarnya dosa yang perlu ditanggung oleh si pembuat fitnah dan juga oleh penyampai2 fitnah. Begitulah juga besarnya dosa orang yang mereka2 cerita dan membuat fitnah di laman sosial dan blog, lalu diperpanjangkan oleh pembaca blog dan status beliau, samada dengan sengaja ataupun tanpa niat (sekadar berbual kosong berkongsi apa yg dibaca di laman sosial) selagi mana fitnah itu berjalan maka selagi itulah dosa akan ditanggung oleh pembuat fitnah dan juga si penyampai, bayangkan kalau cerita palsu itu berpanjangan sehingga ke anak cucu..! Wal-'iyazubillah..
Oleh yang demikian, sekiranya kita menjadi mangsa fitnah, lalu kita membalas dendam dengan melakukan fitnah yang serupa, percayalah bahawa tindakan itu adalah satu kesilapan besar dan tidak langsung menyelesaikan masalah. Kita mungkin puas memfitnah orang lain dalam ucapan dan tulisan kita dalam blog ataupun laman sosial sebagai contohnya, akan tetapi tulisan itu akan terus kekal diingati sama seperti kekal degilnya sikap kita yang enggan memaaf dan melupakan kesalahan orang lain bahkan terus
menyuburkan lagi sifat mazmumah dan nafsu amarah di dalam diri.Fikir-fikirkanlah, sebelum menghantar SMS, e-mel ataupun respon di dalam laman sosial seperti Facebook. Lebih dahsyat lagi hingga ke tahap membuat profil palsu di dalam Facebook untuk memburuk-burukkan peribadi individu. Ini bukan ciri-ciri pejuang dan pencinta kebenaran. Jika masyarakat Islam sendiri boleh berselisih dan berperang sesama sendiri kerana fitnah, apatah lagi masyarakat umum? Sudahnya umat Islam jualah yang akan rugi.. Marilah kita mengambil berkat tahun baru hijrah untuk mengubah sikap dan menjauhkan budaya fitnah yang sangat menghancurkan umat Islam ini. Moga2 Tuhan membela para pencinta kebenaran di mana jua mereka berada...
********************************************
Dipetik daripada :
http://rapsodeeperjuangan.blogspot.com/2009/06/hadith-pilihan-minggu-ini-kerana-mulut.html
hadith pilihan minggu ini :kerana mulut badan binasa,kerana lidah..??
gambar hiasan ini cuba memahamkan pembaca
"terhadap kroniknya lidah orang yang berakal"
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Beliau juga bersabda :
“Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.
Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.
Allah berfirman :
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS.Qaaf : 18)
Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.
Sabda Rasulullah s.a.w, 'Sesungguhnya Allah s.w.t menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun.' (Riwayat Abu Daud).
berhentilah seketika merenung HATIsebagai tasdiqnya IMAN,LISAN sebagai taqrirnya FAHAM,dan ANGGOTA sebagai amalnya IKHLAS..
Sekadar coretan buat renungan bagi mereka yang mahu berfikir...
Dipetik daripada :
http://www.islamituindah.my/lidah-tentukan-langkah-manusia-ke-syurga-atau-neraka
LIDAH MENENTUKAN LANGKAH KE SYURGA ATAU NERAKA..
KATA Imam al-Ghazali, lidah antara nikmat Allah SWT yang besar dan antara ciptaan Tuhan yang amat halus dan ganjil. Lidah mempunyai bentuk yang indah, kecil dan menarik.
Selanjutnya Imam al-Ghazali berkata: “Keimanan dan kekufuran seseorang tiada terang dan jelas, selain dengan kesaksian lidah. Lidah mempunyai ketaatan yang besar dan mempunyai dosa besar pula. Anggota tubuh yang paling derhaka kepada manusia ialah lidah. Sesungguhnya lidah alat perangkap syaitan yang paling jitu untuk menjerumuskan manusia.”
Daripada kata Imam al-Ghazali itu jelas menunjukkan kepada kita besarnya peranan lidah dalam kehidupan manusia kerana lidah kita boleh masuk syurga dan kerana lidah juga boleh dihumban kita ke neraka.
Oleh kerana lidah boleh membawa kebaikan dan keburukan dalam hidup manusia, kita perlu sentiasa berwaspada menggunakan lidah sewaktu bertutur kata. Dengan kata lain, kita hendaklah bijak menggunakan lidah apabila bercakap.
Sekiranya kata yang kita ucapkan boleh menyebabkan orang yang mendengarnya sakit hati atau terguris, ia boleh mendatangkan keburukan kepadai kita. Pepatah ada mengatakan kerana mulut badan binasa.
Justeru, sebelum kita berkata sesuatu hendaklah berfikir terlebih dulu. Kita gunakan lidah untuk berkata sesuatu yang baik dan tidak sia-sia atau lebih baik lagi kita diam. Itu lebih memberi manfaat daripada kita berkata perkara yang boleh mendatangkan dosa. Sesungguhnya orang beriman tidak bercakap perkara yang sia-sia dan tiada berfaedah.
Daripada Abu Hurairah diriwayatkan Nabi Muhammad SAW bersabda yang maksudnya: “Siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya Allah benci kepada orang yang jelik budi pekertinya serta kotor lidahnya.” (Hadis riwayat Imam Tirmidzi)
Menurut Rasulullah SAW ada tiga jenis manusia, iaitu yang mendapat pahala, selamat daripada dosa dan binasa.
Orang yang mendapat pahala sentiasa mengingati Allah, berzikir, mengerjakan solat dan sebagainya. Orang yang selamat daripada dosa ialah mereka yang diam, manakala orang yang binasa sentiasa melakukan perkara mungkar, maksiat dan tidak mengawal lidahnya dengan baik.
Kita dapat mengenal peribadi seseorang daripada percakapannya. Orang yang tinggi akhlak selalunya bercakap hal yang baik saja, tidak menyakiti hati orang lain, tidak mengucapkan perkataan kotor dan tidak banyak bercakap. Mereka mengawal lidah sebaik-baiknya.
Dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi dan Ibnu Majah, Abu Hurairah menceritakan apabila Rasulullah SAW ditanya sebab terbesar yang membawa seseorang masuk syurga, Rasulullah menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Apabila ditanya pula sebab terbesar yang membawa manusia masuk neraka, maka Rasulullah menjawab, “Dua rongga badan iaitu mulut dan kemaluan.”
**************************************************
Dipetik daripada : http://yusmialfaruqi.blogspot.com/
Isnin, 4 April 2011
BAHAYA FITNAH
ASSALAMUALAIKUM WRMTULLAH WBKTH.Hadis Huzaifah r.a katanya:
Aku telah mendengar Rasullullah s.a.w bersabda:
"Tidak masuk Syurga orang yang suka menabur fitnah".
HATI adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan Allah sebagai titik untuk menilai keikhlasan dan ketulusan. Di hati lahirnya niat yang menjadi penentu sesuatu amalan diterima sebagai pahala atau sebaliknya.
Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik supaya tidak rosak, sakit, buta, keras dan tidak mati bagi mengelak penyakit masyarakat yang berpunca daripada hati.Sebagaimana yang telah dipesan oleh baginda Rasulullah saw bahawa hatilah yang menentukan kebaikan kepada akhlak yang ditonjolkan.Sekiranya baik,bersih dan hampir hatinya dengan Allah,maka akan lahirlah akhlak yang mahmudah tetapi sekiranya hati jahat,kotor dan jauh dengan Allah maka lahirlah sifat mazmumah.
Kerosakan pada hati membawa kepada kerosakan seluruh nilai hidup pada diri seseorang individu. Penyakit hati yang menyerang kebanyakan kita ialah penyakit fitnah, sama ada menjadi penyebar atau mudah mempercayai fitnah.
Perbuatan fitnah adalah sebahagian perbuatan mengadu-domba yang mudah menyebabkan permusuhan dua pihak yang dikaitkan dengan fitnah berkenaan.
Masyarakat yang dipenuhi budaya fitnah akan hidup dalam keadaan gawat. Sebelah pihak sibuk menyebarkan fitnah dan sebelah pihak lagi terpaksa berusaha menangkis fitnah itu.
Natijah akibat perbuatan itu boleh mencetus persengketaan dan mungkin berakhir dengan tragedi kerugian harta benda dan nyawa. Individu yang suka menyebar fitnah sentiasa mencari kejadian atau berita boleh dijadikan bahan fitnah.
Dengan sedikit maklumat, berita itu terus disebarkan melalui pelbagai saluran yang merebak dengan mudah. Berita sensasi, terutama berkaitan individu ternama dan selebriti mudah mendapat perhatian khalayak.
Justeru, Allah memberi peringatan mengenai bahaya fitnah. Firman-Nya yang bermaksud: "Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya."� (Surah al-Baqarah, ayat 191)
Apabila fitnah tersebar secara berleluasa, ia bermakna nilai agama sudah musnah dalam diri seseorang atau masyarakat. Islam bertegas tidak membenarkan sebarang bentuk fitnah biarpun untuk tujuan apa sekalipun.
Rasulullah SAW bersabda bermaksud:"Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, berleluasa sifat kedekut dan banyak berlaku jenayah."� (Hadis riwayat Muslim)
Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), laman web dan emel membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah.
Teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Penyebaran fitnah melalui SMS yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan.
Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah.
Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya. Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.
Firman Allah bermaksud:"Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan."� (Surah al-Hujurat, ayat 6)
Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu.
Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.
Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu.
Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.
Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:"Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah."(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.
Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan "dengar khabar" mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar.
Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Menyebarkan berita benar tetap dilarang, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.
Imam Ghazali dalam buku "Ihya Ulumuddin" menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.
Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud:"Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.� (Hadis riwayat Abu Hurairah)
Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud:"Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain."� (Surah al-Hujurat, ayat 12)
Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu.Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.
Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu.Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah juga telah membuktikan kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah.Justeru marilah kita kembali kepada landasan Islam dalam kehidupan kita berhubung sesama manusia. Ubatlah penyakit hati kita dengan memperbanyakkan taubat,menuntut ilmu agama,memperbanyakkan amal soleh dan selalu berzikir kepada Allah.Jauhilah amalan fitnah yang mampu merosakkan agama,bangsa dan negara.












