Rabu, 11 Mei 2011

FITNAH....pengundang kemudaratan, pemusnah kesejahteraan..

 Dipetik daripada : 
http://kontaktokoh.multiply.com/journal/item/87
M. Al Khaththath : Fitnah kepada Islam dan Umatnya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “fitnah” berarti perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan beberapa makna seperti daya tarik, wibawa, guna-guna, sihir, godaan, kegaduhan, huru-hara, cobaan, dan ujian.  

Al Quran menggunakan kata “fitnah” (nakiroh) dalam 21 ayat, dan kata “al fitnah” (ma’rifat) pada 6 ayat dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteks ayat.  Salah satu di  antaranya kata “al fitnah” yang disebut sebagai “lebih besar daripada pembunuhan” sebagaimana disebut dalam QS. Al Baqarah 217 (al fitnah akbaru minal qatl).  Allah SWT berfirman:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh… (QS . Al Baqarah 217).

Penulis Fathul Qadir  memberikan makna kata “al fitnah” dalam ayat tersebut antara lain: kekufuran, pengusiran penduduk (Rasulullah da kaum muslimin) al haram, fitnah yang dialami kaum dluafa di antara orang-orang mukmin di Mekkah yang dibinasakan karena mempertahankan agamanya.

Ayat di atas turun setelah pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy yang diutus Rasulullah saw. untuk mengintai pergerakan orang-orang Quraisy di antara Thaif dan Mekkah telah menyerang rombongan Quraisy, menewaskan sebagian orang  Quraisy itu dan menawan sebagian yang lain.  Itu terjadi pada akhir bulan Rajab, salah satu bulan haram.

Kejadian tersebut dijadikan bahan propaganda hitam (black campaign) oleh orang-orang Quraisy dan didukung kekuatan Yahudi untuk memojokkan kaum muslimin.  Namun turunnya ayat tersebut justru memberikan klarifikasi kepada mereka bahwa tindakan pasukan Abdullah bin Jahsy dibenarkan oleh Allah SWT. Penulis tafsir Fathul Qadir mengatakan seolah Allah SWT berfirman: “Wahai kaum kafir Quraisy, kalian sungguh membesar-besarkan perang di bulan haram, padahal apa yang kalian lakukan berupa menghalang-halangi orang yang ingin masuk Islam; kalian kufur kepada  Allah; dan kalian menghalang-halangi ornag masuk masjidil Haram; maupun kalian mengusir para penduduk al haram dari kota tersebut; semua itu lebih besar haramnya di sisi Allah”.  

Dengan demikian fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin karena  agama mereka dan dimaksudkan untuk memutuskan hubungan mereka dengan agama mereka.  Fitnah inilah yang akan terus dilancarkan oleh orang-orang kafir hingga kaum muslimin murtad, yakni meninggalkan Islam dan kembali kepada kekufuran (QS. Al Baqarah 217). 

Fitnah inilah yang kini dilancarkan dalam bentuk terror dan serangan militer oleh Israel, Amerika, Rusia, dan negara-negara kafir lainnya atas kaum muslimin di Palestina, Irak, Afghanistan, Checnya, Rohingya, Pattani, Moro, Kashmir, dan bagian dunia Islam lainnya. 

Fitnah inilah yang dilancarkan oleh antek-antek AS dan sekutu baratnya di seluruh dunia Islam, termasuk di Indonesia,  kepada para pejuang Islam yang bergerak dengan berbagai macam bentuk organisasi dakwah dan harakahnya.  Cap-cap fitnah untuk menghancurkan perjuangan penegakan syariat Islam dan para pejuangnya telah dibuat dan disebarkan: ekstrimis, fundamentalis,  radikalis, anarkis, teroris, preman berjubah, dan berbagai cap buruk lainnya.  

Upaya pembubaran dan pemberangusan dengan berbagai alasan pun mereka lakukan. Dalam kasus terror opini dan politik untuk membubarkan FPI baru-baru ini mereka mempropagandakan kasus Banyuwangi sebagai kekerasan FPI yang layak dibubarkan. Tentu tujuannya adalah agar tidak ada umat lagi yang punya kekuatan untuk menggerakkan amar makruf nahi mungkar dan tidak ada lagi yang berani berjuang untuk mengembalikan kedaulatan syariat Allah di bumi pertiwi ini.   

Kiranya Allah mengingatkan kepada kita terhadap QS. Al Baqarah ayat 217 di atas. Dengan memahami konteks ayat di atas, kita bisa menyatakan bahwa: “Segala makar yang mereka buat untuk menghapus gerakan Islam dan perjuangan untuk menegakkan syariat Allah di bumi pertiwi ini jauh lebih besar dosanya daripada berbagai tindakan “anarkis” yang dilakukan oleh anggota FPI dan ormas-ormas Islam lainnya yang selalu mereka besar-besarkan sambil melupakan anarkisme yang extra ordinary yang dilakukan oleh para pendukung calon pilkada yang kalah sebagaimana kasus Tuban dan Mojokerto maupun berbagai anarkisme yang dilakukan berbagai kelompok lainnya”.

Kiranya FPI dan berbagai ormas Islam lainnya, para ulama, habaib, pimpinan pondok pesantren, majelis-majelis taklim, dan berbagai simpul umat Islam wajib mencatat siapa-siapa yang terlibat di dalam membuat fitnah kepada Islam dan umat Islam di negeri ini untuk disikapi secara bersama dan proporsional. Agar tidak ada lagi fitnah-fitnah keji tersebut dan umat Islam bisa menjalankan syariat agamanya dengan tenang. Wallahua’lam!
**************************************************
Dipetik daripada :

http://www.facebook.com/notes/dakwah-semua-umat/fitnah-dan-ciri-ciri-dajjaal/128733634558

Fitnah dan Ciri-ciri Dajjaal

by Dakwah Semua Umat on Monday, 07 September 2009 at 02:52
Kita sekarang berada di akhir zaman. Kiamat sudah dekat. Salah satu tanda kiamat adalah munculnya Dajjaal. Ada Dajjaal yang sebenarnya sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dan ada pula anak buah Dajjaal atau orang-orang yang memiliki karakter seperti Dajjaal. Keduanya senantiasa menimbulkan fitnah, kerusakan, dan penyesatan. Proyek perusakan dan penyesatan mereka, kadang begitu gamblang menyolok mata. Kadang dibungkus dengan berbagai macam alasan yang masuk akal.

Bagi umat Islam yang memahami Islam atau belajar tentang Islam, pasti mendengar berita tentang Dajjaal. Karena hadits yang membicarakan tentang Dajjaal sangat banyak dan kebenaran beritanya sampai ke tingkat mutawattir (periwayatan hadits yang disampaikan oleh orang banyak dari satu generasi ke generasi berikutnya). Dan hadits mutawwatir dipastikan kebenarannya dan tidak ada yang mengingkarinya dari kalangan ulama.

Datangnya Dajjaal yang kemudian berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa a.s., merupakan salah satu tanda-tanda dari hari kiamat. Bahkan Nabi Isa a.s. bukan hanya membunuh Dajjaal, tetapi menghancurkan salib dan memerangi orang-orang kafir. Nabi Isa a.s. pada saat itu menjadi pemimpin yang adil dan mengikuti syariat Nabi Muhammad saw. Berita tentang turunnya Dajjaal dan Nabi Isa a.s. adalah aqidah yang harus diyakini oleh umat Islam secara keseluruhan, karena bersumber dari hadits shahih dari Rasulullah saw.

Begitu besarnya bahaya fitnah Dajjaal, sampai Rasulullah saw. memerintahkan kepada umatnya untuk senatiasa berdoa dalam setiap shalat agar terbebas dari fitnah tersebut. Beliau bersabda, “Jika kalian membaca tasyahud, maka berlindunglah dari empat hal, yaitu berkata: ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah al-Masih ad-Dajjaal.’” (HR Muslim)

Arti Dajjaal

Dajjaal menurut bahasa berasal dari kata dajala, berarti berdusta dan menutup. Dajala haq bil batil artinya menutupi atau mencampuradukkan yang hak dengan yang batil. Disebut dajjaal karena menutupi kebenaran dengan kata-kata dustanya. Dajjaal berarti seorang yang sangat pendusta dan menutupi kebenaran. Sedangkan Dajjaal yang disebutkan dalam hadits adalah satu mahluk khusus sebangsa manusia yang akan muncul di hari-hari menjelang kiamat, memfitnah manusia, dan mempunyai karakteristik khusus.

Hadits-hadits tentang Dajjaal

Disebutkan dalam hadits- hadits Rasulullah saw.:

“Selain Dajjaal lebih aku takuti atasmu dari dajjaal. Jika Dajjaal keluar dan aku berada di hadapan kalian, maka aku melawannya membela kalian. Tetapi jika ia keluar dan aku tidak di antara kalian, maka setiap orang membela diri sendiri. Allah akan melindungi setiap muslim. Dajjaal adalah pemuda berambut keriting, mata (kirinya) menonjol, seperti saya umpamakan dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Siapa yang menjumpainya, maka bacalah awal surat al-Kahfi. Dajjaal akan keluar di antara jalan Syam dan Irak. Berjalan membuat kerusakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah, tetap teguhlah (pada ajaran Islam).” (HR Muslim)

“Setiap negeri pasti didatangi Dajjaal, kecuali Mekkah dan Madinah.” (HR Muslim).

“Mengikuti Dajjaal 70 ribu orang-orang Yahudi dari Asbahan yang memakai topi.” (HR Muslim).

“Setiap Nabi pasti memperingatkan kaumnya dengan si buta pendusta. Ingatlah bahwa Dajjaal adalah buta, dan Rabb kalian Azza wa Jalla tidak buta. Dajjaal ditulis di antara dua matanya k f r (kafir).” (Muttafaqun alaihi).

“Maukah aku ceritakan berita tentang Dajjaal, sesuatu yang pernah diceritakan setiap nabi pada kaumnya. Dajjaal adalah buta, dia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Apa yang dikatakan surga adalah neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi).

“Dajjaal akan muncul pada umatku, maka ia hidup selama 40 (saya tidak tahu apakah 40 hari, atau bulan atau tahun). Kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam, ia seperti Urwah bin Mas’ud. Maka Isa as. mencari Dajjaal dan menghancurkannya. Kemudian Isa tinggal bersama manusia 7 tahun, tidak akan terjadi permusuhan di antara dua kelompok.” (HR Muslim).

“Perang besar, pembukaan kota Konstantinopel dan keluarnya Dajjaal (terjadi) dalam 7 bulan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ciri-Ciri Dajjaal

Banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik Dajjaal yang akan datang di akhir zaman. Dan dari beberapa hadits di atas dapat disimpulkan tentang sifat dan karakteristik Dajjaal adalah:

¨ Mahluk dari bangsa manusia keturunan Yahudi.

¨ Ciri khas fisiknya: berambut keriting, mata kanannya buta, mata kirinya menonjol, di antaranya tertulis kafir.

¨ Senantiasa berdusta dan menipu manusia agar menjadi kafir dan menjadi pengikutnya.

¨ Aktivitasnya membuat kerusakan di bumi.

¨ Pengikut setianya orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir.

¨ Senantiasa keliling dunia, kecuali Mekkah dan Madinah.

¨ Datang membawa keajaiban yang dapat menyihir dan menipu manusia, dengan harta, kekuasaan, dan wanita.

¨ Dajjaal akan berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa a.s.

Namun, di samping Dajjaal yang sebenarnya, Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya akan bahaya orang-orang yang memiliki sifat Dajjaal. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. bersabda : “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai munculnya Dajjaal-Dajjaal pendusta sekitar 30 orang, semuanya mengaku utusan Allah.” (HR Muslim).

“Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajjaal, yaitu para pemimpin yang sesat.” (HR Ahmad).

Fitnah Dajjaal

Dajjaal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang beriman menjadi sesat dan kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjaal yang sebenarnya, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjaal. Oleh karena itu umat Islam juga harus mewaspadainya. Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat berbahaya karena datang pada setiap tempat dan waktu. Sedangkan Dajjaal akan datang hanya menjelang hari kiamat. Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjaal tingkat bahayanya lebih kuat dari Dajjaal yang sebenarnya. Namun keduanya adalah fitnah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim.

Para pemimpin di sepanjang masa selalu ada yang menjadi musuh para nabi dan para dai yang mengajarkan kebenaran. Dari mulai Raja Namrud, Fira’aun, dan Abu Jahal, sampai pemimipin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang membantai dan menghancurkan negeri muslim, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang menimbulkan fitnah, menebar kesesatan, dan membuat kerusakan di dunia.

Fitnah Dajjaal, baik yang sebenarnya maupun para pemimpin yang memiliki sifat Dajjaal, adalah bahaya laten yang harus dihadapai umat Islam. Fitnah Dajjaal membuat umat Islam menjadi sesat dan kafir. Dan umat Islam dapat saling bunuh karena fitnah Dajjaal tersebut. Dajjaal memutarbalikan fakta, sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram. Fitnah tersebut didukung dengan dana, media masa, dan oknum-oknum yang memang telah sesat. Lebih dahsyat lagi Dajjaal didukung lembaga internasional dan negara-negara adidaya.

Fitnah yang paling bahaya dari Dajjaal adalah yang keluar dari mulutnya. Dan fitnah ini didukung media masa dan disebarkan keseluruh penduduk dunia. Masuk ke rumah-rumah keluarga muslim dan menyesatkan mereka. Dajjaal –baik yang sebenarnya atau yang mirip-mirip– senantiasa mengucapkan kata-kata yang membuat manusia sesat dari agama Allah. Dajjaal senantiasa memproduk ungkapan sesat, batil, dan kontroversial. Sehingga kebenaran menjadi kabur dan tidak jelas, sedangkan kebatilan seolah-olah indah dan menarik. Kebenaran selalu ditutup-tutupi dan dibungkus dengan dusta. Syariat Islam dianggap kejam dan tidak manusiawi, sedangkan nilai-nilai sekular dianggap baik, adil, dan paling cocok untuk kehidupan di era modern. Nilai-nilai agama dijauhkan dan direduksi dari kehidupan sosial dan kenegaraan. Bid’ah dianggap sunnah dan sunnah dianggap bid’ah. Umat Islam dicap fundamentalis, ekstrem, dan teroris; sedangkan non-muslim dianggap humanis, baik, dan demokratis.

Apakah Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal?

Disebutkan dalam hadits:

Dari Abdullah berkata, kami bersama Rasulullah saw. maka kami melewati anak-anak, di antaranya Ibnu Shayyaad. Anak-anak lari, sedangkan Ibnu Shayyaad tetap duduk. Seolah-olah Rasulullah saw. tidak suka padanya. Rasuullahl saw. berkata padanya: ”Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw.?” Ibnu Shayyaad berkata: ”Tidak, tapi apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw.“ Berkata Umar, ”Wahai Rasulullah saw., biarkanlah aku membunuhnya.” Rasulullah saw. berkata: ”Jika benar yang engkau lihat (adalah Dajjaal), maka engkau tidak akan bisa membunuhnya.” (HR Muslim)

Rasulullah saw. tidak memastikan bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal yang dimaksud itu, walaupun demikian beliau juga membiarkan dan tidak menafikan ketika sebagian sahabat bersumpah bahwa dia adalah Dajjaal. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah Ibnu Shayaad adalah Dajjaal? Memang ketika Rasulullah saw. menyebutkan sifat-sifat Dajjaal yang akan muncul menjelang hari kiamat, di antaranya bahwa Dajjaal adalah kafir dari keturunan Yahudi, tidak akan memasuki Mekkah dan Madinah, dan tidak punya anak. Sedangkan Ibnu Shayaad mengaku muslim, walaupun dari keturunan Yahudi. Dia lahir di Madinah, mempunyai orang tua, dan punya anak. Dan Ibnu Shayyaad sempat berangkat haji menuju Mekkah bersama Abu Said al-Khudri.

Ilmu secara pasti tentang Ibnu Shayyaad Dajjaal atau bukan, hanyalah Allah yang tahu. Tetapi dari isyarat Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya, maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa Ibnu Shayyaad salah seorang yang memiliki sifat Dajjaal. Dia ahli sihir, dukun, dan mengaku banyak tahu tentang masalah ghaib. Sehingga, ketika sebagian sahabat bersumpah, diantaranya Umar bin Khattab bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal, Rasulullah saw. tidak menafikannya. Wallahu Alam.

Kiat-kiat Menghadapi Fitnah Dajjaal

Untuk menghadapi fitnah Dajjaal, maka umat Islam harus berjihad melawan kebatilan. Ulama harus menjelaskan kepada umat antara yang hak dengan yang batil agar mereka tidak menjadi bingung dan tidak tersesat. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya jihad adalah perkataan yang benar pada penguasa yang sesat.” (HR Ahmad).

Seluruh bentuk fitnah harus dilawan oleh umat Islam. Fitnah kemusyrikan, fitnah pelecehan terhadap kehormatan Nabi saw., fitnah pembunuhan, fitnah pornografi dan pornoaksi, fitnah pelecehan terhadap Islam dan umat Islam, dan fitnah lainnya. Dan fitnah itu harus dilawan dengan semua bentuk kekuatan yang dimiliki dan bisa dimiliki umat Islam sehingga Islam menjadi ajaran yang eksis di muka bumi ini. Allah swt. berfirman: ”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39).

Sedangkan kiat praktis yang harus dilakukan oleh umat Islam, yaitu senantiasa membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya. Khususnya surat Al-Kahfi. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang hapal 10 ayat pertama surat al-Kahfi, maka dia selamat dari Dajjaal” (HR Muslim).


 Dipetik daripada :

http://sejarahstpm.blogspot.com

Sunday, 24 April 2011


Fitnah dan Hasutan Dalam Sejarah Pemerintahan Empayar Islam : Satu Tinjauan Ringkas

image SEJARAH kejatuhan dan keruntuhan negara atau empayar Islam sepanjang zaman di mana-mana sahaja adalah berpunca daripada faktor fitnah, hasutan dan adu domba sesama sendiri.
Penghasutnya adalah bijak pandai daripada kalangan mereka, termasuk golongan yang mendakwa dirinya sebagai ahli agama. Hukum-hakam agama adalah alat yang paling berkesan bagi maksud tersebut.
Perkataan hasut membawa erti cocoh, acum, batu api, agitasi dan sebagainya. Dalam bahasa agama disebut fitnah. Semuanya memberi maksud tuduhan jahat yang diada-adakan atau memanjangkan berita buruk yang tidak benar bertujuan kecelakaan dan kemusnahan.
Hasutan fitnah ini sudah wujud sejak zaman Nabi lagi yang dikepalai oleh Abu Jahal dan Abu Lahab. Pada zaman Khulafa Rasyidin pula hanya Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sahaja yang mati dalam keadaan biasa. Tiga khalifah yang lain, Umar, Uthman dan Ali semuanya syahid dibunuh oleh penjahat-penjahat yang menerima hasutan.
Peristiwa Majlis Tahkim yang berslogankan tidak ada hukum melainkan daripada hukum Allah adalah peristiwa pembohongan dan penyalahgunaan agama yang paling ketara. Amru Ibnul As mewakili pihak Muawiyah bin Abu Sufian berjaya menggunakan helah politik bagi memperdaya Abu Musa al-Asyaari yang mewakili pihak Khalifah Ali.
Khalifah Ali amat kecewa dan kesal dengan perundingan itu dan merasai dirinya dan orang ramai tertipu dengan slogan tersebut. Beliau memberi komentar dengan ucapannya yang masyhur: `Kata-kata itu benar, tetapi maksudnya adalah batil'.
Berikutan daripada peristiwa Tahkim itulah akhirnya Khalifah Ali dibunuh, runtuhnya kerajaan Khulafa Rasyidin, lahirnya kelompok politik (firqah) dalam masyarakat Islam dan lahirnya kerajaan Umayyah, iaitu kerajaan Islam yang sah yang diterima oleh majoriti umat Islam pada waktu itu.
Perang Jamal (36H/656M) merupakan perang saudara pertama dalam masyarakat Islam yang dicetuskan oleh segelintir penghasut yang tidak senang dengan pemerintahan Khalifah Ali. Peperangan ini yang berlaku di sekitar bandar Basrah telah mengorbankan kira-kira 10,000 umat Islam. Antaranya ialah Talhah bin Ubaidullah dan az-Zubir bin al-Awwam, dua sahabat termulia dan terkemuka di sisi Nabi dan antara sepuluh sahabat yang dijanji mendapat syurga.
Sayyidatina Aisyah, isteri Nabi, juga terlibat dalam peperangan ini yang berakhir dengan kekalahan dan ditawan oleh Khalifah Ali. Dia dilayan baik oleh Khalifah Ali dan kemudiannya dihantar balik ke Madinah.
Setahun kemudian, berlaku pula Perang Siffin antara Khalifah Ali bin Abi Talib dengan Muawiyah bin Abi Sufian. Muawiyah kalah dalam peperangan ini, tetapi menang di meja perundingan.
Amru Ibn al'As bagi pihak Muawiyah telah membuat helah politik mengajak pengikut-pengikutnya menjulang al-Quran di hujung pedang menyeru gencatan senjata dan kembali berhukum dengan hukum Allah. Orang ramai tertipu dengan helah tersebut.
Banyak tragedi yang menyayat hati berlaku selepas itu. Antaranya yang paling sedih ialah peristiwa pembunuhan ramai sahabat Nabi terkemuka, termasuk dua cucunya Hasan dan Husein, putera-putera Siti Fatimah binti Rasulullah. Kesan buruknya berlarutan sehingga hari ini.
Semua permusuhan dan pembunuhan adalah atas nama Islam. Masing-masing dilemparkan tuduhan kononnya tidak melaksanakan keputusan dan pentadbiran menurut ajaran Islam sebenar. Khalifah Uthman dituduh mengamalkan kronisme dan nepotisme serta menyalahgunakan wang negara (Baitulmal). Khalifah Ali yang merupakan sepupu dan menantu Nabi sendiri pun terpalit dengan tuduhan seumpama itu seperti kononnya Khalifah Ali terlibat dengan pembunuhan Khalifah Uthman dan menyokong pemberontak. Kesannya Khalifah Ali kemudiannya syahid dibunuh oleh pembunuh upahan Khawarij.
Muawiyah kemudiannya berjaya mendirikan kerajaan Islam yang baru di atas keruntuhan kerajaan Khulafa Rasyidin. Pusat pentadbirannya berpindah dari Madinah ke Damsyik (Syria).
Kerajaan Umayyah juga tidak terlepas daripada gerakan penghasutan dan agitasi daripada musuh-musuh politiknya sesama Islam. Musuh paling utama ialah Khawarij dan Syiah. Gerakan perseteruannya paling keras dan amat sengit. Orang ramai keliru dengan propaganda mereka, kerana pemimpin mereka adalah terdiri daripada sahabat-sahabat yang hafaz al-Quran dan banyak menyimpan hadis.
Akhirnya, setelah kira-kira 90 tahun memimpin negara Islam, kerajaan dari keluarga Umayyah pula menerima nasib yang sama seperti kerajaan Khulafa Rasyidin. Kerajaan ini digulingkan oleh keluarga Bani Abbas dan golongan Syiah secara paksa hasil daripada gerakan mereka yang sangat lama.
Kerajaan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad (Iraq) ditubuhkan selepas keruntuhan kerajaan Umaiyyah dan kerajaan-kerajaan Islam lain yang didirikan kemudian juga tidak terlepas daripada kejadian-kejadian yang sadis dan kejam. Ramai khalifah, gabenor dan ulama dibunuh dengan zalim dan menyayat perasaan.
Ajaran Islam adalah jelas. Islam tiada caacat celanya. Yang cela adalah penganutnya yang terpesong. Allah memerintahkan umat Islam supaya menyatukan barisan dan menghindar diri daripada perpecahan. Ditegah sama sekali benci-membenci, cerca-mencerca, pulau-memulau dan menumpahkan darah. Malangnya perintah seumpama itu tidak dipatuhi. Umat Islam terus-menerus berkelompok dan bercerai-berai. Paling malang apabila hukum-hukum agama dijadikan senjata bagi maksud tersebut.
Berlakunya demikian adalah kerana kesilapan mereka yang terlibat terutama para penyokong yang fanatik dan ketidakfahaman ajaran Islam sebenar, atau kerana kedegilan sebilangan mereka dan keingkaran terhadap ajaran agama, atau kerana desakan politik dan kumpulan, atau menjaga kepentingan keduniaan melebihi segala-galanya.
Walaubagaimanpun, kita wajar berlapang dada dan menghormati ‘ijtihad’ yang dilakukan oleh para Khalifah Rasyidin dan para sahabat dalam menangani permasalahan pada ketika itu. Cuma penerimaan masyarakat, rakyat serta penyokong terhadap keputusan ketua menyebabkan tindakan dan fahaman yang berbeza-beza telah diambil. Wallahu’aklam.
*********************************************************************

Dipetik daripada :
http://mutiaraislam.wordpress.com/

Ketahuilah bahawa sifat-sifat seperti hasad dengki, sombong, takbur, mengumpat, riak dan membuat fitnah adalah seburuk-buruk dan sehina-hina sifat.  Sifat ini sangat-sangat dibenci oleh Allah SWT.  Jika kita mengumpat, membuat fitnah, mengadu domba diantara kawan, keluarga, sudah pasti akan menjadi kucar kacil dan huru hara hubungan diantara manusia.  Sifat-sifat ini tidak dipandang ringan oleh agama kita ia itu Islam.  Ianya dikategorikan sebagai dosa-dosa besar kerana perlakuan sedemian umpama membunuh rakan atau saudara sendiri.
Firman Allah SWT dalam surah “al-Baqarah” – ayat 191 yang bermaksud:

“….. dan perbuatan fitnah itu lebih dasyat kesannya dari perbuatan membunuh …..”

Kita mengakui bahawa setiap insan itu mempunyai keaiban dan kesalahan yang telah dilakukannya.  Maka keaiban itu tidaklah patut dihebah-hebahkan kerana kalau dihebahkan bermaksud kita telah mengaibkan diri sendiri.  Umpat-mengumpat diantara kaum Islam masih berluas-luasa berlaku sejak berzaman hingga ke hari ini dan mungkin berterusan, umpamanya masih terdapat mereka-mereka yang selepas bersolat di masjid-masjid atau surau-surau melakukan perkara-perkara seperti mengumpat sesama sendiri terutama ketika besembang di gerai-gerai atau warong sebelum pulang kerumah.  Adakala apabila timbul isu politik, mereka lah orang yang bijak didalam bidang itu mengalahkan orang politik.  Apabila terlalu jauh membicarakan hal-hal yang tidak bergitu diketahui betul atau tidak perkara yang dibincangkan maka terjadilah perbuatan memfitnah orang-orang yang berkaitan.
Itupun baru hal-hal dengan cerita di warong, lagi bertambah teruk apabila membuat fitnah dan mengumpat didalam internet atau di laman-laman blog.  Kadang-kadang kita terbaca bahawa umpat-mengumpat dan memfitnah di dalam laman blog tidak memberi apa-apa faedah kepada yang berbuat perkara tersebut.  Ianya seakan-akan sedap membicarakan perkara yang diada-adakan atau perkara-perkara yang tidak diketahui sebenar-benarnya. Bukankah perkara ini di kategorikan sebagai fitnah.
Oleh itu, jauhkan umpat-mengumpat kerana ia adalah sifat orang yang jahat dan rosak akhlak, ia sudah semestinya tidak layak diamalkan oleh orang Islam yang beriman. Tiada gunanya orang-orang yang mentaati suruhan Allah SWT seperti mengerjakan solat, berpuasa dan menurut perintah Allah SWT tetapi masih terus membuat fitnah dan umpat-mengumpat sesama kuam Islam sendiri.
Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjauhkan buruk sangka, kerana buruk sangka itu setengah daripada dosa besar, janganlah kamu mengintai dan janganlah kamu mencerca serta mengumpat, setengah kamu akan setengah lain.  Apakan kamu suka memakan dangging saudara kamu yang telah mati?  Nescaya kamu takut kepada Allah bahawasanya Allah itu Penerima taubat”.

(Surah “al-Hujurat: Ayat 12)
Ayat diatas menjelaskan bahawa umat Islam dilarang menyimpan hasad dengki didalam hatinya keatas saudara-saudara Islam yang mendapata nikmat kerniaan daripada Allah SWT apatahlagi mengumpat saudara-saudaranya sendiri.  Perbuat ini terlalu keji disisi Allah SWT.  Allah SWT telah berjanji akan memasukkan umatNya yang mengumpat, memfitnah bangsa sendiri, negara dan sebagainya ke neraka jahanam sekiranya mereka ini tidak sempat memohon apun dan bertaubat kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W. bersabda, mafhumnya:

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya shaja dan meimanannya itu meresap kedalam hatinya, janganlah kamu mengumpat kaum Muslimin, janganlah pula menjejaki keburukan mereka, sesiapa yang menjejaki keburukan mereka maka Allah SWT akan menjejaki keburukannya dan barangsiapa yang dijejaki kerburukannya oleh Allah SWT maka Allah SWT akan menyingkap keaibannya sekalipun ia berada di dalam rumah”.

(Riwayat: Abi Barzah al-Aslami R.A.)
Hadis diatas menyatakan bahawa sifat hasad dengki itu tidak memberi faedah langsung kepada yang melakukannya, melainkan dendam dan perbalahan yang akan menjauhkan perpaduan.  Oleh itu jauhkanlah sifat hasad dengki, fitrah memfitnah.  Orang yang hasad dengki membakar diri dan hatinya.  Hasad dengki tidak boleh dipadamkan melainkan kebaikan dan ketaatan diri kepada Allah SWT sahaja.  Memfitnahkan saudara sendiri adalah dilarang oleh Islam sama sekali.  Hendaklah kita hindarkan daripada terus menerus melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT.
Kita seharusnya menjaga lidah kita supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang dilarang dan dilahnati oleh Allah SWT.  Janganlah kita membuat fitnah terhadap sesiapapun sama ada mereka itu saudara kita ataupun tidak tetapi haruslah diingatkan bahawa kesuluruh umat Islam adalah bersaudara yang datang dari satu kaum.  Sebab itulah Islam melarang umatnya memfitnah sesama Islam dan bukan hanya itu sahaja, kita sepatutnya menjauhi daripada mendengar perkara-perkara fitnah yang disampaikan oleh orang lain.
Oleh itu, jauhilah dari membuat perkara-perkara yang dilarang oleh Allah SWT seperti membuat fitnah, mengumpat, mengutok dan menaruh hasad dengki terhadap saudara sendiri mahupun orang lain.
Kita telah diberi nikmat oleh Allat SWT maka hendaklah kita bersyukur kepadaNya.  Janganlah kita bersifat besar hati dan takbur kerana Allah SWT berkuasa mengambil kembali nikmat yang telah diberikanNya kepada kita.  Bersifat takbur itu adalah salah satu daripada satu cara Allah SWT boleh menghilangkan nikmatNya dari kita.  Ingatlah Allah SWT tidak suka kepada orang yang bongkak dan takbur.
Firman Allah SWT dalam surah “al-Nahl” : ayat 23 yang bermaksud:

“Bahawasanya Allah SWT tidak suka kepada orang yang bersifat takbur”.

Janganlah kita lupa diri kerana banyaknya nikmat Allah SWT yang telah kita terima dan rasa sepanjang hayat kita didunia ini.  Jauhkanlah perkara-perkara yang boleh membawa kepada pergaduhan, kerana kita sebagai umat Islam adalah bersaudara dari satu agama dan keturunan.
Kepada kita yang pernah melakukan perkara-perkara yang di larang ole Allah SWT hendak lah segera bertaubat kerana takut sekiranya kita tidak sempat bertaubat kepada Allah SWT dan memohon ampun kepadanya maka kita dimasukan ke neraka.

~ oleh lokmanhashim di April 4, 2010.
**************************************************

Dipetik daripada :
http://bengkelrohani.blogspot.com/2010/11/budaya-fitnah-menghancurkan-umat-islam.html

Wednesday, November 17, 2010


Budaya Fitnah Menghancurkan Umat Islam

Firman Allah S.W.T. bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6) Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu. Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu. Bahkan ada juga segelintir yang sampai ke tahap melabelkan orang sebagai fasik, munafik, yahudi, kafir dan ahli neraka..! Seolah2 merekalah yang paling baik dan dijanjikan untuk masuk syurga. Sedangkan jaminan seseorang itu masuk ke syurga hanyalah dengan RAHMAT ALLAH.
Kita tak tahu andaikata di akhir hayat seorg pencuri atau pelacur itu entah-entah dia sudahpun insaf sedang menuju ke arah masjid utk bertaubat tp mati kemalangan di dlm perjalanan. Di mulut kita pantas meluncur kata "Tengok tu, di dunia buat dosa, mati pun Tuhan hina!" sedangkan di waktu itu kita tidak tahu entah2 sang malaikat sedang mengukur jarak drp tempat mati beliau ke masjid lebih dkt berbanding tempat maksiat yang ditinggalkannya itu. Kita ambil iktibar juga kisah pelacur memberi minum air kpd anjing (yg telah diabadikan dlm video klip maher zain the chosen one (2:13), yg saya rasakan sbg video klip terbaik utk kurun ini).



Sila ambil perhatian... Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu. Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.

Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri penyebar fitnah dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah menjadi muflis di akhirat nanti. MAKA SIA-SIALAH SEGALA AMAL IBADAT SEMBAHYANG, PUASA, BERZAKAT, HAJI dll.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12). Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu laporan palso dan berita yang berunsur fitnah.

Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu. Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah Saidina Uthman bin Affan yang berpunca daripada FITNAH.

Penyebaran fitnah turut menjadi faktor kehancuran dan penyebab kepada perselisihan malah telah mencetuskan peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali. Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Ibn katsir di dalam Bidayah wan Nihayah, jumlah korban Perang Jamal ialah 10,000 orang manakala Perang Siffin ialah 60,000 orang. Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah.

Bagi yang diuji dengan fenomena hebah dan fitnah ini, antara cara yang turut dicadangkan oleh nabi Muhammad SAW ialah duduk diam sahaja. Ini berdasarkan sepotong hadith sahih riwayat Bukhari dan Muslim seperti berikut:
انها ستكون فتنة القاعد فيها خير من القائم و القائم خير من الماشي و الماشي خير من الساعي
Sesungguhnya akan terjadi fitnah, orang yang duduk (diam) adalah lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri adalah lebih baik daripada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan adalah lebih baik daripada orang yang berlari.

Ketika berlakunya gejala fitnah, khususnya selepas pembunuhan Saidina Uthman, ramai para sahabat yang mengambil sikap berdiam diri sahaja tanpa menyebelahi mana-mana pihak bagi mengelakkan diri daripada terjebak dalam gejala fitnah. Ini termasuklah Zubair bin al-Awwam serta Abdullah bin Khabab. Ini merupakan tindakan yang betul. Dalam masa yang sama, ada juga yang terpaksa mengharungi dan berhadapan dengan fitnah tersebut, seperti yang dilakukan oleh Saidina al-Hasan. Tindakan beliau bukannya salah, kerana beliau tidak membalas fitnah dengan fitnah, akan tetapi fitnah itu dibalas dengan hikmah, walaupun akhirnya diri beliau yang terpaksa menjadi korban.
Bayangkan berapa puluh tahun fitnah drpd zaman Saidina Uthman berpanjangan sehingga membawa terbunuhnya Saidina Hasan cucu kesayangan Nabi. Betapa maha besarnya dosa yang perlu ditanggung oleh si pembuat fitnah dan juga oleh penyampai2 fitnah. Begitulah juga besarnya dosa orang yang mereka2 cerita dan membuat fitnah di laman sosial dan blog, lalu diperpanjangkan oleh pembaca blog dan status beliau, samada dengan sengaja ataupun tanpa niat (sekadar berbual kosong berkongsi apa yg dibaca di laman sosial) selagi mana fitnah itu berjalan maka selagi itulah dosa akan ditanggung oleh pembuat fitnah dan juga si penyampai, bayangkan kalau cerita palsu itu berpanjangan sehingga ke anak cucu..! Wal-'iyazubillah..

Oleh yang demikian, sekiranya kita menjadi mangsa fitnah, lalu kita membalas dendam dengan melakukan fitnah yang serupa, percayalah bahawa tindakan itu adalah satu kesilapan besar dan tidak langsung menyelesaikan masalah. Kita mungkin puas memfitnah orang lain dalam ucapan dan tulisan kita dalam blog ataupun laman sosial sebagai contohnya, akan tetapi tulisan itu akan terus kekal diingati sama seperti kekal degilnya sikap kita yang enggan memaaf dan melupakan kesalahan orang lain bahkan terus menyuburkan lagi sifat mazmumah dan nafsu amarah di dalam diri.

Fikir-fikirkanlah, sebelum menghantar SMS, e-mel ataupun respon di dalam laman sosial seperti Facebook. Lebih dahsyat lagi hingga ke tahap membuat profil palsu di dalam Facebook untuk memburuk-burukkan peribadi individu. Ini bukan ciri-ciri pejuang dan pencinta kebenaran. Jika masyarakat Islam sendiri boleh berselisih dan berperang sesama sendiri kerana fitnah, apatah lagi masyarakat umum? Sudahnya umat Islam jualah yang akan rugi.. Marilah kita mengambil berkat tahun baru hijrah untuk mengubah sikap dan menjauhkan budaya fitnah yang sangat menghancurkan umat Islam ini. Moga2 Tuhan membela para pencinta kebenaran di mana jua mereka berada...
 ********************************************

Dipetik daripada :

http://rapsodeeperjuangan.blogspot.com/2009/06/hadith-pilihan-minggu-ini-kerana-mulut.html

hadith pilihan minggu ini :kerana mulut badan binasa,kerana lidah..??

apakah monyet ini dilatih untuk menjelirkan lidahnya atau ia sudah menjadi tabiatnya??
namun kita mungkin tertawa melihatnya..
gambar hiasan ini cuba memahamkan pembaca
"terhadap kroniknya lidah orang yang berakal
"

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت
, ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
[Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]
salamun salam..entri pilihan hadith minggu ini cuba menyoroti teman2 dengan pemfokusan daripada matan hadith :
فليقل خيراً أو ليصمت
nampak mudah dan lazim didengari bukan?tapi apakah ma'ani yang anda boleh ambil sebagai aplikasi daripada matan hadith di atas??sebagai permulaan sy akan cuba menguraikan ia agar difahami...:bismillahirrahmanirrahim..
Kalimah “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, itu membawa maksud adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu)menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)

Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.

Beliau juga bersabda :
“Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.
Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”. Dalam hal ini maka perkataan yang w.pon mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia baik seorang ulama',profesional atau pon sesiapa pon..
Allah berfirman :
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS.Qaaf : 18)

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.
sekilas pandang,rupa-rupanya lidah yang tidak bertulang ini banyak sekali musibahnya jika tidak benar-benar dikunci daripada terus rakus memakan diri..
sebenarnya TUJUAN di sebalik penulisan yang tidak seberapa ini cuba menyedarkan pembaca terhadap kroniknya isu "apabila semua berhak bercakap"..maka akan ada kesan yang tidak senang malah menjelikkan dan memalukan..saya percaya pastinya teman-teman di luar sana bisa berhadapan dalam situasi sebegini,maka tidak dapat tidak perlu diketahui hak untuk bercakap itu memang tiada penafiannya tetapi apabila ia sudah didasari tanpa adabiyyat berpendapat dalam perkara2 khilaf..maka itulah penyakitnya yang perlu dirawat segera!!
sengaja untuk menyingkap kembali wasiat Asy-Syahid Hassan Albanna dalam cuba meniliti ANCAMAN seorang kader dakwah itu dalam menjaga lisannya sahaja ada 4 iaitu :
Jangan Banyak BERDEBAT - Sebenarnya bukanlah Hasan al-Banna tidak menggalakkan debat.Tetapi hampir kesemua debat ini lebih banyak mengundang parah dan bahaya perpecahan. Sebabnya, pihak yang berdebat itu tidak berbahas dengan ikhlas, berhikmah, beradab dan intelektual.
Mereka mungkin tak menjaga lidahnya daripada memaki hamun, mengeluarkan kata-kata kesat dan semua ini akan menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu dan akhirnya akan menimbulkan pertengkaran yang berakhir dengan perpecahan.
Apabila berlaku lebih banyak perpecahan, maka yang untungnya adalah golongan kuffar yang sentiasa mengintai kelemahan dan meneropong pekung dalaman umat Islam sendiri. Dan, retak-retak perpecahan itulah yang melambatkan kemenangan dakwah Islam.
JAUHI BICARA AIB orang lain -Ada sebab-sebabnya kenapakah kita suka membuka rahsia keaiban orang lain. Kebanyakannya sikap ini bermula daripada perasaan dengki dan iri hati.Lalu, meluap-luaplah perasaan untuk menjatuhkan maruah, imej dan reputasi orang lain di dalam kerjaya mereka misalnya.
Sepotong hadis sbg renungan,Rasulullah s.a.w menyebutkan bahawa, "Barangsiapa yang menutup aib saudara Muslimnya, nescaya Allah s.w.t akan menutup keaibannya di akhirat kelak."
jangan banyak bergurau dan ketawa - Jangan banyak ketawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (zikir) sangat tenang dan tenteram :Menurut beliau, umat yang berjuang itu selalu sibuk bermuhasabah mengenai masalah yang dihadapi oleh umat Islam. Masalah yang membelenggu umat Islam terlalu banyak, sedangkan mereka yang ingin menyelesaikan masalah tersebut tidak ramai.Sekiranya umat Islam banyak bergurau maka sudah pastilah masalah-masalah umat Islam itu tidak mudah diselesaikan. Sebab itulah beliau menyeru kita agar sentiasa bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.
Sabda Rasulullah s.a.w, 'Sesungguhnya Allah s.w.t menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun.' (Riwayat Abu Daud).
elakkan bercakap nyaring - Percakapan yang nyaring dan terlebih kuat banyak mengundang masalah seperti mengundang kemarahan orang dan menyuburkan takbur di hati para penceramah dan pendakwah itu sendiri."Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai." [Luqman: 19].Hal kesantunan bicara ini turut disentuh dalam buku bertajuk Cinta Di Rumah Hasan Al-Banna yang memperihalkan kehidupan rumahtangga Al-Banna sendiri.
maka pada akhirnya di manakah betul dan silapnya kita kalau lisan tidak mampu mengotakan pada amal fardi dan amal dakwi masing-masing..??

berhentilah seketika merenung HATIsebagai tasdiqnya IMAN,LISAN sebagai taqrirnya FAHAM,dan ANGGOTA sebagai amalnya IKHLAS..

CUKUPLAH MENAMBAHKAN DOSA KERANA PERBUATAN SEDAR DIRI SENDIRI..DAN JANGAN BIARKAN IA BERTAMBAH PARAH LAGI..


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu, dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar”(QS al-Ahzab: 70-71)
"فليقل خيراً أو ليصمت"
Sekadar coretan buat renungan bagi mereka yang mahu berfikir...



 Dipetik daripada :

http://www.islamituindah.my/lidah-tentukan-langkah-manusia-ke-syurga-atau-neraka

LIDAH MENENTUKAN LANGKAH KE SYURGA ATAU NERAKA..

KATA Imam al-Ghazali, lidah antara nikmat Allah SWT yang besar dan antara ciptaan Tuhan yang amat halus dan ganjil. Lidah mempunyai bentuk yang indah, kecil dan menarik.
Selanjutnya Imam al-Ghazali berkata: “Keimanan dan kekufuran seseorang tiada terang dan jelas, selain dengan kesaksian lidah. Lidah mempunyai ketaatan yang besar dan mempunyai dosa besar pula. Anggota tubuh yang paling derhaka kepada manusia ialah lidah. Sesungguhnya lidah alat perangkap syaitan yang paling jitu untuk menjerumuskan manusia.”
Daripada kata Imam al-Ghazali itu jelas menunjukkan kepada kita besarnya peranan lidah dalam kehidupan manusia kerana lidah kita boleh masuk syurga dan kerana lidah juga boleh dihumban kita ke neraka.

Oleh kerana lidah boleh membawa kebaikan dan keburukan dalam hidup manusia, kita perlu sentiasa berwaspada menggunakan lidah sewaktu bertutur kata. Dengan kata lain, kita hendaklah bijak menggunakan lidah apabila bercakap.
Sekiranya kata yang kita ucapkan boleh menyebabkan orang yang mendengarnya sakit hati atau terguris, ia boleh mendatangkan keburukan kepadai kita. Pepatah ada mengatakan kerana mulut badan binasa.
Justeru, sebelum kita berkata sesuatu hendaklah berfikir terlebih dulu. Kita gunakan lidah untuk berkata sesuatu yang baik dan tidak sia-sia atau lebih baik lagi kita diam. Itu lebih memberi manfaat daripada kita berkata perkara yang boleh mendatangkan dosa. Sesungguhnya orang beriman tidak bercakap perkara yang sia-sia dan tiada berfaedah.
Daripada Abu Hurairah diriwayatkan Nabi Muhammad SAW bersabda yang maksudnya: “Siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya Allah benci kepada orang yang jelik budi pekertinya serta kotor lidahnya.” (Hadis riwayat Imam Tirmidzi)
Menurut Rasulullah SAW ada tiga jenis manusia, iaitu yang mendapat pahala, selamat daripada dosa dan binasa.
Orang yang mendapat pahala sentiasa mengingati Allah, berzikir, mengerjakan solat dan sebagainya. Orang yang selamat daripada dosa ialah mereka yang diam, manakala orang yang binasa sentiasa melakukan perkara mungkar, maksiat dan tidak mengawal lidahnya dengan baik.
Kita dapat mengenal peribadi seseorang daripada percakapannya. Orang yang tinggi akhlak selalunya bercakap hal yang baik saja, tidak menyakiti hati orang lain, tidak mengucapkan perkataan kotor dan tidak banyak bercakap. Mereka mengawal lidah sebaik-baiknya.
Dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi dan Ibnu Majah, Abu Hurairah menceritakan apabila Rasulullah SAW ditanya sebab terbesar yang membawa seseorang masuk syurga, Rasulullah menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Apabila ditanya pula sebab terbesar yang membawa manusia masuk neraka, maka Rasulullah menjawab, “Dua rongga badan iaitu mulut dan kemaluan.”
 **************************************************

Dipetik daripada :  http://yusmialfaruqi.blogspot.com/

Isnin, 4 April 2011


BAHAYA FITNAH

ASSALAMUALAIKUM WRMTULLAH WBKTH.

Hadis Huzaifah r.a katanya:
Aku telah mendengar Rasullullah s.a.w bersabda:
"Tidak masuk Syurga orang yang suka menabur fitnah".

HATI adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan Allah sebagai titik untuk menilai keikhlasan dan ketulusan. Di hati lahirnya niat yang menjadi penentu sesuatu amalan diterima sebagai pahala atau sebaliknya.

Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik supaya tidak rosak, sakit, buta, keras dan tidak mati bagi mengelak penyakit masyarakat yang berpunca daripada hati.Sebagaimana yang telah dipesan oleh baginda Rasulullah saw bahawa hatilah yang menentukan kebaikan kepada akhlak yang ditonjolkan.Sekiranya baik,bersih dan hampir hatinya dengan Allah,maka akan lahirlah akhlak yang mahmudah tetapi sekiranya hati jahat,kotor dan jauh dengan Allah maka lahirlah sifat mazmumah.

Kerosakan pada hati membawa kepada kerosakan seluruh nilai hidup pada diri seseorang individu. Penyakit hati yang menyerang kebanyakan kita ialah penyakit fitnah, sama ada menjadi penyebar atau mudah mempercayai fitnah.

Perbuatan fitnah adalah sebahagian perbuatan mengadu-domba yang mudah menyebabkan permusuhan dua pihak yang dikaitkan dengan fitnah berkenaan.

Masyarakat yang dipenuhi budaya fitnah akan hidup dalam keadaan gawat. Sebelah pihak sibuk menyebarkan fitnah dan sebelah pihak lagi terpaksa berusaha menangkis fitnah itu.

Natijah akibat perbuatan itu boleh mencetus persengketaan dan mungkin berakhir dengan tragedi kerugian harta benda dan nyawa. Individu yang suka menyebar fitnah sentiasa mencari kejadian atau berita boleh dijadikan bahan fitnah.
Dengan sedikit maklumat, berita itu terus disebarkan melalui pelbagai saluran yang merebak dengan mudah. Berita sensasi, terutama berkaitan individu ternama dan selebriti mudah mendapat perhatian khalayak.

Justeru, Allah memberi peringatan mengenai bahaya fitnah. Firman-Nya yang bermaksud: "Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya."� (Surah al-Baqarah, ayat 191)

Apabila fitnah tersebar secara berleluasa, ia bermakna nilai agama sudah musnah dalam diri seseorang atau masyarakat. Islam bertegas tidak membenarkan sebarang bentuk fitnah biarpun untuk tujuan apa sekalipun.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud:"Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, berleluasa sifat kedekut dan banyak berlaku jenayah."� (Hadis riwayat Muslim)

Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), laman web dan emel membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah.

Teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Penyebaran fitnah melalui SMS yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan.

Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah.

Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya. Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.

Firman Allah bermaksud:"Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan."� (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu.

Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.

Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu.

Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.

Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:"Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah."(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.

Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan "dengar khabar" mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar.

Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Menyebarkan berita benar tetap dilarang, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.

Imam Ghazali dalam buku "Ihya Ulumuddin" menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud:"Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.� (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud:"Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain."� (Surah al-Hujurat, ayat 12)

Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu.Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.

Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu.Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah juga telah membuktikan kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah.Justeru marilah kita kembali kepada landasan Islam dalam kehidupan kita berhubung sesama manusia. Ubatlah penyakit hati kita dengan memperbanyakkan taubat,menuntut ilmu agama,memperbanyakkan amal soleh dan selalu berzikir kepada Allah.Jauhilah amalan fitnah yang mampu merosakkan agama,bangsa dan negara.

Ahad, 10 Oktober 2010

BICARA TENTANG TUDUNG DALAM SYARIAT ISLAM

Dipetik daripada:

http://www.ustaznoramin.com/2010/07/di-manakah-nilai-tudung-kita.html






Salam kepada semua, artikel yang disediakan ini diambil dari kawan saya iaitu Ustaz Khir semasa Kursus Diploma Pendidikan UPS-MARA di KPTM Bangsi Selangor. Saya tertarik dengan artikelnya dan disiarkan sebagai perkongsian untuk semua. Mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan manfaat untuk semua.

Bila wanita menjaga auratnya dari pandangan lelaki bukan muhram, bukan sahaja dia menjaga maruah dirinya,malah maruah wanita mukmin keseluruhannya. Harga diri wanita terlalu mahal. Sebab itu syariat menetapkan supaya wanita pakaiannya adalah pakaian yang longgar dengan warna yang tidak menarik menutup seluruh badannya dari kepala sampai ke kaki.

Kalau dilihat pada nilaian dunia, barang-barang berharga seperti intan dan berlian dibungkus rapi dan disimpan pula di dalam peti besi yang berkunci. Begitu juga wanita. Kerana wanita bermaruahlah dia tidak disuruh ditonjolkan tanpa keperluan yang tertantu; dengan batas-batas tertentu. Dia mesti bergelanggang dalam gelanggang yang boleh dan sesuai untuknya sahaja yang telah ditentukan garis-garisnya oleh syariat. Wanita tidak selayaknya mengorbankan maruah dandirinya semata-mata mengejar pangkat, darjat, nama, harta dan kemewahan dunia.

Menyentuh berkenaan pakaian wanita, alhamdulillah sekarang telah ramai wanita menjaga auratnya, sekurang-kurangnya dengan memakai tudung. Dan di sana sini kita dapat saksikan para wanita kita memakai tudung. Pemakaian tudung penutup aurat sudah melanda dari orang bawah hingga orang atasan, dari peringkat pelajar-pelajar
sekolah hinggalah ke pekerja-pekerjadi pejabat-pejabat.

Namun begitu, pelbagai gaya tudung dipakai. Tudung kadangkala tidak lengkap dipakai, pakai tudung tapi masih nampak batang leher, nampak dada, pakai tudung tetapi di masa yang sama pakai kain belah bawah atau berseluar ketat dan sebagainya. Pelbagai warna dan pelbagai gaya tudung dipakai. Pelbagai warna dan pelbagai fesyen tudung direka untuk wanita-wanita Islam kini.

Ada rekaan tudung yang dipakai dengan songkok didalamnya, dihias pula dengan kerongsang (broach) yang menarik. Labuci warna-warni dijahit pula di atasnya. Dan berbagai-bagai gaya lagi yang dipaparkan dalam majalah dan surat khabar fesyen untuk tudung. Rekaan itu semua bukannya untuk mengelakkan fitnah tetapi menambahkan fitnah ke atas wanita.

Walhal sepatutnya pakaian bagi seorang wanita mukmin itu adalah bukan sahaja menutup auratnya malah sekaligus menutup maruahnya sebagai seorang wanita. Iaitu pakaian dan tudung yang tidak menampakkan bentuk tubuh badan wanita, dan tidak berhias-hias yang manaakan menjadikan daya tarikan kepada lelaki bukan muhramnya. Dan pakaian yang boleh melindungi wanita dari jadi bahan gangguan lelaki yang tidak bertanggungjawab.

Bila wanita bertudung tetapi masih berhias-hias, maka terjadilah pakaian wanita Islam sekarang walaupun bertudung, tetapi semakin membesarkan riak dan bangga dalam diri. Sombong makin bertambah. Jalan mendabik dada. Terasa tudung kitalah yang paling cantik,up-to-date, sofistikated, bergaya, ada kelas.Bertudung tapi masih ingin bergaya.

Kesimpulannya, tudung yang kita pakai tidak membuahkan rasa kehambaan. Kita tidak rasa diri ini hina, masih banyak dosa dengan Tuhan mahupun dengan manusia. Kita tidak terasa bahawa menegakkan syariat dengan bertudung ini hanya satu amalan yang kecil yang mampu kita laksanakan. Kenapa hati mesti berbunga dan berbangga bila boleh pakai tudung?

Ada orang bertudung tetapi lalai atau tidak bersembahyang. Ada orang yang bertudung yang masih cari boy friend. Ada orang bertudung yang masih terlibat dengan pergaulan bebas. Ada orang bertudung yang masih menyentuh tangan-tangan lelaki yang bukan muhramnya. Dan bermacam-macam lagi maksiat yang dibuat oleh orang-orang bertudung termasuk kes-kes besar seperti zina, khalwat dan sebagainya.

Jadi, nilai tudung sudah dicemari oleh orang-orang yang sebegini. Orang Islam lain yang ingin ikut jejak orang-orang bertudung pun tersekat melihat sikap orang-orang yang mencemari hukum Islam. Mereka rasakan bertudung atau menutup aurat sama sahaja dengan tidak bertudung. Lebih baik tidak bertudung. Mereka rasa lebih bebas lagi.

Orang-orang bukan Islam pula tawar hati untuk masuk Islam kerana sikap umat Islam yang tidak menjaga kemuliaan hukum-hakam Islam. Walaupun bertudung,perangai mereka sama sahaja dengan orang-orang bukan Islam. mereka tidak nampak perbezaan agama Islam dengan agama mereka.

Lihatlah betapa besarnya peranan tudung untuk dakwah orang lain. Selama ini kita tidak sedar diri kitalah agen bagi Islam. Kita sebenarnya pendakwah Islam. Dakwah kita bukan seperti pendakwah lain tapi hanya melalui pakaian.

Kalau kita tutup aurat tetapi tidak terus memperbaiki diri lahir dan batin dari masa ke semasa, kitalah punca gagalnya mesej Islam untuk disampaikan. Jangan lihat orang lain. Islam itu bermula dari diri kita sendiri.

Ini tidak bermakna kalau akhlak belum boleh jadi baik tidak boleh pakai tudung. Aurat, wajib ditutup tapi baikilah diri dari masa ke semasa. Tudung di luar tudung di dalam (hati). Buang perangai suka mengumpat, suka berdengki, suka berbangga, ego, riak dan lain-lain penyakit hati.

Kalau sudah mula menutup aurat elak-elaklah diri dari suka bertengkar. Hiasi diri dengan sifat tolak ansur. Sentiasa bermanis muka. Elakkan pergaulan bebas lelaki perempuan. Jangan lagi berjalan ke hulu ke hilir dengan boy friend. Serahkan pada Allah tentang jodoh. Memang Allah sudah tetapkan jodoh masing-masing. Yakinlah pada pengaturan Allah.


Apabila sudah menutup aurat, cuba kita tingkatkan amalan lain. Cuba jangan tinggal sembahyang lagi terutama bila dalam waktu bekerja. Cuba didik diri jad
i orang lemah-lembut. Buang sifat kasar dan sifat suka bercakap dengan suara meninggi. Buang sikap suka mengumpat, suka mengkeji dan mengata hal orang lain. jaga tertib sebagai seorang wanita. Jaga diri dan maruah sebagai wanita Islam. Barulah nampak Islam ini indah dan cantik kerana indah dan cantiknya akhlak yang menghiasi peribadi wanita muslimah.

Barulah orang terpikat untuk amalkan Islam. Baru orang bukan Islam hormat dan mengakui “Islam is really beautiful.” Semuanya bila indi
vidu Islam itu sudah cantik peribadinya. Oleh itu wahai wanita-wanita Islam sekelian, anda mesti mengorak langkah sekarang sebagai agen pengembang agama melalui pakaian.

Dipetik daripada :

http://halaqah.net/v10/index.php?topic=9

Tudung zaman sekarang..
« on: 24 May, 2007, 01:20:45 AM »
Menyentuh tentang pemakaian tudung kaum wanita masa kini sebagai renungan bagi wanita Islam. Bila wanita menjaga auratnya dari pandangan lelaki bukan muhram, bukan sahaja dia menjaga maruah dirinya, malah maruah wanita mukmin keseluruhannya. Harga diri wanita terlalu mahal. Ini kerana syariat telah menetapkan supaya wanita berpakaian longgar dengan warna yang tidak menarik serta menutup seluruh badannya dari kepala hingga ke kaki.

Kalau dibuat perbandingan dari segi harta dunia seperti intan dan berlian, ianya dibungkus dengan rapi dan disimpan pula di dalam peti besi yang berkunci. Begitu juga diumpamakan dengan wanita, Kerana wanita yang bermaruah tidak akan mempamerkan tubuh badan di khalayak umum. Mereka masih boleh tampil di hadapan masyarakat bersesuaian dengan garisan syarak. Wanita tidak sepatutnya mengorbankan maruah dan dirinya semata-mata untuk mengejar pangkat, darjat, nama, harta dan kemewahan dunia.

Menyentuh berkenaan pakaian wanita, alhamdulillah sekarang telah ramai wanita yang menjaga auratnya, sekurang-kurangnya dengan memakai tudung. Dapat kita saksikan di sana sini wanita mula memakai tudung. Pemakaian tudung penutup aurat sudah melanda dari peringkat bawahan hingga kepada peringkat atasan. Samada dari golongan pelajar-pelajar sekolah hinggalah kepada pekerja-pekerja pejabat-pejabat.

Walaupun pelbagai gaya tudung diperaga dan dipakai, namun pemakaiannya masih tidak lengkap dan sempurna. Masih lagi menampakkan batang leher, dada dan sebagainya. Ada yang memakai tudung, tetapi pada masa yang sama memakai kain belah bawah atau berseluar ketat dan sebagainya. Pelbagai warna dan pelbagai fesyen tudung turut direka untuk wanita-wanita Islam kini.

Ada rekaan tudung yang dipakai dengan songkok di dalamnya, dihias pula dengan kerongsang (broach) yang menarik. Labuci warna-warni dijahit pula di atasnya. Dan berbagai-bagai gaya lagi yang dipaparkan dalam majalah dan suratkhabar fesyen untuk tudung. Rekaan itu kesemuanya bukan bertujuan untuk mengelakkan fitnah, sebaliknya menambahkan fitnah ke atas wanita.

Walhal sepatutnya pakaian bagi seorang wanita mukmin itu adalah bukan sahaja menutup auratnya, malah sekaligus menutup maruahnya sebagai seorang wanita. Iaitu pakaian dan tudung yang tidak menampakkan bentuk tubuh badan wanita, dan tidak berhias-hias yang mana akan menjadikan daya tarikan kepada lelaki bukan muhramnya. Sekaligus pakaian boleh melindungi wanita dari menjadi bahan gangguan lelaki yang tidak bertanggungjawab.

Bilamana wanita bertudung tetapi masih berhias-hias, maka terjadilah pakaian wanita Islam sekarang walaupun bertudung, tetapi semakin membesarkan riak dan bangga dalam diri. Sombong makin bertambah. Jalan mendabik dada. Terasa tudung kitalah yang paling cantik, up-to-date, sofistikated, bergaya, ada kelas dan sebagainya. Bertudung, tapi masih ingin bergaya.

Kesimpulannya, tudung yang kita pakai tidak membuahkan rasa kehambaan. Kita tidak merasakan diri ini hina, banyak berdosa dengan Tuhan mahupun dengan manusia. Kita tidak terasa bahawa menegakkan syariat dengan bertudung ini hanya satu amalan yang kecil yang mampu kita laksanakan. Kenapa hati mesti berbunga dan berbangga bila boleh memakai tudung?

Ada orang bertudung tetapi lalai atau tidak bersembahyang. Ada orang yang bertudung tapi masih lagi berkepit dan keluar dengan teman lelaki . Ada orang bertudung yang masih terlibat dengan pergaulan bebas. Ada orang bertudung yang masih menyentuh tangan-tangan lelaki yang bukan muhramnya. Dan bermacam-macam lagi maksiat yang dibuat oleh orang-orang bertudung termasuk kes-kes besar seperti zina, khalwat dan sebagainya.

Jadi, nilai tudung sudah dicemari oleh orang-orang yang sebegini. Orang Islam lain yang ingin ikut jejak orang-orang bertudung pun tersekat melihat sikap orang-orang yang mencemari hukum Islam. Mereka rasakan bertudung atau menutup aurat sama sahaja dengan tidak bertudung. Lebih baik tidak bertudung. Mereka rasa lebih bebas lagi.

Orang-orang bukan Islam pula tawar hati untuk masuk Islam kerana sikap umat Islam yang tidak menjaga kemuliaan hukum-hakam Islam. Walaupun bertudung, perangai mereka sama sahaja dengan orang-orang bukan Islam. mereka tidak nampak perbezaan agama Islam dengan agama mereka.

Lihatlah betapa besarnya peranan tudung untuk dakwah orang lain. Selama ini kita tidak sedar diri kitalah agen bagi Islam. Kita sebenarnya pendakwah Islam. Dakwah kita bukan seperti pendakwah lain tapi hanya melalui pakaian.

Kalau kita menutup aurat, tetapi tidak terus memperbaiki diri zahir dan batin dari masa ke semasa, kitalah punca gagalnya mesej Islam untuk disampaikan. Jangan lihat orang lain. Islam itu bermula dari diri kita sendiri.

Ini tidak bermakna kalau akhlak belum boleh jadi baik tidak boleh pakai tudung. Aurat, wajib ditutup tapi dalam masa yang sama, perbaikilah kesilapan diri dari masa ke semasa. Tudung di luar tudung di dalam (hati). Buang perangai suka mengumpat, berdengki, berbangga, ego, riak dan lain-lain penyakit hati.

Walau apapun, kewajipan bertudung tidak terlepas dari tanggungjawab setiap wanita Muslim. Samada baik atau tidak akhlak mereka, itu adalah antara mereka dengan Allah. Amat tidak wajar jika kita mengatakan si polanah itu walaupun bertudung, namun tetap berbuat kemungkaran. Berbuat kemungkaran adalah satu dosa, manakala tidak menutup aurat dengan menutup aurat adalah satu dosa lain.

Kalau sudah mula menutup aurat, elak-elaklah diri dari suka bertengkar. Hiasi diri dengan sifat tolak ansur. Sentiasa bermanis muka. Elakkan pergaulan bebas lelaki perempuan. Jangan lagi berjalan ke hulu ke hilir dengan teman lelaki. Serahkan pada Allah tentang jodoh. Memang Allah sudah tetapkan jodoh masing-masing. Yakinlah pada ketentuan qada' dan qadar dari Allah.

Apabila sudah menutup aurat, cuba kita tingkatkan amalan lain. Cuba jangan tinggal sembahyang lagi terutama dalam waktu bekerja. Cuba didik diri menjadi orang yang lemah-lembut. Buang sifat kasar dan sifat suka bercakap dengan suara meninggi. Buang sikap suka mengumpat, suka mengeji dan mengata hal orang lain. jaga tertib sebagai seorang wanita. Jaga diri dan maruah sebagai wanita Islam. Barulah nampak Islam itu indah dan cantik kerana indah dan cantiknya akhlak yang menghiasi peribadi wanita muslimah.

Barulah orang terpikat untuk mengamalkan Islam. Dengan ini, orang bukan Islam akan mula hormat dan mengakui "Islam is really beautiful." Semuanya bila individu Islam itu sudah cantik peribadinya. Oleh itu wahai wanita-wanita Islam sekalian, anda mesti mengorak langkah sekarang sebagai agen pengembang agama melalui pakaian.

**************************************************************************

Dipetik daripada :
http://www.al-azim.com/masjid/penjelasan_tudung.doc

KEWAJIPAN BERTUDUNG DAN MENUTUP AURAT BAGI WANITA BERIMAN

Persoalan aurat ini telah diputuskan secara jelas oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an menerusi ayat hijab iaitu ayat 30 dan 31 Surah al-Nur yang bermaksud:

30."Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan (kemaluan) mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan.

31. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan (kemaluan) mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya, dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka….." sehingga akhir terjemahan ayat ini.

Kehendak ayat ini adalah jelas, kecuali maksud "perhiasan tubuh yang zahir" itu. Allah tidak menerangkan maksudnya, begitu juga tiada hadis qawli (ucapan Nabi ) yang sahih tentangnya. Tetapi hadis iqrari (perakuan Nabi ) yang sahih amatlah banyak sekali, iaitu perakuan Nabi terhadap para Sahabiat (sahabat wanita) yang semuanya bertudung setelah turun ayat hijab itu.

Pertamanya, hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ibn Jarir daripada ‘Aishah r.a.:

"Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama, apabila turunnya ayat (yang bermaksud) "…dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka…", serta-merta mereka mengoyakkan apa sahaja kain (yang ada di sekeliling mereka) lalu bertudung dengannya."

Kedua, hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan Abu Dawud daripada Safiyyah bint Shaybah katanya:

"Ketika kami bersama ‘Aishah r.a., kami menyebut-nyebut tentang kelebihan-kelebihan wanita Quraisy, lalu ‘Aishah menyampuk: "Memang benar wanita Quraisy ada kelebihan, tetapi demi Allah sesungguhnya aku tidak pernah melihat wanita yang lebih baik daripada wanita Ansar dari segi kuatnya iman dan pegangan mereka terhadap kitab Allah. Apabila Allah turunkan ayat (yang bermaksud) "…dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka…", serta-merta suami-suami mereka balik dan membacakan kepada mereka apa yang Allah turunkan kepada mereka, anak perempuan mereka, saudara perempuan mereka dan semua kaum kerabat mereka, sehingga tiada seorang perempuan pun daripada mereka melainkan bergegas mencari apa saja kain yang ada di sekeliling mereka lalu bertudung dengannya sebagai membenarkan dan membuktikan iman kepada apa yang Allah turunkan, maka jadilah mereka wanita-wanita yang bertudung bersama Rasulullah saw., seperti sekumpulan gagak hitam berada atas kepala mereka."

Lihat tentang tafsiran dua ayat dan dua hadis di atas dalam Muhd Ali al- Sabuni, Mukhtasar Tafsir Ibn Kathir, (percetakan Dar al-Sabuni, Kaherah, t.t.)

Dan ketiga, satu hadis yang tidak berapa sahih tentang tafsiran"perhiasan tubuh yang zahir" itu ialah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud daripada ‘Aishah r.a.:

Bahawa Asma’ bint Abi Bakr (kakaknya) datang bertemu Nabi s.a.w. dalam keadaan pakaiannya nipis sehingga nampak kulit badannya, lalu Nabi s.a.w. pun berpaling daripadanya dan bersabda: "Wahai Asma’, seorang perempuan yang telah sampai haidh (baligh) tidak boleh dilihat (hendaklah bertutup) pada badannya melainkan ini dan ini" (sambil baginda menunjukkan ke arah wajah dan kedua pergelangan tangannya).

Dalam mentafsirkan ayat al-Qur’an yang bermaksud “dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka”. Prof. Dr. Hamka, dalam buku Tafsir Al-Azhar jld. 7 menjelaskan bahawa : ‘Peringatan kepada perempuan, selain menjaga penglihatan mata dan memelihara kemaluan, ditambah lagi iaitu janganlah dipertontonkan perhiasan mereka kecuali yang nyata sahaja. Cincin di jari, muka dan tangan, itulah perhiasan yang nyata. Ertinya yang sederhana dan tidak menyolok dan menganjurkan. Kemudian diterangkan pula bahawa hendaklah selendang (kudung) yang telah memang tersedia ada di kepala itu ditutupkan ke dada’.

Dalam mentafsirkan ayat yang sama, Ahmad Mustafa Al-Maraghiy dalam kitabnya Tafsir Al-Maraghiy jld.9 pula menjelaskan bahawa : “ Begitu juga setiap wanita hendaklah tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya terhadap lelaki yang bukan muhrim, kecuali perhiasan yang biasa nampak dan tidak mungkin dapat disembunyikan, seperti cincin, celak mata dan lipstik. Dalam hal ini mereka tidak akan mendapat kesalahan. Kecualilah jika mereka menampakkan perhiasan yang patut disembunyikan seperti gelang tangan, gelang kaki, kalung mahkota, selempang dan anting-anting kerana semua perhiasan ini terletak pada bahagian tubuh (pergelangan tangan, betis, leher, kepala, dada dan telinga) yang haram dipandang kecuali oleh orang yang dibenarkan untuk melihatnya. Setelah melarang daripada menampakkan perhiasan, Allah Ta’ala selanjutnya memerintahkan agar menyembunyikan sebahagian tempat perhiasan pada anggota tubuh itu di mana mereka hendaklah melabuhkan tudung kepala ke dada bahagian atas hingga di bawah leher, supaya dengan yang demikian mereka dapat menutupi rambut, leher dan dadanya, sehingga tidak sedikitpun dapat dilihat oleh orang lain. Seringkali wanita menutupkan sebahagian tudungnya ke kepala dan sebahagian lagi dilabuhkan ke punggung sehingga nampak pangkal leher serta sebahagian dadanya seperti yang telah menjadi adat jahiliyyah. Dari itu mereka dilarang berbuat demikian”.

Daripada kedua-dua tafsiran ini jelaslah bahawa seorang wanita yang beriman itu wajib memakai tudung dan menutup aurat serta perhiasan-perhiasan yang terletak pada bahagian tubuh yang wajib disembunyikan daripada pandangan orang yang bukan muhrim kecuali pada muka dan kedua-dua pergelangan tangan yang merupakan perhiasan yang nyata bagi mereka.

Seterusnya, Allah Ta’ala turut menegaskan lagi mengenai kewajipan ini dalam Al-Qur’an Al-Karim menerusi ayat 59 Surah al-Ahzab yang bermaksud:

"Wahai nabi (Muhammad), suruhlah kepada isteri-isteri kamu, anak-anak perempuan kamu dan wanita-wanita beriman agar melabuhkan jilbab (pakaian bagi menutup seluruh tubuh) mereka (semasa mereka keluar), cara yang demikian itu lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasihani (terhadap dosa kamu di masa lalu)."

Dalam mentafsirkan ayat ini, Imam Ibn Kathir berkata, "Allah s.w.t. memerintahkan NabiNya supaya menyuruh isteri, anak dan wanita beriman agar mereka melabuhkan jilbab mereka supaya mereka berbeza dengan wanita jahiliyyah (yang tidak menutup aurat), dan jilbab ialah kain yang dipakai di atas tudung kepala…" (Lihat Muhd ‘Ali al-Sabuni, Mukhtasar Tafsir ibn Kathir, Dar al-Sabuni, Kaherah, t.t.)

Berdasarkan tafsiran ini, makna jilbab yang paling tepat dalam konteks hari ini ialah cadur, seperti yang dipakai oleh wanita Iran itu. Bagaimanapun jilbab yang difahami dan dipakai oleh wanita Islam Melayu sekarang pun telah mencapai maksud ayat tadi, iaitu supaya mereka dikenal sebagai wanita solehah dan tidak berani diganggu oleh lelaki fasiq pada kebiasaannya. Jilbab itu hendaklah labuh sedikit sehingga menutup bentuk dada mereka dan lebih baik lagi sehingga menutup paras punggung mereka. Ini kerana antara tempat yang paling menarik perhatian dan menjadi bualan lelaki-lelaki fasiq ialah dua tempat sensitif itu. Maka perlulah tutup lebih sedikit berbanding betis dan lengan. Perkara inilah yang wajib difahami oleh wanita-wanita yang mulia, terhormat dan mempunyai harga diri. Adapun wanita yang tidak bercita-cita sedemikian, maka mereka mencipta pelbagai alasan untuk mengharuskan pendedahan aurat atau perhiasan sulit (bukan zahir) mereka. Namun para pendakwah perlulah berhikmah dan beransur-ansur dalam pendekatan mereka. Jangan menghentam, menyerang dan menghina wanita Islam yang belum dihidayatkan Allah itu. Berilah galakan kepada mereka dan puji-pujilah mereka bahawa mereka kelihatan lebih cantik dan menawan bila mereka menutup aurat. Mudah-mudahan pujian tersebut dapat melembutkan hati mereka untuk bertudung dan menutup aurat dengan sempurna. Namun, pendekatan beransur-ansur itu bukan bermakna mengatakan mendedah rambut tidak berdosa langsung. Ini adalah pernyataan yang salah dan menyeleweng daripada tuntutan syariat Allah dan RasuNya.

Cara menutup aurat seperti yang diterangkan tadi adalah wajib bagi setiap wanita Islam bermula sejak mereka baligh sehingga mencapai usia yang tiada keinginan untuk berkahwin/bersuami lagi (menopaus). Bila mereka telah mencapai usia menopaus dan tiada keinginan lagi, maka ketika itu ada kelonggaran untuk mereka tidak menutup rambut dengan syarat tidak bersolek. Jika mereka masih bersolek dan berpakaian seksi, maka dakwaan bahawa mereka tiada keinginan adalah tidak diterima, kerana lazimnya tujuan solek dan pakaian seksi itu adalah untuk menarik perhatian dan mencari pasangan. Walau bagaimanapun, kekal beriltizam dengan cara menutup aurat yang sempurna itu adalah lebih baik bagi mereka, walaupun sesudah tiada keinginan. Hukum ini berdasarkan ayat 60 Surah al-Nur.

*******************************************************************
Dipetik daripada :
http://www.facebook.com/note.php?note_id...id...

PERHATIAN!!!Tudung Di Akhir Zaman=Tudung Rahib Kristian=Tudung Wanita Moden....(SALAM PERINGATAN)

by Zameer Fisabilillah on Friday, 01 October 2010 at 23:08

Inilah fesyen bertudung zaman sekarang yang anda banggakan/orang sekeliling anda banggakan!!!Moga selepas anda membacanya,bakal mengukuhkan jiwa anda supaya bertudung seperti Al-Quran dan Hadis Rasulullah s.a.w perkatakan BUKANNYA semata-mata berfokuskan kepada fesyen dan ingin menunjukkan bentuk tubuh anda kepada KHALAYAK RAMAI...Kepada sesiapa yang masih ingkar perintah ALLAH S.W.T dan tidak mengenakan pakaian yang menutup aurat dan bentuk tubuh anda 100%,mulakanlah langkah pertama anda KERANA sesungguhnya manusia pada hari ini lebih teruk berbanding apa yang berlaku pada zaman Jahiliyah dahulu...Mengapa saya BERANI MENGATAKAN SEDEMIKIAN???

(contoh ringkas:wanita di zaman Jahiliyah dulu,perempuan sudah tiada maruah dan menayangkan bentuk badan kepada semua LELAKI SEMATA-MATA INGIN MENARIK PERHATIAN....Benarkan,zaman Jahiliyah kembali mengungkap sejarah pada zaman KITA KETIKA INI???zaman Jahiliyah dulu anak perempuan akan ditanam hidup-hidup,TETAPI KINI tak kisah anak perempuan atau anak lelaki dibuang bertempiaran......)

JIKA ANDA MASIH BELUM MENGENAKAN TUDUNG DAN SUKA TAYANG RAMBUT ANDA kerana INGIN KAN PERHATIAN MANUSIA LAIN,sila baca huraiannya pada salah satu NOTE saya yang bertajuk

Manfaat Berjilbab jika ANDA masih belum MENGAMALKANNYA-kaitan ISLAM dan SAINS

(http://www.facebook.com/notes/zameer-fisabilillah/manfaat-berjilbab-jika-anda-masih-belum-mengamalkannya-kaitan-islam-dan-sains/130192303699897)

Isu yang saya hendak fokuskan bukannya kepada wanita yang tidak menutup auratnya(tidak memakai tudung) kerana isu tersebut kita sudah pun tahu apakah hukuman di akhirat kelak kepada manusia yang tidak menutup aurat apatah lagi sengaja mendedahkan aurat TETAPI isu yang saya hendak kaitkan disini ialah ISU PEMAKAIAN Tudung Rahib Kristian=Tudung Di Akhir Zaman=Tudung Wanita Moden.

Sejarah pemakaian tudung ini sebenarnya bermula berkurun lamanya. Pada zaman Judeo-Kristian membuktikan pemakaian tudung yang biasanya dipakai oleh rahib wanita mereka.Cuba anda perhatikan pemakaian rahib wanita? Mereka memakai tudung tetapi tidak menutup dada, tetapi tudungnya labuh ke belakang. Oleh itu apabila kedatangan Islam,setiap wanita diperintahkan Allah S.W.T untuk melabuhkan tudung kepala mereka menutupi bahagian dada. Melalui cara ini ia dapat dibezakan antara rahib wanita dan juga Wanita Islam yang terlalu istimewa pemakaian tudung. Menurut hadis yang diriwayatkan Bukhari, Aisyah radiallahuanha menceritakan kisah ketika Surah An Nur ayat 31 diturunkan di Madinah wanita mukmin Ansar dan Muhajirin terus melaksanakan perintah ini serta-merta tanpa banyak soal dengan mencari apa sahaja kain di sekeliling mereka lalu bertudung dengannya sebagai membenarkan dan membuktikan iman kepada apa yang Allah perintahkan. Tanpa mempertikai apa-apa.

Hadis nabi :"barangsiapa yang meniru sesuatu kaum, maka ia termasuk dari kalangan mereka" – riwayat Abu Daud.

RAMAI MASIH BELUM MENGETAHUINYA, JADI SAMPAIKANLAH KEPADA MEREKA...

Agenda Kafir Laknatullah untuk menyesatkan wanita Islam..

Adakah ini suatu kebetulan?Ini sememangnya agenda Kristian yang amat KURANG AJAR untuk menjahanamkan umat Islam..

Mungkin ramai di antara kita yang tidak mengetahuinya...sebar-sebarkanlah..

selamatkan wanita Islam..Allah..Allah..Allah,Lindungilah kami..

Wahai wanita, janganlah kamu memakai tudung yang dibutang/di pin di belakang sehingga menampakkan bentuk leher di hadapan..gayanya tak ubah seperti birawati Kristian Laknatullah... Jauhilah dari memakai sebegini...agenda kafir laknatullah itu sangat halus sehingga kita tidak sedar, ketahuilah wahai manusia sekalian...

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka meghentak kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur:31).

Jom kita perhatikan beberapa kesalahan pemakai tudung hari ini... Suruhan ALLAH vs Ikutan Fesyen

Menampakkan bentuk leher dan sanggul yang tinggi seperti bonggol unta
Tudung dipakai semata-mata kerana mengikut peredaran zaman atau fesyen.Bukan kerana ingin menutup aurat
Tudung terlalu singkat dan tidak menutup dada sehingga menampakkan bentuk badan
Tudung singkat dan menampakkan susuk tubuh..inilah fesyen tudung yang selalu dipakai hari ini..tudung sekadar menutup kepala dan rambut..tapi bentuk tubuh yg lainnya masih jelas kelihatan..
Gambar yang sudi dikongsikan bersama antara saudara seISLAM untuk menyebarkan SALAM PERINGATAN ini...Sambutlah salam peringatan ini WAHAI WANITA YANG MASIH DEGIL!!!Ingatlah,ISLAM itu bukan hanya terletak pada nama sahaja, ISLAM itu bukan terletak pada keturunan sahaja...TETAPI Islam itu terletak pada PENGHAYATAN,PENDEKATAN DAN DIPRAKTIKKAN DALAM KEHIDUPAN SEHARIAN SEPENUHNYA TERHADAP ISLAM......

Hayatilah maksud yang tersirat pada SURAH AL-WAQIAH berulangkali...Kerana Ia Menyedarkan kepada MEREKA yang Leka Permainan DUNIA(http://www.facebook.com/notes/zameer-fisabilillah/hayatilah-maksud-yang-tersirat-pada-surah-al-waqiah-berulangkalikerana-ia-menyed/130195997032861)

p/s:Pada awalnya terasa berat hati hendak menceritakan hal ini memandangkan masyarakat wanita di persekitaran kita sudah pun mengamalkan cara berpakaian tudung rahib kristian.Boleh dikatakan,ramai perempuan yang memakai seperti gambar di atas.Tetapi jika tidak bongkarkan rahsia ini,kita pula akan ditanya di akhirat nanti,adakah kita sudah menjalankan tanggungjawab kita iaitu SALING INGAT-MENGINGATI???

Namun setelah berfikir panjang,terasa memang patut kita dedahkan maklumat ini secara terbuka.

Firman Allah s.w.t,“Dan berilah peringatan serta amaran kepada kaum kerabatmu yang dekat.” (Surah asy-Syu‘ara’: 214)

Sebagai saudara sesama Islam dan prihatin kepada sahabat-sahabat dan kaum hawa(takut anda bakal menerima azab yang pedih kelak), saya terdetik di hati untuk menyebarkan isu ini yang semakin hari semakin dipandang ringan dalam masyarakat hari ini.Kita sudah dikelirukan antara fesyen dan suruhan Allah s.w.t.

Anda perlu ingat,selepas anda membaca semua ini,terpulanglah kepada anda kerana anda sudah dikurniakan akal dan boleh berfikir.Saya tidak boleh memaksa anda apatah lagi menolong anda pada hari perhitungan kelak.Ingatlah,Allah s.w.t menciptakan manusia,maka sudah tentu Allah s.w.t tahu mana yang baik untuk manusia dan mana yang buruk untuk manusia.

Anda juga harus ingat serta pandang pada sudut positif,isu pemakaian tudung ini bukan saya yang suruh,TETAPI ALLAH s.w.t yang suruh..Kehadiran saya tidak lain tidak bukan hanyalah penyampai peringatan,SALAM PERINGATAN…..

Tahukah anda?setiap molekul makanan CIPTAAN barat mengandungi sistem Dajjal?Sudahkah anda lupa apa yang saya katakan dulu melalui alam maya ini mengenai sistem dajjal yang semakin hari semakin hampir mencapai tahap KESEMPURNAANNYA?

jika anda tidak tahu,masih belum terlewat untuk anda mengetahui maklumat ini.

Rajin-rajinlah MENYELONGKAR "Older post" saya yang suatu ketika dulu telah saya tuliskan dari awal...

jangan sekadar MENYELONGKAR statement yang dituliskan sahaja,TETAPI teruskan usaha anda MENYELONGKAR segala COMMENT yang tersembunyi di bawah STATEMENT tersebut...

Sudahkah anda merantau apa yang saya post sejak dari awal saya menjejakkan jari menaip di alam maya ini???Saya juga manusia lemah macam saudara-saudari sekalian juga,boleh jadi saya lebih teruk dari saudara-saudara sekalian....Tidak mustahil Allah s.w.t sengaja mengilhamkan kepada naluri saya untuk mengirimkan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan kepada manusia melalui kemudahan teknologi,dengan harapan ada manusia dapat memahami dan segera membuat pembetulan....

KEPADA ANDA SEMUA YANG ADA SEBARANG SOALAN/KERAGUAN/KEMUSYKILAN/TIDAK BERPUAS HATI MENGENAI SALAM PERINGATAN INI,JEMPUTLAH COMMENT DI BAWAH INI...KERANA KAMI DI SINI MENERIMA KEHADIRAN ANDA...

Berapa ramaikah di kalangan anda menyahut salam peringatan saya sejak dari awal lagi?Berapa ramaikah di kalangan anda yang menganggap negatif terhadap salam peringatan saya ini sebagai BUKAN SATU TEGURAN TETAPI SATU SINDIRAN?Berapa banyakkah antara anda yang menyebarkan SALAM PERINGATAN saya?sungguh bergembiralah malaikat yang mencatat amalan kebaikanmu dan sedihnya malaikat tatkala mencatat amalan keburukanmu…

Jika anda menutup aurat sepenuhnya(bertudung sebegini)..,TAHNIAH SAYA UCAPKAN...Moga anda selamat di DUNIA dan di AKHIRAT...Amin...Moga anda menjadi pengunjung syurga dan menetap di sana selama-lamanya...Berpesanlah kepada kaum anda juga,Moga mereka diberkati Allah seandainya berpakaian menutup aurat sepenuhnya..Bukan sekadar sedikit dan seketika cuma....

*****************************************************************
Dipetik daripada:
http://www.mykhilafah.com/fikih-muslimah/1273-aurat-wanita-muslimah-menurut-syarak


Selasa, 24 Mac 2009 14:34
Pembahasan tentang masalah aurat wanit Islam tidak pernah sunyi dari diperkatakan. Malangnya, apa yang mendukacitakan adalah sering kali penjelasan tentangnya tidak berlandaskan nas yang sahih sebaliknya hanyalah takwilan yang dilatari hawa nafsu serta kebencian kepada sumber yang qat’ie. Sebahagian kaum Muslimah yang telah dirasuk pemikiran kufur turut mempertikaikan kewajaran pemakaian tudung yang juga dipanggil ‘hijab’ dengan menganggap menutup kepala sebagai menutup akal. Contoh golongan ini adalah seperti Pengurus Program Sisters In Islam (SIS), Norhayati Kaprawi dalam sesi dialog Islam Liberal di Hotel Selesa, Pasir Gudang yang berkata bahawa pakaian taqwa itu lebih baik dari menutup aurat.

Ada juga yang beranggapan menutup aurat adalah penyebab kemunduran umat Islam. Ahmad Reda yang merupakan penyeru agar ditumbangkan sistem pemerintahan Islam di Turki menganggap bahawa selagi lelaki dan wanita Turki tidak bercampur bebas dan membuka hijabnya maka tiada kedaulatan undang-undang dan kebebasan di Turki [Rujuk al-Ittijah al-Wataniah fi al-Adab al-Mu’sir, Jil. 2, ms273). Manakala Taha Husin dari Mesir menyatakan dalam bukunya ‘Mustaqbal al-Thaqafah fi Misr’: “Kita mesti mengikut jejak langkah orang-orang Eropah dan cara mereka. Kita mesti menjadi sekutu mereka dan rakan kongsi dalam ketamadunan, sama ada yang baik atau yang buruk, sama ada yang manis atau yang pahit, sama ada yang disukai atau yang dicaci.”
Baginya menutup aurat perlu ditentang kerana ianya berbeza dengan Barat. Dr. ‘Imad ‘Abd Hamid An-Najar dalam Jaridah al-Akhbar pula menyatakan: “Adapun mengenai hijab dan percampuran antara wanita dan lelaki dalam kehidupan harian, ini adalah perkara yang boleh ditentukan oleh sesebuah masyarakat berdasarkan keadaannya. Bagi setiap masyarakat ada pakaian dan cara-cara yang memudahkan individunya. Apa yang disebut di dalam al-Qur’an mengenai hijab adalah khusus untuk isteri-isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Hukum-hakam ini bukanlah semestinya berkaitan dengan seluruh wanita.”

Demikianlah di antara sebahagian penentangan-penentangan terhadap hukum Allah yang ditunjukkan oleh kumpulan atau individu yang sudah teracun oleh pemikiran kufur Barat. Di samping itu, masih terdapat ramai juga wanita Muslim yang masih tidak tahu, tidak faham atau salah faham dengan cara-cara menutup aurat secara syar’ie di dalam kehidupan mereka. Justeru, mereka terjatuh di dalam dosa dan keharaman. Justeru, hukum menutup aurat ke atas Muslimah ini mestilah diperhatikan betul-betul agar kita tidak terjerumus ke dalam kesesatan dan dosa.

Dalil-dalil tentang Aurat Wanita

(i) Batasan aurat wanita
Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Leher dan rambutnya adalah aurat di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) walaupun sehelai. Pendek kata, dari hujung rambut sampai hujung kaki kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya.” [TMQ An-Nur (24):31].

Yang di maksud “wa laa yubdiina ziinatahunnaa” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah "wa laa yubdiina mahalla ziinatahinnaa", maksudnya janganlah mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan. [Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur`an, Juz III hal.316].

Selanjutnya, kalimah “illa maa zhahara minhaa” [kecuali yang (biasa) nampak darinya], ini bermaksud, ada anggota tubuh yang boleh dinampakkan iaitu wajah dan kedua telapak tangan. Demikianlah pendapat sebahagian sahabat, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan juga Aisyah [Al-Albani, 2001:66].

Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310H) menjelaskan dalam kitab tafsirnya, Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur`an Juz XVIII ms 84, mengenai apa yang di maksud “kecuali yang (biasa) nampak darinya (illaa maa zhahara minha)”, katanya, pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan bahawa, yang dimaksudkan (dalam ayat di atas) adalah wajah dan dua telapak tangan.

Pendapat yang sama dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jamia li Ahkam Al-Qur’an, Juz XII hal. 229 [Al-Albani, 2001:50 & 57]. Jadi, apa yang biasa nampak darinya adalah wajah dan dua telapak tangan sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan Muslimah di hadapan Nabi Sallalahu alaihi wa Sallam sedangkan baginda mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan solat dan biasa terlihat di masa Rasulullah iaitu di masa masih turunnya ayat Al Qur`an [An-Nabhani, 1990:45].

Dalil lain yang menunjukkan bahawasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan ialah sabda Rasulullah kepada Asma’ binti Abu Bakar,

Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidh) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR Abu Dawud]

(ii) Aurat Wanita dalam Hayaatul ‘Am (Kehidupan Umum/Public Life)
Yang dimaksudkan dengan hayaatul ‘am adalah keadaan di mana wanita itu berada di luar dari kawasan rumahnya di mana mereka bercampur dengan masyarakat. Pakaian wanita dalam kehidupan umum iaitu di luar rumahnya terdiri dari dua jenis iaitu

(a) libas asfal (baju bawah) yang disebut dengan jilbab, dan
(b) libas ‘ala (baju atas) iaitu khimar (tudung).

Dengan dua pakaian inilah seseorang wanita itu boleh berada dalam kehidupan umum seperti di jalanan, di pasar-pasar, pasar raya, kampus, taman-taman, dewan orang ramai dan seumpamanya. Dalil wajib memakai jilbab bagi wanita adalah berdasarkan firman Allah,

Wahai Nabi! katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.” [TMQ Al-Ahzab (33):59].

Oleh sebab Al-Quran adalah berbahasa Arab, dan perkataan “jilbab” itu adalah perkataan Arab, maka kita hendaklah memahami apakah yang dimaksudkan “jilbab” di dalam bahasa Arab. Dengan kata lain, kita hendaklah memahami dan mengikuti apakah yang orang Arab faham bila disebut jilbab. Maka inilah pakaian yang diperintahkan oleh Allah kepada perempuan. Di samping itu, perincian tentang pakaian ini telah pun dijelaskan di dalam banyak hadis sahih yang wajib diikuti oleh setiap orang.

Jadi, apakah makna jilbab itu? Selain dari melihat sendiri kepada nas-nas hadis tentang pakaian yang dipakai Muslimah semasa zaman Rasulullah, kita juga boleh merujuk kepada banyak kamus Arab untuk mengetahui makna “jilbab”. Dalam kitab Al-Mu’jam Al-Wasith karya Dr. Ibrahim Anis [Kaherah: Darul Maarif ms 128], jilbab diertikan sebagai ats-tsaubul musytamil ala al-jasadi kullihi (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau ma fauqa ats-tsiyab kal milhafah (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafahal-mula’ah asy-tamilu biha al-mar’ah (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Berdasarkan pengertian ini, jelaslah bahawa yang diwajibkan ke atas wanita adalah mengenakan pakaian yang satu (sekeping) yang lurus dari atas hinggalah ke bawah, yakni hingga ke mata kaki. Maksud milhafah/mula’ah (Arab) adalah pakaian yang dikenakan sebagai pakaian luar [di dalamnya masih ada pakaian dalam (pakaian rumah) atau pakaian sehari-hari tetapi bukan hanya coli dan seluar dalam] lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua mata kakinya. Untuk pakaian atas, wanita disyariatkan/diwajibkan memakai “khimar” iaitu tudung atau apa sahaja bahan/kain yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang leher baju di dada.

Dalil mengenai wajibnya mengenakan pakaian bahagian atas (khimar/tudung) adalah Firman Allah,

Hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka” [TMQ An-Nur (24):31].

Pakaian jenis ini (jilbab dan khimar) wajib dipakai oleh seorang Muslimah (yang telah baligh) apabila hendak keluar menuju ke pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum. Setelah memakai kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) maka barulah dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju ke kehidupan am tanpa sebarang dosa. Jika tidak, maka dia tidak boleh (haram) keluar dari rumah kerana perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam semua keadaan. Mana-mana wanita yang telah baligh dan melanggar ketetapan Allah ini, maka berdosalah mereka dan layak mendapat seksa Allah di akhirat nanti.

(iii) Pakaian wanita dalam Hayatul Khassah (Kehidupan Khusus/private life)
Yang dimaksudkan dengan hayatul khassah adalah keadaan di mana seseorang wanita itu menjalani kehidupannya di rumahnya bersama dengan anggota keluarganya yang lain.

Adapun cara seorang Muslimah menutupi auratnya di hadapan lelaki ajnabi dalam kehidupan khusus seperti di rumahnya atau di dalam kenderaan peribadi, syarak tidak menentukan bentuk/fesyen pakaian tertentu tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafaz dalam firman-Nya,

wa laa yubdiina” (“dan janganlah mereka menampakkan”) [Surah An-Nur:31]

atau sabda Nabi,

lam yashluh an yura minha” (“tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya”) [HR Abu Dawud].

Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Tetapi ia adalah tertakluk kepada hukum tabarruj (sila lihat perbincangan di bawah).

Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat iaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar'i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, atau fesyennya. Namun demikian syara' telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian wajib dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka tidak dikatakan menutup aurat. Oleh kerana itu apabila kain penutup itu tipis/transparent sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui sama ada kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat dan haram hukum memakainya.

(iv) Wajib memakai tsaub, di samping jilbab

Tsaub ialah ‘pakaian di rumah’ iaitu pakaian yang dipakai oleh wanita di hadapan mahramnya semasa berada dalam hayatul khassah (kehidupan khusus) tatkala tiada lelaki ajnabi (lelaki asing) di dalamnya. Dalil mengapa wajib mengenakan tsaub di dalam jilbab ialah berdasarkan firman Allah,

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haidh dan mengandung) yang tiada ingin berkahwin (lagi) tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (tsiyab) mereka, dengan tidak bertujuan mendedahkan perhiasan mereka” [TMQ An-Nur (24):60].

Ayat ini membenarkan wanita yang telah putus haid dan tiada keinginan berkahwin menanggalkan atau melepaskan pakaian (tsaub). Ini bermakna, jika tiada ‘pakaian’ di dalam jilbab, bermakna wanita yang telah putus haid berkenaan akan berbogel, walhal berbogel tidak dibolehkan. Justeru, tsaub adalah ‘pakaian dalam’ (pakaian rumah) yang wajib dipakai oleh Muslimah di samping jilbab (pakaian luar) di dalam hayatul am atau di dalam hayatul khas tatkala ada lelaki ajnabi. [Rujuk Imam Muhammad Abu Zahrah dalam kitab Usulul Fiqh:164-147, Abdul Wahab Khallaf kitab Ilmu Usul Fiqh:143-153 dan Sheikh Taqiuddin an-Nabhani dalam kitab As-Syahsiyyah Al-Islamiyyah Juz. 3:178-179].

Larangan Bertabarruj
Adapun dalil tentang larangan bertabarruj adalah juga dari Surah An-Nur (24):60 iaitu Firman Allah,

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti [dari haid dan mengandung] yang tiada ingin kawin [lagi], tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak [bermaksud] menampakkan perhiasan (tabaruj), dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [TMQ An Nur(24):60]

Mafhum muwafaqah (yang disepakati) dari ayat ini adalah jika perempuan tua yang telah putus haid haram menampakkan perhiasan iaitu bertabarruj, apatah lagi perempuan yang masih muda, belum putus haid dan berkeinginan berumahtangga, tentulah lebih lagi. Dalil lain ialah

Dan hendaklah kamu tetap di rumah kamu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliah.” [TMQ Al-Ahzab (33):33]

Dan Hadis Rasulullah riwayat dari Bazzar dan At-Termizi menjelaskan,

Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syaitan akan memperhatikannya.”

Abul A’la al Maududi berkata:

“Jika kalimat tabarruj dipergunakan kepada kaum wanita, ia bermakna-

(i) wanita yang menunjukkan kecantikan wajahnya, daya tarik tubuhnya kepada lelaki asing (yang bukan mahramnya);

(ii) wanita yang mendedahkan kecantikan pakaian dan perhiasannya kepada lelaki asing; dan memperlihatkan dirinya, make-upnya, gerak-gerinya dan kemegahannya. Selain memastikan pakaiannya tidak nipis, jarang, longgar, tidak memakai perhiasan yang menarik perhatian lelaki ajnabi, tidak menyerupai pakaian lelaki atau orang kafir/musyrik, pakaiannya yang bukan melambangkan kemegahan, dia juga tidak boleh tampil dengan haruman semerbak. "Sesiapa jua wanita yang memakai minyak wangi kemudian melintasi khalayak ramai dengan tujuan dihidu bau yang dipakainya, maka dia dikira berzina” [hadis dari Abu Musa al-Asy’ari].

Khatimah

Sesungguhnya aurat wanita Islam bukanlah hanya tudung semata-mata sebagaimana yang difahami oleh sebahagian umat Islam sebaliknya apa yang paling penting ialah setiap Muslimah mestilah memahami batasan aurat dalam hayatul khassah (kehidupan khusus) dan hayatul am (kehidupan umum) menurut syarak selain menyedari keharaman bertabarruj atas semua wanita sama ada belum atau telah putus haid. Menutup aurat juga hendaklah didasari dengan iman dan taqwa iaitu mengharapkan keredhaan Allah semata-mata, bukan atas dasar hak asasi atau rutin harian. Memetik kata-kata Sheikh Ali Thantawi:

"Terdapat perbezaan yang besar antara seorang yang terjaga lewat pagi kemudian terus bergegas untuk keluar bekerja. Disebabkan kesibukan menjalankan tugas, bel
iau tidak berkesempatan untuk makan dan minum sehingga tibanya waktu malam, sementara seorang yang lain yang turut mengalami keadaan berlapar dan dahaga tetapi telah berniat untuk berpuasa, telah mendapat pahala daripada amalannya disebabkan niatnya, sementara orang yang pertama tidak memperoleh apa-apa sedangkan dia turut berlapar dan dahaga. Begitulah keadaannya dengan amalan-amalan kebiasaan yang lain, bilamana diniatkan untuk mendapatkan keredhaan Allah Subhanahu wa Taala akan memperolehi pahala dari Nya, sebaliknya jika dilakukan sebagai rutin hidup, dia tidak akan memperoleh apa-apa".

(seperti jubah), atau Wallahu ‘alam bi sawab.