Selasa, 28 Ogos 2012

RENTETAN BEBERAPA MIMPI LALU YANG MEMBERI JALAN KEPADA PENCARIAN PENGERTIAN DAN KEUTAMAAN SEDEKAH DALAM ISLAM, MAKA SAYA MENYENARAIKAN BEBERAPA PETIKAN BAHAN YANG TELAH SAYA BACA DAN PILIH UNTUK DIKONGSIKAN DALAM RUANGAN INI.... SEMOGA DAPAT MEMBERIKAN MANAFAAT YANG BERKESAN, INSYAALLAH..


 
Dipetik daripada : 
http://syaamilquran.com/keutamaan-sedekah-dalam-al-quran-dan-hadits.html

Keutamaan Sedekah dalam Al Qur’an dan Hadits

2
Dalam Al Quran, Allah Swt. berfirman tentang keutamaan bersedekah dan berinfak di jalan-Nya. Apa yang disampaikan Al Qur’an tersebut diperkuat dan diperjelas oleh Rasulullah saw. melalui hadits-haditnya. Pada bahagian ini kita lihat sebagian di antaranya.

Pertama: Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS At Taubah, 9: 99)

Berdasarkan ayat ini, sedekah akan mendekatkan kita kepada Allah, Zat Yang Maha Pemberi rezeki. Dekat dengan Allah Yang Mahakaya akan menjamin terjaganya rezeki dan harta yang kita miliki. Artinya, semakin bakhil kita, akan semakin jauh kita dari rezeki dan nilai hakiki kekayaan yang sebenarnya.

Sejatinya, pemurah adalah sifat yang dimiliki Allah Swt. “Akulah Ar Rahmân dan Ar Rahîm. Aku petikkan baginya dari nama-Ku…,” demikian sabda Allah Swt. dalam sebuah hadits qudsi. Pancaran sifat ini kemudian “diserap” oleh para nabi dan orang-orang saleh sehingga menjadi akhlak utama mereka. Di antara semua manusia, Rasulullah saw. adalah manusia paling mampu mencontoh sifat pemurah ini.
 
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kita diperintahkan untuk berakhlak dengan akhlak Allah, takhalluq bi akhlâqillâh. Untuk itu, kita pun dituntut untuk menjadi seorang pemurah karena itulah satu sifat Allah. Sebagai pengamalan kongkret, akan sangat baik untuk kita mulai membiasakan diri menyisihkan sebagian rezeki kita untuk orang lain, entah itu untuk orang tua, saudara, teman, tetangga, atau pun guru. Ada baiknya orang-orang yang memiliki hubungan kekeluargaan lebih didahulukan, kemudian tetangga dekat, tetangga jauh, dan seterusnya.

Merancang siapa orang yang akan kita kunjungi untuk bersilaturahmi dan memberikan hadiah kepadanya juga sangat baik. Akan sangat baik jika dalam daftar perencanaan tersebut bukan hanya orang-orang yang kita sukai atau yang sering berbuat kebaikan kepada kita. Masukkanlah orang-orang yang selama ini membenci dan menjauhi kita, terutama dari keluarga kita sendiri. Berilah mereka hadiah yang berarti baginya. Menurut Rasulullah saw., ini adalah sebuah keutamaan. “Sedekah yang paling utama ialah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR Muslim)

Sahabat ‘Uqbah bin Amir pun mengungkapkan bahwa Rasulullah saw. pernah menasihati dirinya sebagai berikut.
Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu.” (HR Hakim)

Sedekah atau hadiah yang kita berikan tidak harus selalu barang mahal. Yang penting, hal tersebut bermanfaat, meskipun sederhana. Yang paling utama adalah suasana batin dan keikhlasan serta cara kita dalam melakukannya. Itulah yang akan berbekas.
Tidak akan pernah merugikan kita melakukan semua ini. Apabila kita belum mampu beribadah dengan baik, jarang tahajud, jarang puasa dan shalat sunnah, baca Al Qur’an baru sesekali, alangkah baiknya apabila kita selalu berbuat baik kepada sesama. Allah Swt. pasti akan menolong kita. Allah berfirman sebagai berikut.
Akulah Ar Rahmân dan Ar Rahîm. Aku petikkan baginya dari nama-Ku. Barang siapa yang menghubungkan, niscaya Aku akan menghubunginya; dan barang siapa memutuskannya, niscaya Aku memutuskan hubungan dengannya.

Rasulullah saw. pun pernah berpesan dengan kata-kata yang indah sebagai berikut.

Orang yang pemurah itu dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga, dan jauh dari api neraka. Sementara itu, orang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dari api neraka.

Kedua: Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”  (QS Al Baqarah, 2: 261)

Artinya, minimal 700 kali lipat ganjaran dari Allah Swt. bagi siapa pun yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Mengapa disebut minimal? Ada sebuah perumpamaan sangat baik yang diungkapkan oleh Ustaz Arifin Ilham dalam sebuah ceramahnya. Menurutnya, analogi atas sedekah itu sebagai berikut.
  1. Tanaman atau tumbuhan, berupa sebuah pohon yang memiliki tujuh cabang dan setiap cabang memiliki tujuh ranting. Kalau rantingnya seratus, berapa banyak daun-daunnya, berapa banyak buahnya, berapa banyak bunganya, kemudian berapa banyak bibit-bibit baru yang dilahirkannya, berapa banyak perkembangannya? Akan sangat sulit bagi kita untuk menghitungnya. Tentu saja ada catatan bahwa yang ditanam adalah bibit unggul (harta terbaik, terhalal), di tanam di tempat yang paling subur (diberikan kepada yang paling berhak: kaum kerabat yang fakir miskin, yang bekerja untuk kita, kepada tetangga, guru kita, dan lainnya), disiram dengan air (doa, istighfar, dan amal saleh), dan dijaga dari hama dan bakteri perusak (ujub, riya, sum’ah, takabur, tidak ikhlas, dan lainnya)[1]
  2. Kelipatan. Allah Swt. melipatgandakan dari satu menjadi tujuh kemudian menjadi seratus. Seratus ini bukan angka mati karena masih mungkin untuk berkembang. Kemudian, Allah Swt. mengunci dengan kata ”Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Boleh jadi, sedekah kita menjadi tabungan amal produktif yang akan Allah Swt. lipatgandakan sesuai dengan kehendak-Nya. Ada pesan yang tersirat di sini, “Wahai hamba-Ku, jangan khawatir, akan Aku luaskan rezekimu. Sekecil apa pun, Aku tahu kebutuhan dan amal baikmu.” Maka dari itu, berbuatlah atas dasar batas maksimal kemampuan kita. Jika kita hanya mampu bersedekah seratus rupiah, berikanlah yang seratus rupiah itu. Jika kita memiliki keluasan rezeki dan mampu bersedekah satu juta, berikanlah yang satu juta itu. Jumlah tidak menjadi tolok ukur utama penilaian Allah Swt. karena setiap orang berbeda-beda kemampuannya. Tolok ukur penilaian adalah persentase dan keikhlasan dari sedekah yang kita berikan.

Ketiga: Katakanlah, ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.” (QS Saba, 34: 39)
Ayat yang mulia ini menyiratkan sebuah pesan bahwa tidak akan ada yang hilang dari rezeki yang kita nafkahkan di jalan Allah Swt. Justru, dengan disedekahkan itulah harta kita menjadi kekal. Sebagai contoh, kita punya uang sepuluh ribu, dua ribunya kita sedekahkan, dan sisanya kita gunakan untuk kepentingan sendiri. Dalam pandangan Allah Swt., uang yang dua ribu itulah rezeki kita sebenarnya yang akan menolong kita di dunia dan di akhirat.
Tidaklah kita menyedekahkan kelebihan harta kita kecuali akan Allah ganti semuanya dengan yang lebih baik. Tidak ada kerugian. Yang ada hanyalah keuntungan. Dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah Swt. menyebut harta yang kita sedekahkan dengat kata ”pinjaman”. Artinya, Allah Swt. meminjam harta yang kita miliki dan Dia akan mengembalikannya dengan berlipat ganda pada saat kita sangat membutuhkannya[2].

Mahasuci Allah. Mahadermawan Dia. Padahal, sangat mudah bagi Dia untuk mengambil harta tersebut walau dengan cara paksaan sekalipun karena semua adalah milik-Nya. Harta yang dimiliki manusia hanyalah sedikit saja dari harta milik-Nya yang Dia titipkan kepada manusia. Oleh karena itu, sampai detik ini, tidak ada orang berinfak secara ikhlas yang menjadi fakir miskin. Mengapa? Karena Allah dan Rasul-Nya telah berjanji bahwa dengan sedekah, seseorang akan mendapatkan rezeki, malaikat pun akan mendoakan untuk kebaikan dan pelipatgandaan rezeki bagi orang yang gemar bersedekah. Selain itu, persentase sedekah yang wajib dikeluarkan pun sangat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan harta yang Allah Swt. titipkan, yaitu 2,5 persen.

Ada hal menarik ketika turun surat Saba ayat 39 ini. Para sahabat berlomba untuk bersedekah. Kisah yang paling monumental adalah ”persaingan” antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab dalam menafkahkan hartanya di jalan Allah. Dikisahkan, Umar bin Khattab datang kepada Rasulullah saw. dengan membawa setengah dari harta yang dimilikinya lalu dia menyerahkannya. Rasulullah saw. pun takjub dengan pengorbanan sahabatnya tersebut. Tidak lama kemudian, datanglah Abu Bakar membawa seluruh harta bendanya lalu diletakkan antara dua tangan Rasulullah saw. Melihat banyaknya harta yang dibawa Abu Bakar, Rasulullah saw. terheran-heran lalu bertanya kepadanya, ”Wahai sahabatku, kalau sudah seluruh harta bendamu engkau korbankan, apakah lagi yang akan engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Abu Bakar terdiam lalu menjawab, ”Saya tinggalkan mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Demikianlah kehebatan jiwa seorang kader terbaik Rasulullah saw.


Keempat: ”… ada yang memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian; dia menanti nanti mara bahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa mara bahaya. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS At Taubah, 9: 98)
Sesungguhnya, infak dan sedekah akan menghindarkan kita dari kerugian, bencana, kesusahan, dan marabahaya. Sedekah akan mampu mengubah takdir buruk seseorang menjadi takdir baik.

Ada beragam bala bencana di sekitar kita: dari atas, panas berkepanjangan; dari bawah, gempa bumi; dari samping, perampokan, gangguan orang jahat, dan sebagainya. Ternyata, semua itu bisa dihindarkan melalui infak dan sedekah. Maka dari itu, sangat jauh disebut cerdas orang yang kikir dan menahan hartanya karena dia telah mengundang bala bencana untuk menghampiri dirinya. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa sedekah itu bisa menolak bala bencana dan memperpanjang umur. Andaipun takdir buruk tetap menimpanya, itu menjadi sarana dari Allah untuk mengangkat derajat dan menjadi batu loncatan baginya untuk mendapatkan nikmat yang lebih besar.

Saya memiliki pengalaman berharga dengan sedekah ini. Suatu hari, Allah Swt. memberi saya hidayah untuk bersedekah. Saat itu di saku ada uang sekitar 92 ribu rupiah. Delapan puluh ribu rupiah saya sedekahkan dan sisanya saya simpan untuk ongkos pulang dan membeli makanan. Keesokan harinya, ketika pagi-pagi masuk kantor, saya terpeleset dan jatuh dengan muka menghadap ke depan. Di hadapan saya ada kursi yang sandarannya sudah lepas sehingga besi penyangganya yang runcing tersembul ke luar. Ujung besi tersebut berada searah dengan mata. Menurut perhitungan, ketika jatuh itu, ”seharusnya” ujung besi tersebut menusuk salah satu mata saya. Namun ajaib, ketika saya jatuh, ujung besi tersebut tidak mengenai apa pun dari badan saya. Seperti ada kekuatan yang mendorong saya untuk jatuh ke samping kursi. Padahal, saya tidak memiliki kekuatan lagi untuk menahan jatuhnya badan atau berpegang ke dinding. Boleh jadi, sedekah yang delapan puluh ribu itulah yang menjadi ”pemancing” datangnya pertolongan Allah. Kalau tidak, bukan hanya besi itu yang akan menancap di mata, melainkan juga pecahan kaca dari kaca mata yang saya pakai yang akan menusuk dan merusakkan kedua mata ini.

Kelima: Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Al Baqarah, 2: 274)
Allah Swt. telah berjanji bahwa sedekah akan membuat hati menjadi tenang dan tenteram, jauh dari kegelisahan dan penyakit-penyakit kejiwaan. Betapa tidak, sedekah akan menanamkan semangat kasih sayang dan silaturahmi di antara sesama manusia. Sedekah itu pintu silaturahmi dan pintu persaudaraan. Sedekah bisa membuat lawan menjadi kawan, musuh menjadi saudara, yang benci menjadi cinta. Bahkan, lebih jauh lagi, sedekah yang dilakukan secara berkesinambungan akan mampu melahirkan keseimbangan di tengah-tengah masyarakat sehingga terjadinya kesenjangan sosial dan rusaknya tatanan kehidupan bermasyarakat bisa diminimalisasi. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan agar kita selalu berbuat baik kepada sesama, sekalipun terhadap seorang kafir.
Ada sebuah kisah dari Asma binti Abi Bakar. Dia berkata, “Pada masa Rasulullah saw. Hidup, ibuku datang menemuiku dan dia adalah seorang perempuan musyrik. Aku meminta fatwa dari Rasulullah saw., ’Ibuku menemuiku dan dia ingin aku memberikan hadiah untuknya. Apakah aku harus bersikap baik kepadanya?’ Rasul bersabda, ’Ya, bersikap baiklah kepada ibumu’.”

Sebuah kebaikan berpotensi melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya. Betapa banyak orang yang terbuka hatinya karena sebuah kebaikan yang sepele dalam pendangan manusia. Saling memberi dan bersedekah sangat efektif untuk mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkan kasih sayang di antara sesama. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
Wahai kaum muslimat, jangan memandang rendah sedekah yang diberikan tetanggamu, meskipun sekadar telapak kaki kambing.” (HR Bukhari)

Mengapa Rasulullah saw. melarang kita memandang remeh sedekah dan hadiah yang sangat sederhana sekalipun? Menurut beliau, sedekah yang diberikan secara ikhlas dan dengan cara yang baik akan mampu melembutkan hati dan mempersatukan hati-hati yang terpisah.
Bersalam-salamlah kamu, niscaya hal itu akan menghilangkan perasaan iri hati. Saling memberilah di antara kamu, niscaya kamu akan saling mencintai antara sesama kamu dan hal itu akan menghilangkan permusuhan.” (HR Malik)

Keenam: sedekah akan membuat yang fana menjadi kekal. Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat bagi manusia, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR  Muslim).
Inilah peluang emas bagi kita untuk menabung harta dan perbekalan di akhirat. Bukankah kehidupan dunia itu sementara sifatnya dan kita akan menuju kehidupan yang kekal abadi? Al Quran menyebutkan sebagai berikut.
Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS Al Mu’min, 40: 39)

Dikutip dari Buku :
AGAR PARA MALAIKAT BERDOA UNTUKMU
Penulis : Sulaiman Abdurrahim
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
 Dipetik daripada :
 http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=401:keutamaan-sedekah&catid=27:fadhilat-amal&Itemid=62


 Shadaqah adalah baik seluruhnya, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran shadaqah tersebut. Di antara shadaqah yang utama menurut Islam adalah sebagai berikut:

1. Shadaqah Sirriyah

Yaitu shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shadaqah ini sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:271) Yang perlu kita perhatikan di dalam ayat di atas adalah, bahwa yang utama untuk disembunyikan terbatas pada shadaqah kepada fakir miskin secara khusus. Hal ini dikarenakan ada banyak jenis shadaqah yang mau tidak mau harus tampak, seperti membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan lain sebagainya.

Di antara hikmah menyembunyikan shadaqah kepada fakir miskin adalah untuk menutup aib saudara yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah, bahwa dia orang papa yang tak punya sesuatu apa pun.Ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam ihsan terhadap orang fakir.

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alihi wasallam memuji shadaqah sirriyah ini, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk dalam tujuh golongan yang dinaungi Allah nanti pada hari Kiamat. (Thariqul Hijratain)

2. Shadaqah Dalam Kondisi Sehat

Bersedekah dalam kondisi sehat dan kuat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan tipis harapan kesembuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Shadaqah yang paling utama adalah engkau bershadaqah ketika dalam keadaan sehat dan bugar, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan kau tunda sehingga ketika ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, "Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian." (HR.al-Bukhari dan Muslim)

3. Shadaqah Setelah Kebutuhan Wajib Terpenuhi

Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. 2:219)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Tidak ada shadaqah kecuali setelah kebutuhan (wajib) terpenuhi." Dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik shadaqah adalah jika kebutuhan yang wajib terpenuhi." (Kedua riwayat ada dalam al-Bukhari)

4. Shadaqah dengan Kemampuan Maksimal

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alihi wasallam,

"Shadaqah yang paling utama adalah (infak) maksimal orang yang tak punya. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu." (HR. Abu Dawud)

Beliau juga bersabda,

"Satu dirham telah mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya," Bagaimana itu (wahai Rasululullah)? Beliau menjawab, "Ada seseorang yang hanya mempunyai dua dirham lalu dia bersedakah dengan salah satu dari dua dirham itu. Dan ada seseorang yang mendatangi hartanya yang sangat melimpah ruah, lalu mengambil seratus ribu dirham dan bersedekah dengannya." (HR. an-Nasai, Shahihul Jami')

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, "Hendaknya seseorang memilih untuk bersedekah dengan kelebihan hartanya, dan menyisakan untuk dirinya kecukupan karena khawatir terhadap fitnah fakir. Sebab boleh jadi dia akan menyesal atas apa yang dia lakukan (dengan infak seluruh atau melebihi separuh harta) sehingga merusak pahala. Shadaqah dan kecukupan hendaknya selalu eksis dalam diri manusia. Rasululllah shallallahu ‘alihi wasallam tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuyang keluar dengan seluruh hartanya, karena Nabi tahu persis kuatnya keyakinan Abu Bakar dan kebenaran tawakkalnya, sehingga beliau tidak khawatir fitnah itu menimpanya sebagaimana Nabi khawatir terhadap selain Abu Bakar. Bersedekah dalam kondisi keluarga sangat butuh dan kekurangan, atau dalam keadaan menanggung banyak hutang bukanlah sesuatu yang dikehendaki dari sedekah itu. Karena membayar hutang dan memberi nafkah keluarga atau diri sendiri yang memang butuh adalah lebih utama. Kecuali jika memang dirinya sanggup untuk bersabar dan membiarkan dirinya mengalah meski sebenarnya membutuhkan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan juga itsar (mendahulukan orang lain) yang dilakukan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.” (Syarhus Sunnah)

5. Menafkahi Anak Istri

Berkenaan dengan ini Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Seseorang apabila menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahalanya maka dia mendapatkan pahala sedekah." ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda,

"Ada empat dinar; Satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu." (HR. Muslim).

6. Bersedekah Kepada Kerabat

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha'. Ketika turun ayat,

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai." (QS. 3:92)

Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa Bairuha' diserahkan kepada beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak beliau. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam menyarankan agar ia dibagikan kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi tersebut dan membaginya untuk kerabat dan keponakannya.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam juga bersabda,

"Bersedakah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat maka ada dua (kebaikan), sedekah dan silaturrahim." (HR. Ahmad, an-Nasa'i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Secara lebih khusus, setelah menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan, adalah memberikan nafkah kepada dua kelompok, yaitu:

•             Anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

”(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS. 90:13-16)

•             Kerabat yang memendam permusuhan, sebagaimana sabda Nabi,

"Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzai, Shahihul jami')

7. Bersedekah Kepada Tetangga

Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam surat an-Nisa' ayat 36, di antaranya berisikan perintah agar berbuat baik kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. Dan Nabi juga telah bersabda memberikan wasiat kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,

"Jika engkau memasak sop maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu." (HR. Muslim)

8. Bersedekah Kepada Teman di Jalan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan seseorang untuk kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang diinfakkan seseorang kepada temannya fi sabilillah Azza wa Jalla." (HR. Muslim)

9. Berinfak Untuk Perjuangan (Jihad) di Jalam Allah

Amat banyak firman Allah subhanahu wata’ala yang menjelaskan masalah ini, di antaranya,

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah.” (QS. 9:41)

Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. 49:15)

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Barang siapa mempersiapkan (membekali dan mempersenjatai) seorang yang berperang maka dia telah ikut berperang." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Namun perlu diketahui bahwa bersedekah untuk kepentingan jihad yang utama adalah dalam waktu yang memang dibutuhkan dan mendesak, sebagaimana yang terjadi pada sebagian negri kaum Muslimin. Ada pun dalam kondisi mencukupi dan kaum Muslimin dalam kemenangan maka itu juga baik akan tetapi tidak seutama dibanding kondisi yang pertama.

10. Shadaqah Jariyah

Yaitu shadaqah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

"Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).

Di antara yang termasuk proyek shadaqah jariyah adalah pembangunan masjid, madrasah, pengadaan sarana air bersih dan proyek-proyek lain yang dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Sumber: Buletin “Ash-Shadaqah fadhailuha wa anwa’uha”, Ali bin Muhammad al-Dihami.
###################################################################

Dipetik daripada :
http://sklaiman1.blogspot.com/2010/06/renungan-keutamaan-bersedekah.html

Thursday, June 17, 2010

RENUNGAN - KEUTAMAAN BERSEDEKAH


Semalam saya menziarahi emak saudara yang baru lepas menjalani pembedahan pendarahan usus. Beliau tinggal bersama anak perempuannya di Country Resort, Rawang. Rumahnya besar dan amat selesa. Saya rasa selesa dengan layanan dan keraian daripada anak dan menantunya. Mereka sangat menghormati tamu.

Kebetulan sewaktu menziarahi beliau, ibu sayapun ada bersama untuk menemani beliau. Walaupun usianya sudah menjangkau 86 tahun tetapi, para doktor berani melakukan pembedahan kecemasan untuk mengatasi masalah pendarahan usus selama hamper tiga jam. Lazimnya dalam usia yang sedemikian memang para doktor akan berfikir banyak kali sebelum membuat pembedahan. Ini mungkin disebabkan beliau tidak menghadapi sebarang penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, buah pinggang atau pun lazimnya dihidapi oleh orang zaman moden sekarang.


Apa rahsia yang dapat saya belajar ialah, tabiat beliau sejak dari muda lagi, suka menjamu tetamu dengan makanan serta sangat pemurah orangnya. Beliau akan pastikan tetamunya mesti makan dahulu sebelum beredar. Tambahan pula beliau merupakan tukang masak.

Mari kita renungi mengenai kelebihan bersedekah;

"Bandingan pemberian orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, sama seperti sebiji benih yang tumbuh mengeluarkan tujuh tangkai, setiap tangkai itu mengandungi 100 biji. Dan ingatlah, Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas ( rahmatNya ) lagi meliputi ilmu pengetahuanNya". ( Al-Baqarah : 261 )

DIPANJANGKAN UMUR & MENCEGAH AJAL YANG BURUK
Maksud sabda Rasulullah saw : "Sesungguhnya sedekah seseorang muslim itu memanjangkan umur dan mencegah dari mati dalam keadaan buruk
dan Allah Taala pula menghapuskan sikap sombong dan membangga diri si penderma dengan sebab sedekahnya" ( H.R. Tabrani ) 
 
MENOLAK BALA BENCANA
Maksud sabda Nabi saw : "Segeralah kamu bersedekah, kerana bala bencana itu tidak dapat melangkahi sedekah " ( H.R Al-Baihaqi )

SELAGI PELUANG MASIH ADA…
Dari Abu Hurairah r.a katanya : Seorang lelaki menghadap Rasulullah saw lalu bertanya : Wahai Rasulullah! Sedekah mana satu yang lebih besar ? Nabi saw menjawab : Engkau bersedekah ketika sihat dan sangat sayangkan hartamu; ketika engkau takutkan kepapaan dan berharap
hendakkan kaya-raya. Janganlah engkau bertangguh untuk bersedekah, sehingga apabila nyawa sampai ke kerongkong, barulah engkau berkata : Aku mahu bersedekah untuk si anu.. sekian untuk si anu dan sekian lagi untuk si anu ( H.R Al-Bukhari )

”Dan hendaklah orang yang disempitkan rezekinya bersedekah.” (At Talaq:5)

”Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, bertambah.”(maksud hadis)

Dari Abu Hurairah rodhiallohu‘anhu, ia berkata: Rasulullah sholallahu‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap ruas tulang manusia harus disedekahi setiap hari selagi matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, menolong orang hingga ia dapat naik kendaraan atau mengangkatkan barang bawaan ke atas kendaraannya merupakan sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju ke masjid adalah sedekah dan menyingkirkan aral (rintangan, ranting, paku, kayu, atau sesuatu yang mengganggu) dari jalan juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar rodhiallohu‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Tiap muslim wajib bersedekah. Para sahabat bertanya, "Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?" Nabi saw. menjawab, "Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu Bersedekah." Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?" Nabi saw. menjawab: "Menolong orang yang memerlukankan yang sedang teraniaya" Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi saw. menjawab: "Menyuruh berbuat ma'ruf." Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi saw. menjawab, "Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Sedekah adalah memberikan kebaikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain. Dengan demikian sedekah maknanya luas mencakup seluruh kebaikan, berupa perkataan atau perbuatan.

Dicatat oleh GB SKSS1.
***********************************************************************8
 Dipetik daripada :
 http://rayuan-ramadhan.jim.org.my/blog/di-antara-keutamaan-bersedekah-adalah/

 
1. SEDEKAH MENGHAPUSKAN DOSA
Rasulullah saw bersabda ,  “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmizi, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmizi). Diampuni dosa-dosanya dengan sebab bersedekah di sini tentu sahaja perlu disertai oleh taubat atas dosa yang dilakukan.  Bukan sebagaimana yang dilakukan oleh sebahagian orang yang sengaja berbuat maksiat seperti rasuah, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim dan sebelum melakukan perkara-perkara itu, ia sudah merancang untuk bersedekah agar  dosanya akan terbayar di meudiannya nanti.  Sikap yang demikian tidak dibenarkan kerana ia termasuk dalam kategori merasa aman dari perancangan Allah yang merupakan dosa besar.  Allah swt berfirman , “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al A’raf : 99)

2. MENDAPATKAN NAUNGAN DI HARI AKHIRAT
Rasulullah saw menceritakan tentang 7 jenis manusia yang akan mendapat naungan di suatu hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, iaitu hari akhirat. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah, “Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR Bukhari)

3. MEMBERI KEBERKATAN KEPADA HARTA
Rasulullah saw bersabda, “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR Muslim)
Apakah yang dimaksudkan hartanya tidak akan berkurang?  Dalam ‘Syarah Shahih Muslim’, Imam An Nawawi menjelaskan , “Para ulama’ menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan ungkapan di atas  mencakupi dua perkara . Pertama, hartanya diberkati dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta tersekat  oleh keberkatannya yang bersifat abstrak. Namun ini dapat dirasakan oleh pancaindera dan kebiasaan.  Kedua, jika secara zatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut tersekat oleh jumlah pahala yang diperolehi dan pahala ini akan dilipat-gandakan sehingga berkali ganda banyaknya.”

4. PAHALA BERGANDA-GANDA
Allah swt berfirman , “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS Al Hadid : 18)

5. MENJADI BUKTI KEIMANAN SESEORANG
Rasulullah saw bersabda,  “Sedekah adalah bukti.” (HR Muslim). Imam An Nawawi menjelaskan,  “Iaitu bukti kebenaran imannya. Oleh kerana itu sedekah dinamakan demikian kerana merupakan bukti dari ‘Shidqu Imanihi’ (kebenaran imannya)”.

6. MEMBEBASKAN DARI SIKSA KUBUR
Rasulullah saw bersabda, “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR Thabrani, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib).

 *************************************************************************
 Dipetik daripada :
http://penhijau.wordpress.com/2009/04/15/hadis-keutamaan-bersedekah/

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., ia berkata : “Wahai Rasulullah sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau bersabda : “Kamu bersedekah dan kamu dalam keadaan sehat dan kikir, kamu takut fakir dan mencita-citakan kaya, namun jangan menunda sehingga (nyawamu) sampai di tenggorokan baru kamu katakan : “Untuk Fulan demikian dan Fulan demikian padahal benda itu telah ada pada Fulan.”(HR: Bukhari)

“Dari Aisyah ra. Bahwasanya sebagian isteri Nabi saw. Bertanya kepada Nabi saw. : “Siapakah yang paling segera menyusul engkau?” Beliau menjawab : “Orang yang paling panjang tangannya di antaramu.” Lalu mereka mengambil bambu yang mereka (pergunakan) untuk mengukur hasta mereka, ternyatalah Saudah lah yang tangannya paling panjang. Kemudian kami mengetahui bahwa maksud tangannya panjang adalah sedekah. Dan memang Saudah lah orang yang paling dahulu menyusul beliau, dan ia senang bersedekah.” (HR: Bukhari)

“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “?. Dan orang laki-laki yang mensedekahkan sedekah lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan-tangan.”(HR: Bukhari)
 
“Dari Asma’ ra., ia berkata : Nabi saw. Bersabda kepadaku : “Janganlah kamu menghalangi sedekah sehingga kamu dihalangi rizkimu.” (HR: Bukhari)

“Dari Abadah, ia berkata : Nabi saw. Bersabda : “Janganlah kamu menghitung-hitung maka kamu dihitung-hitung oleh Allah.”(HR: Bukhari)

“Dari Asma’ binti Abu Bakar ra. Bahwasanya ia datang kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : “Janganlah kamu kikir, maka Allah kikir kepadamu, berilah sesuatu menurut kemampuanmu.”
(HR: Bukhari)

“Dari Hudzaifah ra., ia berkata : Umar ra. Berkata : “Adakah di antara kamu sekalian yang halal (yakni mengingat) hadist Rasulullah saw. Tentang fitnah (cobaan)? Hudzaifah berkata : 
“Aku mengatakan bahwa akulah yang hafal (ingat) hadist beliau tentang masalah fitnah sebagimana yang disabdakan beliau.” Umar berkata : “Sesungguhnya engkau seorang yang amat berani mengenai hal ini. Jadi bagaimanakah yang beliau sabdakan?” Aku berkata : 
“Fitnah (cobaan) seseorang terletak pada keluarganya, anaknya dan tetangganya. Fitnah (cobaan) tersebut bisa dihapus dengan mengerjakan shalat, sedekah, serta mengerjakan kebaikan.” Sulaiman berkata : dalam riwayat lain Khudzaifah berkata : “Yang dapat menghapus kesalahan yaitu shalat, sedekah, amar ma’ruf dan nahi mungkar.” Umar berkata : “Bukan itu yang kumaksudkan, tetapi masalah fitnah (cobaan) yang menyebabkan timbulnya kegoncangan bagaikan gelombang besar di lautan.” Hudzaifah berkata : “Aku berkata kepada Umar : “Tidak ada fitnah bagimu, wahai Amirul mu’minin, karena antara engkau dan fitnah bagaikan pintu yang tertutup.” Umar berkata : “Apakah kiranya pintu itu tidak dapat dirusak atau dibuka?” Hudzaifah berkata : “Pintu itu dapat dirusak.” Umar berkata : “Jika pintu itu dapat dirusak tentu tidak mungkin untuk ditutup selama-lamanya.” Hudzaifah berkata : “Aku memberitahukan bahwa memang demikian keadaannya (yakni jika sudah dirusak dan terbuka, tentu tidak dapat ditutup lagi).” Abu Wail berkata : “Kita semua yang pada saat itu dekat dengan Umar merasa takut menanyakan kepada Hudzaifah, lalu siapakah yang menjadi pintunya (yakni siapakah yang sebenarnya yang memulai menimbulkan (fitnah). Kami lalu berkata kepada Masruq : “Bertanyalah kepada Hudzaifah!” Kemudian Masruq bertanya kepada Hudzaifah tentang siapa yang menjadi pintunya, lalu Hudzaifah berkata : “Umar.” Kami berkata lagi : “Jadi Umar telah tahu siapa yang engkau maksudkan?” Hudzaifah berkata : “Ya. Seolah-olah tahunya bahwa sebelum besok itu nantinya akan terjadi waktu malam dulu. Dan hal ini disebabkan aku sudah memberitahukan kepadanya suatu uraian yang tidak mungkin salah.” (HR: Bukhari)

“Dari Hakim bin Hizam ra., ia berkata : Saya berkata : “wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapat engkau tentang sesuatu yang saya lakukan sebagai ibadah pada masa jahiliyah, yakni sedekah, memerdekan hamba sahaya dan silaturahim, apakah berpahala?” Lalu Nabi saw, bersabda : “Kamu telah menyelamatkan kebaikan yang telah lalu.” (HR: Bukhari)

“Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “Apabila seorang perempuan bersedekah dari makanan yang dihasilkan oleh suaminya tanpa membuat kerusakan, maka perempuan itu mendapatkan pahala dan suaminya juga mendapat pahala karena dia yang bekerja. Dan bagi yang menyimpan juga mendapat pahala seperti pahalanya suami isteri itu.” (HR: Bukhari)

“Dari Abu Musa ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “Penyimpan yang muslim yang terpercaya adalah orang yang melaksanakan.” Barangkali beliau bersabda : “Ia memberikan sesuatu yang diperintahkannya dengan sempurna serta jiwanya baik lalu ia memberikannya kepada sesuatu yang diperintahkan oleh salah seorang dari dua orang yang memberi sedekah.” (HR: Bukhari)

“Dari Aisyah ra., ia berkata : Nabi saw. Bersabda : “Apabila seorang perempuan bersedekah dari rumah suaminya tanpa membuat kerusakan, maka perempuan itu memperoleh pahala, suaminya mendapat pahala seperti isterinya dan penyimpanan mendapat pahala, sebab apa yang telah diusahakan oleh suaminya dan sebab apa yang telah dinafkahkan oleh suaminya.” (HR: Bukhari)

Isnin, 14 November 2011

FITNAH....pengundang kemudaratan, pemusnah kesejahteraan..

 Dipetik daripada : 
http://kontaktokoh.multiply.com/journal/item/87
M. Al Khaththath : Fitnah kepada Islam dan Umatnya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “fitnah” berarti perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan beberapa makna seperti daya tarik, wibawa, guna-guna, sihir, godaan, kegaduhan, huru-hara, cobaan, dan ujian.  

Al Quran menggunakan kata “fitnah” (nakiroh) dalam 21 ayat, dan kata “al fitnah” (ma’rifat) pada 6 ayat dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteks ayat.  Salah satu di  antaranya kata “al fitnah” yang disebut sebagai “lebih besar daripada pembunuhan” sebagaimana disebut dalam QS. Al Baqarah 217 (al fitnah akbaru minal qatl).  Allah SWT berfirman:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh… (QS . Al Baqarah 217).

Penulis Fathul Qadir  memberikan makna kata “al fitnah” dalam ayat tersebut antara lain: kekufuran, pengusiran penduduk (Rasulullah da kaum muslimin) al haram, fitnah yang dialami kaum dluafa di antara orang-orang mukmin di Mekkah yang dibinasakan karena mempertahankan agamanya.

Ayat di atas turun setelah pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy yang diutus Rasulullah saw. untuk mengintai pergerakan orang-orang Quraisy di antara Thaif dan Mekkah telah menyerang rombongan Quraisy, menewaskan sebagian orang  Quraisy itu dan menawan sebagian yang lain.  Itu terjadi pada akhir bulan Rajab, salah satu bulan haram.

Kejadian tersebut dijadikan bahan propaganda hitam (black campaign) oleh orang-orang Quraisy dan didukung kekuatan Yahudi untuk memojokkan kaum muslimin.  Namun turunnya ayat tersebut justru memberikan klarifikasi kepada mereka bahwa tindakan pasukan Abdullah bin Jahsy dibenarkan oleh Allah SWT. Penulis tafsir Fathul Qadir mengatakan seolah Allah SWT berfirman: “Wahai kaum kafir Quraisy, kalian sungguh membesar-besarkan perang di bulan haram, padahal apa yang kalian lakukan berupa menghalang-halangi orang yang ingin masuk Islam; kalian kufur kepada  Allah; dan kalian menghalang-halangi ornag masuk masjidil Haram; maupun kalian mengusir para penduduk al haram dari kota tersebut; semua itu lebih besar haramnya di sisi Allah”.  

Dengan demikian fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin karena  agama mereka dan dimaksudkan untuk memutuskan hubungan mereka dengan agama mereka.  Fitnah inilah yang akan terus dilancarkan oleh orang-orang kafir hingga kaum muslimin murtad, yakni meninggalkan Islam dan kembali kepada kekufuran (QS. Al Baqarah 217). 

Fitnah inilah yang kini dilancarkan dalam bentuk terror dan serangan militer oleh Israel, Amerika, Rusia, dan negara-negara kafir lainnya atas kaum muslimin di Palestina, Irak, Afghanistan, Checnya, Rohingya, Pattani, Moro, Kashmir, dan bagian dunia Islam lainnya. 

Fitnah inilah yang dilancarkan oleh antek-antek AS dan sekutu baratnya di seluruh dunia Islam, termasuk di Indonesia,  kepada para pejuang Islam yang bergerak dengan berbagai macam bentuk organisasi dakwah dan harakahnya.  Cap-cap fitnah untuk menghancurkan perjuangan penegakan syariat Islam dan para pejuangnya telah dibuat dan disebarkan: ekstrimis, fundamentalis,  radikalis, anarkis, teroris, preman berjubah, dan berbagai cap buruk lainnya.  

Upaya pembubaran dan pemberangusan dengan berbagai alasan pun mereka lakukan. Dalam kasus terror opini dan politik untuk membubarkan FPI baru-baru ini mereka mempropagandakan kasus Banyuwangi sebagai kekerasan FPI yang layak dibubarkan. Tentu tujuannya adalah agar tidak ada umat lagi yang punya kekuatan untuk menggerakkan amar makruf nahi mungkar dan tidak ada lagi yang berani berjuang untuk mengembalikan kedaulatan syariat Allah di bumi pertiwi ini.   

Kiranya Allah mengingatkan kepada kita terhadap QS. Al Baqarah ayat 217 di atas. Dengan memahami konteks ayat di atas, kita bisa menyatakan bahwa: “Segala makar yang mereka buat untuk menghapus gerakan Islam dan perjuangan untuk menegakkan syariat Allah di bumi pertiwi ini jauh lebih besar dosanya daripada berbagai tindakan “anarkis” yang dilakukan oleh anggota FPI dan ormas-ormas Islam lainnya yang selalu mereka besar-besarkan sambil melupakan anarkisme yang extra ordinary yang dilakukan oleh para pendukung calon pilkada yang kalah sebagaimana kasus Tuban dan Mojokerto maupun berbagai anarkisme yang dilakukan berbagai kelompok lainnya”.

Kiranya FPI dan berbagai ormas Islam lainnya, para ulama, habaib, pimpinan pondok pesantren, majelis-majelis taklim, dan berbagai simpul umat Islam wajib mencatat siapa-siapa yang terlibat di dalam membuat fitnah kepada Islam dan umat Islam di negeri ini untuk disikapi secara bersama dan proporsional. Agar tidak ada lagi fitnah-fitnah keji tersebut dan umat Islam bisa menjalankan syariat agamanya dengan tenang. Wallahua’lam!
**************************************************
Dipetik daripada :
http://www.facebook.com/notes/dakwah-semua-umat/fitnah-dan-ciri-ciri-dajjaal/128733634558

Fitnah dan Ciri-ciri Dajjaal

by Dakwah Semua Umat on Monday, 07 September 2009 at 02:52
Kita sekarang berada di akhir zaman. Kiamat sudah dekat. Salah satu tanda kiamat adalah munculnya Dajjaal. Ada Dajjaal yang sebenarnya sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dan ada pula anak buah Dajjaal atau orang-orang yang memiliki karakter seperti Dajjaal. Keduanya senantiasa menimbulkan fitnah, kerusakan, dan penyesatan. Proyek perusakan dan penyesatan mereka, kadang begitu gamblang menyolok mata. Kadang dibungkus dengan berbagai macam alasan yang masuk akal.


Bagi umat Islam yang memahami Islam atau belajar tentang Islam, pasti mendengar berita tentang Dajjaal. Karena hadits yang membicarakan tentang Dajjaal sangat banyak dan kebenaran beritanya sampai ke tingkat mutawattir (periwayatan hadits yang disampaikan oleh orang banyak dari satu generasi ke generasi berikutnya). Dan hadits mutawwatir dipastikan kebenarannya dan tidak ada yang mengingkarinya dari kalangan ulama.


Datangnya Dajjaal yang kemudian berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa a.s., merupakan salah satu tanda-tanda dari hari kiamat. Bahkan Nabi Isa a.s. bukan hanya membunuh Dajjaal, tetapi menghancurkan salib dan memerangi orang-orang kafir. Nabi Isa a.s. pada saat itu menjadi pemimpin yang adil dan mengikuti syariat Nabi Muhammad saw. Berita tentang turunnya Dajjaal dan Nabi Isa a.s. adalah aqidah yang harus diyakini oleh umat Islam secara keseluruhan, karena bersumber dari hadits shahih dari Rasulullah saw.


Begitu besarnya bahaya fitnah Dajjaal, sampai Rasulullah saw. memerintahkan kepada umatnya untuk senatiasa berdoa dalam setiap shalat agar terbebas dari fitnah tersebut. Beliau bersabda, “Jika kalian membaca tasyahud, maka berlindunglah dari empat hal, yaitu berkata: ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah al-Masih ad-Dajjaal.’” (HR Muslim)


Arti Dajjaal


Dajjaal menurut bahasa berasal dari kata dajala, berarti berdusta dan menutup. Dajala haq bil batil artinya menutupi atau mencampuradukkan yang hak dengan yang batil. Disebut dajjaal karena menutupi kebenaran dengan kata-kata dustanya. Dajjaal berarti seorang yang sangat pendusta dan menutupi kebenaran. Sedangkan Dajjaal yang disebutkan dalam hadits adalah satu mahluk khusus sebangsa manusia yang akan muncul di hari-hari menjelang kiamat, memfitnah manusia, dan mempunyai karakteristik khusus.


Hadits-hadits tentang Dajjaal


Disebutkan dalam hadits- hadits Rasulullah saw.:


“Selain Dajjaal lebih aku takuti atasmu dari dajjaal. Jika Dajjaal keluar dan aku berada di hadapan kalian, maka aku melawannya membela kalian. Tetapi jika ia keluar dan aku tidak di antara kalian, maka setiap orang membela diri sendiri. Allah akan melindungi setiap muslim. Dajjaal adalah pemuda berambut keriting, mata (kirinya) menonjol, seperti saya umpamakan dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Siapa yang menjumpainya, maka bacalah awal surat al-Kahfi. Dajjaal akan keluar di antara jalan Syam dan Irak. Berjalan membuat kerusakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah, tetap teguhlah (pada ajaran Islam).” (HR Muslim)


“Setiap negeri pasti didatangi Dajjaal, kecuali Mekkah dan Madinah.” (HR Muslim).


“Mengikuti Dajjaal 70 ribu orang-orang Yahudi dari Asbahan yang memakai topi.” (HR Muslim).


“Setiap Nabi pasti memperingatkan kaumnya dengan si buta pendusta. Ingatlah bahwa Dajjaal adalah buta, dan Rabb kalian Azza wa Jalla tidak buta. Dajjaal ditulis di antara dua matanya k f r (kafir).” (Muttafaqun alaihi).


“Maukah aku ceritakan berita tentang Dajjaal, sesuatu yang pernah diceritakan setiap nabi pada kaumnya. Dajjaal adalah buta, dia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Apa yang dikatakan surga adalah neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi).


“Dajjaal akan muncul pada umatku, maka ia hidup selama 40 (saya tidak tahu apakah 40 hari, atau bulan atau tahun). Kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam, ia seperti Urwah bin Mas’ud. Maka Isa as. mencari Dajjaal dan menghancurkannya. Kemudian Isa tinggal bersama manusia 7 tahun, tidak akan terjadi permusuhan di antara dua kelompok.” (HR Muslim).


“Perang besar, pembukaan kota Konstantinopel dan keluarnya Dajjaal (terjadi) dalam 7 bulan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Ciri-Ciri Dajjaal


Banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik Dajjaal yang akan datang di akhir zaman. Dan dari beberapa hadits di atas dapat disimpulkan tentang sifat dan karakteristik Dajjaal adalah:


¨ Mahluk dari bangsa manusia keturunan Yahudi.


¨ Ciri khas fisiknya: berambut keriting, mata kanannya buta, mata kirinya menonjol, di antaranya tertulis kafir.


¨ Senantiasa berdusta dan menipu manusia agar menjadi kafir dan menjadi pengikutnya.


¨ Aktivitasnya membuat kerusakan di bumi.


¨ Pengikut setianya orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir.


¨ Senantiasa keliling dunia, kecuali Mekkah dan Madinah.


¨ Datang membawa keajaiban yang dapat menyihir dan menipu manusia, dengan harta, kekuasaan, dan wanita.


¨ Dajjaal akan berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa a.s.


Namun, di samping Dajjaal yang sebenarnya, Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya akan bahaya orang-orang yang memiliki sifat Dajjaal. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. bersabda : “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai munculnya Dajjaal-Dajjaal pendusta sekitar 30 orang, semuanya mengaku utusan Allah.” (HR Muslim).


“Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajjaal, yaitu para pemimpin yang sesat.” (HR Ahmad).


Fitnah Dajjaal


Dajjaal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang beriman menjadi sesat dan kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjaal yang sebenarnya, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjaal. Oleh karena itu umat Islam juga harus mewaspadainya. Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat berbahaya karena datang pada setiap tempat dan waktu. Sedangkan Dajjaal akan datang hanya menjelang hari kiamat. Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjaal tingkat bahayanya lebih kuat dari Dajjaal yang sebenarnya. Namun keduanya adalah fitnah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim.


Para pemimpin di sepanjang masa selalu ada yang menjadi musuh para nabi dan para dai yang mengajarkan kebenaran. Dari mulai Raja Namrud, Fira’aun, dan Abu Jahal, sampai pemimipin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang membantai dan menghancurkan negeri muslim, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang menimbulkan fitnah, menebar kesesatan, dan membuat kerusakan di dunia.


Fitnah Dajjaal, baik yang sebenarnya maupun para pemimpin yang memiliki sifat Dajjaal, adalah bahaya laten yang harus dihadapai umat Islam. Fitnah Dajjaal membuat umat Islam menjadi sesat dan kafir. Dan umat Islam dapat saling bunuh karena fitnah Dajjaal tersebut. Dajjaal memutarbalikan fakta, sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram. Fitnah tersebut didukung dengan dana, media masa, dan oknum-oknum yang memang telah sesat. Lebih dahsyat lagi Dajjaal didukung lembaga internasional dan negara-negara adidaya.


Fitnah yang paling bahaya dari Dajjaal adalah yang keluar dari mulutnya. Dan fitnah ini didukung media masa dan disebarkan keseluruh penduduk dunia. Masuk ke rumah-rumah keluarga muslim dan menyesatkan mereka. Dajjaal –baik yang sebenarnya atau yang mirip-mirip– senantiasa mengucapkan kata-kata yang membuat manusia sesat dari agama Allah. Dajjaal senantiasa memproduk ungkapan sesat, batil, dan kontroversial. Sehingga kebenaran menjadi kabur dan tidak jelas, sedangkan kebatilan seolah-olah indah dan menarik. Kebenaran selalu ditutup-tutupi dan dibungkus dengan dusta. Syariat Islam dianggap kejam dan tidak manusiawi, sedangkan nilai-nilai sekular dianggap baik, adil, dan paling cocok untuk kehidupan di era modern. Nilai-nilai agama dijauhkan dan direduksi dari kehidupan sosial dan kenegaraan. Bid’ah dianggap sunnah dan sunnah dianggap bid’ah. Umat Islam dicap fundamentalis, ekstrem, dan teroris; sedangkan non-muslim dianggap humanis, baik, dan demokratis.


Apakah Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal?


Disebutkan dalam hadits:


Dari Abdullah berkata, kami bersama Rasulullah saw. maka kami melewati anak-anak, di antaranya Ibnu Shayyaad. Anak-anak lari, sedangkan Ibnu Shayyaad tetap duduk. Seolah-olah Rasulullah saw. tidak suka padanya. Rasuullahl saw. berkata padanya: ”Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw.?” Ibnu Shayyaad berkata: ”Tidak, tapi apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw.“ Berkata Umar, ”Wahai Rasulullah saw., biarkanlah aku membunuhnya.” Rasulullah saw. berkata: ”Jika benar yang engkau lihat (adalah Dajjaal), maka engkau tidak akan bisa membunuhnya.” (HR Muslim)


Rasulullah saw. tidak memastikan bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal yang dimaksud itu, walaupun demikian beliau juga membiarkan dan tidak menafikan ketika sebagian sahabat bersumpah bahwa dia adalah Dajjaal. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah Ibnu Shayaad adalah Dajjaal? Memang ketika Rasulullah saw. menyebutkan sifat-sifat Dajjaal yang akan muncul menjelang hari kiamat, di antaranya bahwa Dajjaal adalah kafir dari keturunan Yahudi, tidak akan memasuki Mekkah dan Madinah, dan tidak punya anak. Sedangkan Ibnu Shayaad mengaku muslim, walaupun dari keturunan Yahudi. Dia lahir di Madinah, mempunyai orang tua, dan punya anak. Dan Ibnu Shayyaad sempat berangkat haji menuju Mekkah bersama Abu Said al-Khudri.


Ilmu secara pasti tentang Ibnu Shayyaad Dajjaal atau bukan, hanyalah Allah yang tahu. Tetapi dari isyarat Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya, maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa Ibnu Shayyaad salah seorang yang memiliki sifat Dajjaal. Dia ahli sihir, dukun, dan mengaku banyak tahu tentang masalah ghaib. Sehingga, ketika sebagian sahabat bersumpah, diantaranya Umar bin Khattab bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjaal, Rasulullah saw. tidak menafikannya. Wallahu Alam.


Kiat-kiat Menghadapi Fitnah Dajjaal


Untuk menghadapi fitnah Dajjaal, maka umat Islam harus berjihad melawan kebatilan. Ulama harus menjelaskan kepada umat antara yang hak dengan yang batil agar mereka tidak menjadi bingung dan tidak tersesat. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya jihad adalah perkataan yang benar pada penguasa yang sesat.” (HR Ahmad).


Seluruh bentuk fitnah harus dilawan oleh umat Islam. Fitnah kemusyrikan, fitnah pelecehan terhadap kehormatan Nabi saw., fitnah pembunuhan, fitnah pornografi dan pornoaksi, fitnah pelecehan terhadap Islam dan umat Islam, dan fitnah lainnya. Dan fitnah itu harus dilawan dengan semua bentuk kekuatan yang dimiliki dan bisa dimiliki umat Islam sehingga Islam menjadi ajaran yang eksis di muka bumi ini. Allah swt. berfirman: ”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39).


Sedangkan kiat praktis yang harus dilakukan oleh umat Islam, yaitu senantiasa membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya. Khususnya surat Al-Kahfi. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang hapal 10 ayat pertama surat al-Kahfi, maka dia selamat dari Dajjaal” (HR Muslim).


 Dipetik daripada :

http://sejarahstpm.blogspot.com

Sunday, 24 April 2011

Fitnah dan Hasutan Dalam Sejarah Pemerintahan Empayar Islam : Satu Tinjauan Ringkas

image SEJARAH kejatuhan dan keruntuhan negara atau empayar Islam sepanjang zaman di mana-mana sahaja adalah berpunca daripada faktor fitnah, hasutan dan adu domba sesama sendiri.
Penghasutnya adalah bijak pandai daripada kalangan mereka, termasuk golongan yang mendakwa dirinya sebagai ahli agama. Hukum-hakam agama adalah alat yang paling berkesan bagi maksud tersebut.
Perkataan hasut membawa erti cocoh, acum, batu api, agitasi dan sebagainya. Dalam bahasa agama disebut fitnah. Semuanya memberi maksud tuduhan jahat yang diada-adakan atau memanjangkan berita buruk yang tidak benar bertujuan kecelakaan dan kemusnahan.
Hasutan fitnah ini sudah wujud sejak zaman Nabi lagi yang dikepalai oleh Abu Jahal dan Abu Lahab. Pada zaman Khulafa Rasyidin pula hanya Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sahaja yang mati dalam keadaan biasa. Tiga khalifah yang lain, Umar, Uthman dan Ali semuanya syahid dibunuh oleh penjahat-penjahat yang menerima hasutan.
Peristiwa Majlis Tahkim yang berslogankan tidak ada hukum melainkan daripada hukum Allah adalah peristiwa pembohongan dan penyalahgunaan agama yang paling ketara. Amru Ibnul As mewakili pihak Muawiyah bin Abu Sufian berjaya menggunakan helah politik bagi memperdaya Abu Musa al-Asyaari yang mewakili pihak Khalifah Ali.
Khalifah Ali amat kecewa dan kesal dengan perundingan itu dan merasai dirinya dan orang ramai tertipu dengan slogan tersebut. Beliau memberi komentar dengan ucapannya yang masyhur: `Kata-kata itu benar, tetapi maksudnya adalah batil'.
Berikutan daripada peristiwa Tahkim itulah akhirnya Khalifah Ali dibunuh, runtuhnya kerajaan Khulafa Rasyidin, lahirnya kelompok politik (firqah) dalam masyarakat Islam dan lahirnya kerajaan Umayyah, iaitu kerajaan Islam yang sah yang diterima oleh majoriti umat Islam pada waktu itu.
Perang Jamal (36H/656M) merupakan perang saudara pertama dalam masyarakat Islam yang dicetuskan oleh segelintir penghasut yang tidak senang dengan pemerintahan Khalifah Ali. Peperangan ini yang berlaku di sekitar bandar Basrah telah mengorbankan kira-kira 10,000 umat Islam. Antaranya ialah Talhah bin Ubaidullah dan az-Zubir bin al-Awwam, dua sahabat termulia dan terkemuka di sisi Nabi dan antara sepuluh sahabat yang dijanji mendapat syurga.
Sayyidatina Aisyah, isteri Nabi, juga terlibat dalam peperangan ini yang berakhir dengan kekalahan dan ditawan oleh Khalifah Ali. Dia dilayan baik oleh Khalifah Ali dan kemudiannya dihantar balik ke Madinah.
Setahun kemudian, berlaku pula Perang Siffin antara Khalifah Ali bin Abi Talib dengan Muawiyah bin Abi Sufian. Muawiyah kalah dalam peperangan ini, tetapi menang di meja perundingan.
Amru Ibn al'As bagi pihak Muawiyah telah membuat helah politik mengajak pengikut-pengikutnya menjulang al-Quran di hujung pedang menyeru gencatan senjata dan kembali berhukum dengan hukum Allah. Orang ramai tertipu dengan helah tersebut.
Banyak tragedi yang menyayat hati berlaku selepas itu. Antaranya yang paling sedih ialah peristiwa pembunuhan ramai sahabat Nabi terkemuka, termasuk dua cucunya Hasan dan Husein, putera-putera Siti Fatimah binti Rasulullah. Kesan buruknya berlarutan sehingga hari ini.
Semua permusuhan dan pembunuhan adalah atas nama Islam. Masing-masing dilemparkan tuduhan kononnya tidak melaksanakan keputusan dan pentadbiran menurut ajaran Islam sebenar. Khalifah Uthman dituduh mengamalkan kronisme dan nepotisme serta menyalahgunakan wang negara (Baitulmal). Khalifah Ali yang merupakan sepupu dan menantu Nabi sendiri pun terpalit dengan tuduhan seumpama itu seperti kononnya Khalifah Ali terlibat dengan pembunuhan Khalifah Uthman dan menyokong pemberontak. Kesannya Khalifah Ali kemudiannya syahid dibunuh oleh pembunuh upahan Khawarij.
Muawiyah kemudiannya berjaya mendirikan kerajaan Islam yang baru di atas keruntuhan kerajaan Khulafa Rasyidin. Pusat pentadbirannya berpindah dari Madinah ke Damsyik (Syria).
Kerajaan Umayyah juga tidak terlepas daripada gerakan penghasutan dan agitasi daripada musuh-musuh politiknya sesama Islam. Musuh paling utama ialah Khawarij dan Syiah. Gerakan perseteruannya paling keras dan amat sengit. Orang ramai keliru dengan propaganda mereka, kerana pemimpin mereka adalah terdiri daripada sahabat-sahabat yang hafaz al-Quran dan banyak menyimpan hadis.
Akhirnya, setelah kira-kira 90 tahun memimpin negara Islam, kerajaan dari keluarga Umayyah pula menerima nasib yang sama seperti kerajaan Khulafa Rasyidin. Kerajaan ini digulingkan oleh keluarga Bani Abbas dan golongan Syiah secara paksa hasil daripada gerakan mereka yang sangat lama.
Kerajaan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad (Iraq) ditubuhkan selepas keruntuhan kerajaan Umaiyyah dan kerajaan-kerajaan Islam lain yang didirikan kemudian juga tidak terlepas daripada kejadian-kejadian yang sadis dan kejam. Ramai khalifah, gabenor dan ulama dibunuh dengan zalim dan menyayat perasaan.
Ajaran Islam adalah jelas. Islam tiada caacat celanya. Yang cela adalah penganutnya yang terpesong. Allah memerintahkan umat Islam supaya menyatukan barisan dan menghindar diri daripada perpecahan. Ditegah sama sekali benci-membenci, cerca-mencerca, pulau-memulau dan menumpahkan darah. Malangnya perintah seumpama itu tidak dipatuhi. Umat Islam terus-menerus berkelompok dan bercerai-berai. Paling malang apabila hukum-hukum agama dijadikan senjata bagi maksud tersebut.
Berlakunya demikian adalah kerana kesilapan mereka yang terlibat terutama para penyokong yang fanatik dan ketidakfahaman ajaran Islam sebenar, atau kerana kedegilan sebilangan mereka dan keingkaran terhadap ajaran agama, atau kerana desakan politik dan kumpulan, atau menjaga kepentingan keduniaan melebihi segala-galanya.
Walaubagaimanpun, kita wajar berlapang dada dan menghormati ‘ijtihad’ yang dilakukan oleh para Khalifah Rasyidin dan para sahabat dalam menangani permasalahan pada ketika itu. Cuma penerimaan masyarakat, rakyat serta penyokong terhadap keputusan ketua menyebabkan tindakan dan fahaman yang berbeza-beza telah diambil. Wallahu’aklam.
*********************************************************************

Dipetik daripada :
http://mutiaraislam.wordpress.com/
Ketahuilah bahawa sifat-sifat seperti hasad dengki, sombong, takbur, mengumpat, riak dan membuat fitnah adalah seburuk-buruk dan sehina-hina sifat.  Sifat ini sangat-sangat dibenci oleh Allah SWT.  Jika kita mengumpat, membuat fitnah, mengadu domba diantara kawan, keluarga, sudah pasti akan menjadi kucar kacil dan huru hara hubungan diantara manusia.  Sifat-sifat ini tidak dipandang ringan oleh agama kita ia itu Islam.  Ianya dikategorikan sebagai dosa-dosa besar kerana perlakuan sedemian umpama membunuh rakan atau saudara sendiri.
Firman Allah SWT dalam surah “al-Baqarah” – ayat 191 yang bermaksud:

“….. dan perbuatan fitnah itu lebih dasyat kesannya dari perbuatan membunuh …..”

Kita mengakui bahawa setiap insan itu mempunyai keaiban dan kesalahan yang telah dilakukannya.  Maka keaiban itu tidaklah patut dihebah-hebahkan kerana kalau dihebahkan bermaksud kita telah mengaibkan diri sendiri.  Umpat-mengumpat diantara kaum Islam masih berluas-luasa berlaku sejak berzaman hingga ke hari ini dan mungkin berterusan, umpamanya masih terdapat mereka-mereka yang selepas bersolat di masjid-masjid atau surau-surau melakukan perkara-perkara seperti mengumpat sesama sendiri terutama ketika besembang di gerai-gerai atau warong sebelum pulang kerumah.  Adakala apabila timbul isu politik, mereka lah orang yang bijak didalam bidang itu mengalahkan orang politik.  Apabila terlalu jauh membicarakan hal-hal yang tidak bergitu diketahui betul atau tidak perkara yang dibincangkan maka terjadilah perbuatan memfitnah orang-orang yang berkaitan.
Itupun baru hal-hal dengan cerita di warong, lagi bertambah teruk apabila membuat fitnah dan mengumpat didalam internet atau di laman-laman blog.  Kadang-kadang kita terbaca bahawa umpat-mengumpat dan memfitnah di dalam laman blog tidak memberi apa-apa faedah kepada yang berbuat perkara tersebut.  Ianya seakan-akan sedap membicarakan perkara yang diada-adakan atau perkara-perkara yang tidak diketahui sebenar-benarnya. Bukankah perkara ini di kategorikan sebagai fitnah.
Oleh itu, jauhkan umpat-mengumpat kerana ia adalah sifat orang yang jahat dan rosak akhlak, ia sudah semestinya tidak layak diamalkan oleh orang Islam yang beriman. Tiada gunanya orang-orang yang mentaati suruhan Allah SWT seperti mengerjakan solat, berpuasa dan menurut perintah Allah SWT tetapi masih terus membuat fitnah dan umpat-mengumpat sesama kuam Islam sendiri.
Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjauhkan buruk sangka, kerana buruk sangka itu setengah daripada dosa besar, janganlah kamu mengintai dan janganlah kamu mencerca serta mengumpat, setengah kamu akan setengah lain.  Apakan kamu suka memakan dangging saudara kamu yang telah mati?  Nescaya kamu takut kepada Allah bahawasanya Allah itu Penerima taubat”.

(Surah “al-Hujurat: Ayat 12)
Ayat diatas menjelaskan bahawa umat Islam dilarang menyimpan hasad dengki didalam hatinya keatas saudara-saudara Islam yang mendapata nikmat kerniaan daripada Allah SWT apatahlagi mengumpat saudara-saudaranya sendiri.  Perbuat ini terlalu keji disisi Allah SWT.  Allah SWT telah berjanji akan memasukkan umatNya yang mengumpat, memfitnah bangsa sendiri, negara dan sebagainya ke neraka jahanam sekiranya mereka ini tidak sempat memohon apun dan bertaubat kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W. bersabda, mafhumnya:

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya shaja dan meimanannya itu meresap kedalam hatinya, janganlah kamu mengumpat kaum Muslimin, janganlah pula menjejaki keburukan mereka, sesiapa yang menjejaki keburukan mereka maka Allah SWT akan menjejaki keburukannya dan barangsiapa yang dijejaki kerburukannya oleh Allah SWT maka Allah SWT akan menyingkap keaibannya sekalipun ia berada di dalam rumah”.

(Riwayat: Abi Barzah al-Aslami R.A.)
Hadis diatas menyatakan bahawa sifat hasad dengki itu tidak memberi faedah langsung kepada yang melakukannya, melainkan dendam dan perbalahan yang akan menjauhkan perpaduan.  Oleh itu jauhkanlah sifat hasad dengki, fitrah memfitnah.  Orang yang hasad dengki membakar diri dan hatinya.  Hasad dengki tidak boleh dipadamkan melainkan kebaikan dan ketaatan diri kepada Allah SWT sahaja.  Memfitnahkan saudara sendiri adalah dilarang oleh Islam sama sekali.  Hendaklah kita hindarkan daripada terus menerus melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT.
Kita seharusnya menjaga lidah kita supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang dilarang dan dilahnati oleh Allah SWT.  Janganlah kita membuat fitnah terhadap sesiapapun sama ada mereka itu saudara kita ataupun tidak tetapi haruslah diingatkan bahawa kesuluruh umat Islam adalah bersaudara yang datang dari satu kaum.  Sebab itulah Islam melarang umatnya memfitnah sesama Islam dan bukan hanya itu sahaja, kita sepatutnya menjauhi daripada mendengar perkara-perkara fitnah yang disampaikan oleh orang lain.
Oleh itu, jauhilah dari membuat perkara-perkara yang dilarang oleh Allah SWT seperti membuat fitnah, mengumpat, mengutok dan menaruh hasad dengki terhadap saudara sendiri mahupun orang lain.
Kita telah diberi nikmat oleh Allat SWT maka hendaklah kita bersyukur kepadaNya.  Janganlah kita bersifat besar hati dan takbur kerana Allah SWT berkuasa mengambil kembali nikmat yang telah diberikanNya kepada kita.  Bersifat takbur itu adalah salah satu daripada satu cara Allah SWT boleh menghilangkan nikmatNya dari kita.  Ingatlah Allah SWT tidak suka kepada orang yang bongkak dan takbur.
Firman Allah SWT dalam surah “al-Nahl” : ayat 23 yang bermaksud:

“Bahawasanya Allah SWT tidak suka kepada orang yang bersifat takbur”.

Janganlah kita lupa diri kerana banyaknya nikmat Allah SWT yang telah kita terima dan rasa sepanjang hayat kita didunia ini.  Jauhkanlah perkara-perkara yang boleh membawa kepada pergaduhan, kerana kita sebagai umat Islam adalah bersaudara dari satu agama dan keturunan.
Kepada kita yang pernah melakukan perkara-perkara yang di larang ole Allah SWT hendak lah segera bertaubat kerana takut sekiranya kita tidak sempat bertaubat kepada Allah SWT dan memohon ampun kepadanya maka kita dimasukan ke neraka.

~ oleh lokmanhashim di April 4, 2010.
**************************************************

Dipetik daripada :
http://bengkelrohani.blogspot.com/2010/11/budaya-fitnah-menghancurkan-umat-islam.html

Wednesday, November 17, 2010

Budaya Fitnah Menghancurkan Umat Islam

Firman Allah S.W.T. bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6) Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu. Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu. Bahkan ada juga segelintir yang sampai ke tahap melabelkan orang sebagai fasik, munafik, yahudi, kafir dan ahli neraka..! Seolah2 merekalah yang paling baik dan dijanjikan untuk masuk syurga. Sedangkan jaminan seseorang itu masuk ke syurga hanyalah dengan RAHMAT ALLAH.
Kita tak tahu andaikata di akhir hayat seorg pencuri atau pelacur itu entah-entah dia sudahpun insaf sedang menuju ke arah masjid utk bertaubat tp mati kemalangan di dlm perjalanan. Di mulut kita pantas meluncur kata "Tengok tu, di dunia buat dosa, mati pun Tuhan hina!" sedangkan di waktu itu kita tidak tahu entah2 sang malaikat sedang mengukur jarak drp tempat mati beliau ke masjid lebih dkt berbanding tempat maksiat yang ditinggalkannya itu. Kita ambil iktibar juga kisah pelacur memberi minum air kpd anjing (yg telah diabadikan dlm video klip maher zain the chosen one (2:13), yg saya rasakan sbg video klip terbaik utk kurun ini).


Sila ambil perhatian... Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu. Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.

Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri penyebar fitnah dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah menjadi muflis di akhirat nanti. MAKA SIA-SIALAH SEGALA AMAL IBADAT SEMBAHYANG, PUASA, BERZAKAT, HAJI dll.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12). Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu laporan palso dan berita yang berunsur fitnah.

Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu. Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah Saidina Uthman bin Affan yang berpunca daripada FITNAH.

Penyebaran fitnah turut menjadi faktor kehancuran dan penyebab kepada perselisihan malah telah mencetuskan peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali. Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Ibn katsir di dalam Bidayah wan Nihayah, jumlah korban Perang Jamal ialah 10,000 orang manakala Perang Siffin ialah 60,000 orang. Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah.

Bagi yang diuji dengan fenomena hebah dan fitnah ini, antara cara yang turut dicadangkan oleh nabi Muhammad SAW ialah duduk diam sahaja. Ini berdasarkan sepotong hadith sahih riwayat Bukhari dan Muslim seperti berikut:
انها ستكون فتنة القاعد فيها خير من القائم و القائم خير من الماشي و الماشي خير من الساعي
Sesungguhnya akan terjadi fitnah, orang yang duduk (diam) adalah lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri adalah lebih baik daripada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan adalah lebih baik daripada orang yang berlari.

Ketika berlakunya gejala fitnah, khususnya selepas pembunuhan Saidina Uthman, ramai para sahabat yang mengambil sikap berdiam diri sahaja tanpa menyebelahi mana-mana pihak bagi mengelakkan diri daripada terjebak dalam gejala fitnah. Ini termasuklah Zubair bin al-Awwam serta Abdullah bin Khabab. Ini merupakan tindakan yang betul. Dalam masa yang sama, ada juga yang terpaksa mengharungi dan berhadapan dengan fitnah tersebut, seperti yang dilakukan oleh Saidina al-Hasan. Tindakan beliau bukannya salah, kerana beliau tidak membalas fitnah dengan fitnah, akan tetapi fitnah itu dibalas dengan hikmah, walaupun akhirnya diri beliau yang terpaksa menjadi korban.
Bayangkan berapa puluh tahun fitnah drpd zaman Saidina Uthman berpanjangan sehingga membawa terbunuhnya Saidina Hasan cucu kesayangan Nabi. Betapa maha besarnya dosa yang perlu ditanggung oleh si pembuat fitnah dan juga oleh penyampai2 fitnah. Begitulah juga besarnya dosa orang yang mereka2 cerita dan membuat fitnah di laman sosial dan blog, lalu diperpanjangkan oleh pembaca blog dan status beliau, samada dengan sengaja ataupun tanpa niat (sekadar berbual kosong berkongsi apa yg dibaca di laman sosial) selagi mana fitnah itu berjalan maka selagi itulah dosa akan ditanggung oleh pembuat fitnah dan juga si penyampai, bayangkan kalau cerita palsu itu berpanjangan sehingga ke anak cucu..! Wal-'iyazubillah..

Oleh yang demikian, sekiranya kita menjadi mangsa fitnah, lalu kita membalas dendam dengan melakukan fitnah yang serupa, percayalah bahawa tindakan itu adalah satu kesilapan besar dan tidak langsung menyelesaikan masalah. Kita mungkin puas memfitnah orang lain dalam ucapan dan tulisan kita dalam blog ataupun laman sosial sebagai contohnya, akan tetapi tulisan itu akan terus kekal diingati sama seperti kekal degilnya sikap kita yang enggan memaaf dan melupakan kesalahan orang lain bahkan terus menyuburkan lagi sifat mazmumah dan nafsu amarah di dalam diri.

Fikir-fikirkanlah, sebelum menghantar SMS, e-mel ataupun respon di dalam laman sosial seperti Facebook. Lebih dahsyat lagi hingga ke tahap membuat profil palsu di dalam Facebook untuk memburuk-burukkan peribadi individu. Ini bukan ciri-ciri pejuang dan pencinta kebenaran. Jika masyarakat Islam sendiri boleh berselisih dan berperang sesama sendiri kerana fitnah, apatah lagi masyarakat umum? Sudahnya umat Islam jualah yang akan rugi.. Marilah kita mengambil berkat tahun baru hijrah untuk mengubah sikap dan menjauhkan budaya fitnah yang sangat menghancurkan umat Islam ini. Moga2 Tuhan membela para pencinta kebenaran di mana jua mereka berada...
 ********************************************

Dipetik daripada :

http://rapsodeeperjuangan.blogspot.com/2009/06/hadith-pilihan-minggu-ini-kerana-mulut.html

hadith pilihan minggu ini :kerana mulut badan binasa,kerana lidah..??

apakah monyet ini dilatih untuk menjelirkan lidahnya atau ia sudah menjadi tabiatnya??
namun kita mungkin tertawa melihatnya..
gambar hiasan ini cuba memahamkan pembaca
"terhadap kroniknya lidah orang yang berakal
"

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت
, ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
[Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]
salamun salam..entri pilihan hadith minggu ini cuba menyoroti teman2 dengan pemfokusan daripada matan hadith :
فليقل خيراً أو ليصمت
nampak mudah dan lazim didengari bukan?tapi apakah ma'ani yang anda boleh ambil sebagai aplikasi daripada matan hadith di atas??sebagai permulaan sy akan cuba menguraikan ia agar difahami...:bismillahirrahmanirrahim..
Kalimah “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, itu membawa maksud adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu)menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)

Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.

Beliau juga bersabda :
“Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.
Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”. Dalam hal ini maka perkataan yang w.pon mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia baik seorang ulama',profesional atau pon sesiapa pon..
Allah berfirman :
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS.Qaaf : 18)

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.
sekilas pandang,rupa-rupanya lidah yang tidak bertulang ini banyak sekali musibahnya jika tidak benar-benar dikunci daripada terus rakus memakan diri..
sebenarnya TUJUAN di sebalik penulisan yang tidak seberapa ini cuba menyedarkan pembaca terhadap kroniknya isu "apabila semua berhak bercakap"..maka akan ada kesan yang tidak senang malah menjelikkan dan memalukan..saya percaya pastinya teman-teman di luar sana bisa berhadapan dalam situasi sebegini,maka tidak dapat tidak perlu diketahui hak untuk bercakap itu memang tiada penafiannya tetapi apabila ia sudah didasari tanpa adabiyyat berpendapat dalam perkara2 khilaf..maka itulah penyakitnya yang perlu dirawat segera!!
sengaja untuk menyingkap kembali wasiat Asy-Syahid Hassan Albanna dalam cuba meniliti ANCAMAN seorang kader dakwah itu dalam menjaga lisannya sahaja ada 4 iaitu :
Jangan Banyak BERDEBAT - Sebenarnya bukanlah Hasan al-Banna tidak menggalakkan debat.Tetapi hampir kesemua debat ini lebih banyak mengundang parah dan bahaya perpecahan. Sebabnya, pihak yang berdebat itu tidak berbahas dengan ikhlas, berhikmah, beradab dan intelektual.
Mereka mungkin tak menjaga lidahnya daripada memaki hamun, mengeluarkan kata-kata kesat dan semua ini akan menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu dan akhirnya akan menimbulkan pertengkaran yang berakhir dengan perpecahan.
Apabila berlaku lebih banyak perpecahan, maka yang untungnya adalah golongan kuffar yang sentiasa mengintai kelemahan dan meneropong pekung dalaman umat Islam sendiri. Dan, retak-retak perpecahan itulah yang melambatkan kemenangan dakwah Islam.
JAUHI BICARA AIB orang lain -Ada sebab-sebabnya kenapakah kita suka membuka rahsia keaiban orang lain. Kebanyakannya sikap ini bermula daripada perasaan dengki dan iri hati.Lalu, meluap-luaplah perasaan untuk menjatuhkan maruah, imej dan reputasi orang lain di dalam kerjaya mereka misalnya.
Sepotong hadis sbg renungan,Rasulullah s.a.w menyebutkan bahawa, "Barangsiapa yang menutup aib saudara Muslimnya, nescaya Allah s.w.t akan menutup keaibannya di akhirat kelak."
jangan banyak bergurau dan ketawa - Jangan banyak ketawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (zikir) sangat tenang dan tenteram :Menurut beliau, umat yang berjuang itu selalu sibuk bermuhasabah mengenai masalah yang dihadapi oleh umat Islam. Masalah yang membelenggu umat Islam terlalu banyak, sedangkan mereka yang ingin menyelesaikan masalah tersebut tidak ramai.Sekiranya umat Islam banyak bergurau maka sudah pastilah masalah-masalah umat Islam itu tidak mudah diselesaikan. Sebab itulah beliau menyeru kita agar sentiasa bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.
Sabda Rasulullah s.a.w, 'Sesungguhnya Allah s.w.t menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun.' (Riwayat Abu Daud).

elakkan bercakap nyaring - Percakapan yang nyaring dan terlebih kuat banyak mengundang masalah seperti mengundang kemarahan orang dan menyuburkan takbur di hati para penceramah dan pendakwah itu sendiri."Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai." [Luqman: 19].Hal kesantunan bicara ini turut disentuh dalam buku bertajuk Cinta Di Rumah Hasan Al-Banna yang memperihalkan kehidupan rumahtangga Al-Banna sendiri.
maka pada akhirnya di manakah betul dan silapnya kita kalau lisan tidak mampu mengotakan pada amal fardi dan amal dakwi masing-masing..??

berhentilah seketika merenung HATIsebagai tasdiqnya IMAN,LISAN sebagai taqrirnya FAHAM,dan ANGGOTA sebagai amalnya IKHLAS..

CUKUPLAH MENAMBAHKAN DOSA KERANA PERBUATAN SEDAR DIRI SENDIRI..DAN JANGAN BIARKAN IA BERTAMBAH PARAH LAGI..


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu, dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar”(QS al-Ahzab: 70-71)
"فليقل خيراً أو ليصمت"
Sekadar coretan buat renungan bagi mereka yang mahu berfikir...









**************************************************

Dipetik daripada :  http://yusmialfaruqi.blogspot.com/

Isnin, 4 April 2011

BAHAYA FITNAH

ASSALAMUALAIKUM WRMTULLAH WBKTH.


Hadis Huzaifah r.a katanya:
Aku telah mendengar Rasullullah s.a.w bersabda:
"Tidak masuk Syurga orang yang suka menabur fitnah".


HATI adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan Allah sebagai titik untuk menilai keikhlasan dan ketulusan. Di hati lahirnya niat yang menjadi penentu sesuatu amalan diterima sebagai pahala atau sebaliknya.


Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik supaya tidak rosak, sakit, buta, keras dan tidak mati bagi mengelak penyakit masyarakat yang berpunca daripada hati.Sebagaimana yang telah dipesan oleh baginda Rasulullah saw bahawa hatilah yang menentukan kebaikan kepada akhlak yang ditonjolkan.Sekiranya baik,bersih dan hampir hatinya dengan Allah,maka akan lahirlah akhlak yang mahmudah tetapi sekiranya hati jahat,kotor dan jauh dengan Allah maka lahirlah sifat mazmumah.


Kerosakan pada hati membawa kepada kerosakan seluruh nilai hidup pada diri seseorang individu. Penyakit hati yang menyerang kebanyakan kita ialah penyakit fitnah, sama ada menjadi penyebar atau mudah mempercayai fitnah.


Perbuatan fitnah adalah sebahagian perbuatan mengadu-domba yang mudah menyebabkan permusuhan dua pihak yang dikaitkan dengan fitnah berkenaan.


Masyarakat yang dipenuhi budaya fitnah akan hidup dalam keadaan gawat. Sebelah pihak sibuk menyebarkan fitnah dan sebelah pihak lagi terpaksa berusaha menangkis fitnah itu.


Natijah akibat perbuatan itu boleh mencetus persengketaan dan mungkin berakhir dengan tragedi kerugian harta benda dan nyawa. Individu yang suka menyebar fitnah sentiasa mencari kejadian atau berita boleh dijadikan bahan fitnah.
Dengan sedikit maklumat, berita itu terus disebarkan melalui pelbagai saluran yang merebak dengan mudah. Berita sensasi, terutama berkaitan individu ternama dan selebriti mudah mendapat perhatian khalayak.


Justeru, Allah memberi peringatan mengenai bahaya fitnah. Firman-Nya yang bermaksud: "Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya."� (Surah al-Baqarah, ayat 191)


Apabila fitnah tersebar secara berleluasa, ia bermakna nilai agama sudah musnah dalam diri seseorang atau masyarakat. Islam bertegas tidak membenarkan sebarang bentuk fitnah biarpun untuk tujuan apa sekalipun.


Rasulullah SAW bersabda bermaksud:"Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, berleluasa sifat kedekut dan banyak berlaku jenayah."� (Hadis riwayat Muslim)


Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), laman web dan emel membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah.


Teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Penyebaran fitnah melalui SMS yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan.


Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah.


Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya. Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.


Firman Allah bermaksud:"Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan."� (Surah al-Hujurat, ayat 6)


Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu.


Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.


Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu.


Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.


Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:"Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah."(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)


Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.


Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan "dengar khabar" mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar.


Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Menyebarkan berita benar tetap dilarang, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.


Imam Ghazali dalam buku "Ihya Ulumuddin" menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.


Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud:"Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.� (Hadis riwayat Abu Hurairah)


Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud:"Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain."� (Surah al-Hujurat, ayat 12)


Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu.Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.


Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu.Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah juga telah membuktikan kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah.Justeru marilah kita kembali kepada landasan Islam dalam kehidupan kita berhubung sesama manusia. Ubatlah penyakit hati kita dengan memperbanyakkan taubat,menuntut ilmu agama,memperbanyakkan amal soleh dan selalu berzikir kepada Allah.Jauhilah amalan fitnah yang mampu merosakkan agama,bangsa dan negara.